Asal Usul Ki Semar

Ilustrasi

FOKUSLINTAS.com – Anggapan Ki SEMAR di Jaman sekarang hanyalah Mitos atau Cerita dongeng Masa lalu,dan merupakan BUMBU PEMANIS PELENGKAP, dari cerita WAYANG, baik Wayang Orang maupun WAYANG KULIT.
Namun dalam Mitologi Wong JOWO, sudah tertanam dari LELUHUR secara TURUN TEMURUN, hingga saat ini.

Terutama bagi beberapa Golongan SPIRITUAL yang menganut Budaya KEJAWEN,mengatakan dapat merasakan Kehadiran KI SEMAR ketika BERMEDITASI.
Tentang KELAHIRAN,ASAL USUL KI SEMAR bervariai, di beberapa Naskah diantaranya ada
*Di dalam SERAT KANDA
*Di dalam Naskah PARAMAYOGA
*Di dalam Naskah PURWAKANDA
*Di dalam Naskah PURWACARITA

Disini kisah ini saya mengambil dari KISAH PURWACARITA.

Dalam Kisah PURWACARITA, dikisahkan Sang Hyang Tunggal menikah dengan DEWI REKATAWATI, dari perkawinan ini mendapatkan (melahirkan) sebuah mustika sebutir telur yang bercahaya, karena kesal, Sang Hyang Tunggal membanting telur hingga pecah menjadi 3 bagian.

Dari CANGKANG, menjadi ANTAGA
Dari PUTIH TELUR. Menjadi ISMAYA
Dari KUNING TELUR menjadi MANIKMAYA.

Suatu hari Antaga, dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi PEWARIS TAHTA KAHYANGAN, kemudian keduanya berlomba menelan GUNUNG.
Antaga berusaha menelan Gunung tersebut dengan sekali telan, hingha mengakibatkan mulutnya ROBEK, dan MATANYA MELEBAR.

Ismaya, menggunakan cara lain, dengan memakan Gunung sedikit demi sedikit, setelah beberapa hari seluruh bagian Gunung sudah berpindah ke tubuhnya, namun tidak berhasil mengeluarkan gunung tersebut, akhirnya dari situ Ismaya mempunyai tubuh Bulat.
Mengetahui hal ini Sang Hyang Tunggal MURKA, karena melihat ambisi kedua Putranya dan di hukum menjadi pengasuh KETURUNAN MANIKMAYA.
Manikmaya kemudian yang diangkat menjadi Raja Di Kahyangan, BERGELAR BATHARA GURU.

Antaga dan Ismaya turun ke BUMI memakai nama TOGOG dan SEMAR.
Semar kemudian mengabdi pertama kali kepada RESI MANUMANASA, leluhur Para PANDAWA,
Suatu hari Semar di serang 2 ekor HARIMAU berwarna MERAH dan PUTIH.
Kemudian SEMAR memanah kedua Harimau, yang ternyata merupakan PENJELMAAN dari 2 BIDADARI,yang bernama KANISTRI dan KANIRARAS, yang telah di KUTUK.

Kanistri kemudian menjadi istri Semar dan biasa dipanggil KANASTREN.
Sementara Kaniraras menjadi istri Manumanasa, kemudian berganti menjadi RETNAWATI, karena Kakak Manumanasa juga bernama Kaniraras.

Dalam PEWAYANGAN JAWA,Ki Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, GARENG, PETRUK, BAGONG, namun sesungguhnya ke 3 anak itu bukan merupakan anak Kandung,
Gareng merupakan anak dari seorang Pendeta yang terkena
Kutukkan
Petruk merupakan seorang putra Raja bangsa GANDHARWA
Bagong sendiri merupakan Bayangan Ki Semar berkat Sabdo
Sakti Resi Manumanasa.

Semar memiliki fisik yang sangat unik, seolah-olah merupakan PENGGAMBARAN,JAGAD RAYA.
Tubuhnya yang BULAT merupakan simbol BUMI, wajahnya tua tapi mempunyai KUNCUNG seperti anak kecil, simbol dari TUA dan MUDA.
Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki Payudara permpuan,sebagai SIMBOL Pria dan Wanita.

Melansir dari wikipedia, Ia merupakan penjelmaan DEWA, tapi hidup sebagai Manusi (jelata), simbol dari Pimpinan dan Bawahan.
Semar selalu tersenyum, tapi sering meneteskan air mata, sebagai simbol dari Suka dan Duka.

Beberapa Fakta bahwa Ki Semar ada dalam perwujudan manusia dan hadir di tengah masyarakat Jawa tepatnya pada Masa Prabu BRAWIJAYA V, beliau menitis kepada seseorang yang bernama SAPDO PALON.

Sabdo Palon Noyo Genggong menjadi penasehat SPIRITUAL PRABU BRAWIJAYA V, yang memerintah tahun 1453-1478,
Hal ini tidak hanya bisa di jumpai dalam serat DARMA GANDUL saja,melainkan terdapat dalam bait bait terakhir RAMALAN JOYOBOYO(1135-1157).
Telah disebutkan yaitu bait 164 dan 172 yang menggambarkan sosok Putra Batara Indra sebagai berikut:
“Mumpuni sekabehaning laku, nugel tanah Jawa
Kaping pindo,ngerahke Jin, Setan, Kumara Prewangan,
para lelembut ke bawah perintah Saeko proyakinen amba
ntu manungsa Jawa, padha asesanti Tri Sula, Weda, Lan
dhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur, kandherekake Sabdo-
Palon lan Noyogenggong.

*”Nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake liyan.
para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran
wus teko, ratune nyembah kawula, angagem Trisula
Wedha,
Para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane
kaki.
Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang,
genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong gresu
la kuran hiya iku tandhane Kalabendhu wis minger,
Centi wektu jejering Kalamukti, andayani indering jagad
Raya, pada asung bhekti.

Bilih purun lengkap monggo waos Serat Darmagandhul, tertulis semuanya.. Maaf, karena panjang saya tidak menulis keseluruhan isi dari ramalan dari Joyo Boyo.

Semar juga di sebut dengan sebutan MANIKMAYA. Dalam Kawruh Jawa Spiritual diyakini dengan “suara tanpa rupa”.dan disebut juga Mencolo putro dan mencolo putri, artinya bisa berwujud manusia biasa dalam wujud berlainan karena ada istilah menitis, Cokro Manggilingan.

(Eyang Prapto)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *