Kisah Perjalanan dan Asal Usul ‘Ondo Rante’, Disebut Banyak Kiprahnya di Wilayah Pati

Foto: Petilasan pudak Ondo Rante (ist)

 

FOKUSLINTAS.com – Ondo Rante dengan sapaannya saat ini yang akrab didengar penduduk sekitar dengan nama Mbah Kyai Rante selaku Danyang Desa Kalidoro Pati menyimpan banyak misteri kebenaran tentang keberadaan beliau semasa hidupnya.

Masih banyak masyarakat yang bingung dengan nama beliau, ada yang bilang Ondo Rante ada yang bilang Kyai Rante ada juga yang tidak tahu apa-apa tentang keberadaan beliau.

Menurut cerita yang beredar dimasyarakat baik dunia seni ketoprak dan di dunia internet saat ini Mbah Ondo Rante terkenal akan kejelekannya, kekonyolannya, dan kebodohannya seperti yang dilakonkan di seni budaya ketoprak.

Sebut saja nama aslinya “Ki Roro Mangun Harjo”. Beliau sendiri merupakan anak dari bapak Suwardi yang merupakan pedagang kaya.

Waktu muda dulu Ki Roro Mangun Harjo memiliki pekerjaan sehari-hari adalah penjaga atau Bodyguard para pedagang dan para petinggi penting kerajaan Majapahit jaman dulu semasa dengan Sunan Muria untuk melindungi dari para Begal, Rampok, dedemit dan jin-jin kondang jaman dahulu.

Terasa pekerjaan yang di jalani beliau berbau kekerasan dan berat. Kian waktu berlalu akhirnya Ki Roro Mangun Harjo bertobat dan memutuskan untuk berguru pada Sunan Muria, disana beliau bertemu dengan Saridin, Joko Sembung dan kawan-kawan.

Beliau sendiri banyak belajar ilmu agama dari Sunan Muria. Terutama belajar membaca AL-QUR’AN dan menjadi santri di pondok pesantren Sunan Muria.

Sekian waktu berlalu berguru pada Sunan Muria, Ondo Rante Alias Ki Roro Mangun Harjo sudah Katam AL-QUR’AN dua kali. Giliran Sunan Muria akan mengajarkan sebuah ilmu atau ajian kepada muridnya, dan ternyata yang di ajari ilmu itu hanya Saridin seorang.

Suatu ketika saat Saridin sudah memiliki ilmu tersebut, tiba-tiba terdengar kabar kalau Ki Roro Mangun Harjo juga memiliki ilmu tersebut, seketika itu Sunan Muria mendengar kabar berita itu kemudian marah dan mengira Ki Roro Mangun Harjo mencuri Kitab Pusaka milik Sunan Muria.

Seketika itu Sunan Muria memanggil Ki Roro Mangun Harjo. Didepan para santri yang hadir Sunan Muria mengucapkan Sabdanya untuk merantai seluruh tubuh Ki Roro Mangun Harjo, secara ajaib seluruh tubuh Ki Roro Mangun Harjo dililit rantai besi ukuran besar di seluruh tubuhnya. Dari leher, pundak, tangan, dada, perut sampai mata kaki. Kemudian beliau diusir dari pondok pesantren dan disuruh bertapa untuk menebus dosanya.

Sunan Muria menyuruh murid-muridnya untuk mencarikan tempat pertapaan buat beliau. Tak ketinggalan pada waktu itu Jaka Sembung juga ikut mengantarkan beliau.

Setelah mendapatkan tempat, tepatnya sekarang ini di Desa Kalidoro sebelah barat tugu tani dan berada disebelah timur Gereja Persantenan atau di Jl. Kembang Joyo, Pati yang pada waktu dulu masih merupakan hutan belantara belum ada seorang pun yang menjamah tempat tersebut.

Setelah ditinggalkannya Ki Roro Mangun Harjo di tempat tersebut dan para murid Sunan Muria pergi meninggalkannya disitu, masih ada satu orang yang masih tinggal di tempat tersebut dengan menangis tersedu, dia adalah Joko Sembung.

Joko Sembung Berkata:

Joko Sembung: Aku percaya kamu tidak pernah melakukan hal tersebut.

Ki Roro Mangun Harjo: Tidak apa-apa aku di fitnah aku dihukum, aku ikhlas menerima semua ini.

Joko Sembung: Kamu bisa menguasai ilmu tersebut dari mana?

Ki Roro Mangun Harjo: Waktu itu aku sudah mengerti inti dari semua ilmu, aku minta sendiri langsung kepada yang Maha mempunyai dan yang Maha Muasa.

Joko Sembung: Tetapi, rantai yang membelenggu seluruh tubuhmu apa tidak membebanimu saat bertapa?

Ki Roro Mangun Harjo: Tidak apa-apa, misal aku ingin memutus rantai ini dengan sekali kibasan tangan kurantai ini sudah terputus, akan tetapi tidak aku lakukan karena aku ikhlas menerima semua ini. Joko sembung, kamu cepat kembali ke padepokan sebelum yang lain mencarimu.

Joko sembung: “Dengan menangis, meninggalkan Ki Roro Mangun Harjo dan berjalan perlahan menjauh.

Joko Sembung sendiri adalah teman dekat Ki Roro Mangun Harjo. Tidak seperti kisah yang di ceritakan Ketoprak atau cerita masyarakat.

Diketahui, pada tahun 1376 Ki Roro Mangun Harjo alias Ondo Rante mulai pertapaannya. Beliau bertapa hingga 600 tahun hingga akhirnya Moksa bersama dengan rantai besi yang melekat di tubuhnya. Rantai terbuat dari besi dan memiliki pancaran warna kuning keemasan.

Sebelum keberadaan pusaka tersebut ada di bumi ini dahulu ada seorang Resi Sakti mandraguna bernama Resi Mulyo Multiani bertapa dan membuat Keris Pusaka Luk 30 panjang satu meter.

Proses pembuatan Keris Pusaka tersebut memakan waktu 300 tahun dan tempat pembuatnya di atas awang-awang dengan cara dipijit dan di elus-elus. Dengan kesaktian Resi tersebut beliau menarik pancaran tenaga paling kuat untuk di tempatkan ke dalam Keris Pusaka tersebut, dan didapati Ki Roro Mangun Harjo.

Umur Resi Mulyo Multiani sendiri 678 tahun bisa di bilang 7 abad. Selesai membuat pusaka tersebut, kemudian Resi Mulyo Multiani pergi ke gunung Widuri untuk bertapa hingga akhirnya Moksa di tempat pertapaannya tersebut.

Dari mulut ke mulut lama kelamaan nama berubah seiring perkembangan jaman dan logat orang jawa. Nama Ondo Rante berubah menjadi Kyai Rante. Padahal Ondo Rante dan Kyai Rante berbeda orang. Ondo rante atau Ki Roro Mangun Harjo berada di Desa Kalidoro sedangkan Kyai Rante seorang alim ulama besar di Desa Mojo Weji.* (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *