Debat Publik Visi Misi Calon Pilkada Sragen, Yuni-Suroto Komitmen Membalik Stigma Negatif Gunung Kemukus

Debat Pilkada Sragen : Yuni-Suroto Berkomitmen Ubah Citra Negatif Gunung Kemukus. Source bgs/slc

 

FOKUSLINTAS.com – Pasangan cabup-cawabup Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Suroto, mendapat pertanyaan terkait pengembangan objek wisata di Sragen dalam agenda Debat Publik atau Pemaparan Visi dan Misi Calon Pilkada Sragen yang disiarkan secara virtual, Kamis (19/11/2020).

Pada kesempatan itu, salah seorang panelis yang juga Ketua Komisi Kajian MUI Sragen, Muhammad Nursalim, mengungkapkan Sragen mempunyai dua objek wisata yang populer yakni Museum Sangiran serta Gunung Kemukus. Sayangnya, objek wisata Gunung Kemukus selama ini berstigma negatif namun kadung dikenal luas oleh masyarakat.

Nursalim menanyakan visi dan misi Yuni-Suroto terkait Gunung Kemukus jika nanti terpilih menjadi bupati-wakil bupati Sragen.

Menanggapi hal itu, Yuni yang merupakan calon petahana menjawab untuk membalik stigma negatif Gunung Kemukus membutuhkan kerja keras dan niat.

“Belum ada [program] pemerintah yang menyentuh rinci. Kami minta bantuan provinsi dan pusat, masuk KSPN, dapat dana cukup, kita sudah mulai, penataan pintu masuk, wisata air, ecowater park, Sendang Ontrowulan dibuka, makam dijadikan lebih baik agar semua datang ke sana,” jelasnya.

Dia menjelaskan pemerintah pusat juga turut berperan dalam pengembangan Kemukus.

“Itu multiyears tidak mungkin satu tahun. Kami minta jalur Trans Jateng, itu transportasi. Lakukan promosi yang luar biasa, event nasional dan internasional di Kemukus, butuh dukungan masyarakat, pemerintah kabupaten, provinsi, nasional punya peran. Kami optimistis,” kata Yuni.

Kemudian Nur Salim kembali bertanya memungkinkan atau tidak jika Gunung Kemukus dijadikan lokasi model untuk latihan manasik haji, venue manasik haji.

“Jemaah haji dari Sragen itu paling banyak se-Soloraya. Kalau mereka latihan manasik harus ke Semarang dan lainnya,” ungkap dia.

Menjawab hal itu, Yuni menimpali berdasarkan masukan masyarakat, FKUB, MUI, tidak sepakat jika Gunung Kemukus disebut objek wisata religi. Sebab, makam yang ada di sana bukan makam wali.

“Fokus pada pengembangan wisata keluarga, religi diselipkan, sejarah tidak dihapus. Membuat citra negatif dieliminasi, event keagamaan bisa dilaksanakan. Kami [pernah] melakukan event di sana selawatan [bersama] Habib Syech. Muhamadiyah, NU, LDII, kami minta bisa melakukan event di sana. Bisa mengubah image negatif menjadi image religi,” kata Yuni.* (Tim)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *