Hajatan di Sragen Mulai Perketat dan Pengawasan, Melanggar Langsung di Bubarkan

Foto: dok (fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Seiring dengan naiknya status Kabupaten Sragen menjadi zona merah Covid-19, pemkab memperketat aturan di acara hajatan. Tamu hajatan tidak diperbolehkan menyantap menu makanan di lokasi acara hajatan. Hal itu untuk mengurangi waktu kerumunan.

Sekretaris Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Tatag Prabawanto menyampaikan, Pemkab Sragen mengeluarkan standar operasional prosedur (SOP) baru perihal pencegahan dan pengendalian Covid-19 untuk hajatan dan kegiatan masyarakat yang mengumpulkan orang banyak. SOP tersebut sudah mulai berlaku.

Kegiatan seperti hajatan wajib mengurus izin keramaian ke kepolisian setempat dengan dilampiri surat pengantar dan surat pernyataan tanggung jawab bermaterai dari lurah atau kepala desa (Kades). Kemudian, panitia protokol kesehatan wajib membuat rencana kebutuhan protokol kesehatan dengan melibatkan petugas kesehatan setempat.

Petugas kesehatan akan mendatangi lokasi hajatan sebelum pelaksanaan untuk membuat konsep penataan terkait physical distancing. Selain itu, juga memberikan arahan kepada tim protokol kesehatan.

Mengatur jarak antartempat duduk minimal 1 meter dan melakukan penyemprotan disinfektan di area tempat hajatan dengan disaksikan petugas,” jelasnya.

Tatag menambahkan, untuk SOP terbaru ini makanan dan minuman wajib disajikan dalam bentuk kemasan.

”Jamuan makanan untuk tamu wajib dibawa pulang. Jadi selama di lokasi tidak boleh melepas masker. Selain itu, pengambilan dengan sistem drive thru, dengan antrean yang teratur. Sehingga meminimalkan kontak,” terangnya.

Dia menegaskan, pada SOP sebelumnya masih ada celah penularan dengan pemberian hidangan secara piringan atau prasmanan. Namun, dengan SOP ini hidangan harus dibawa pulang. Sehingga lebih minim kontak.

Jika ada pelanggaran protokol, Tatag menegaskan, pasti akan ditindak tegas. ”Kalau temuan pelanggaran, bisa langsung dibubarkan. Tidak harus menunggu dari kepolisian, dari tim kesehatan Covid-19 lainnya bisa membubarkan,” tegas dia.

Sebagai informasi, acara hajatan di Desa Wonorejo, Kecamatan Kalijambe, Oktober lalu menjadi klaster penularan Covid-19. Pengantin perempuan, ibu, dan mertua meninggal secara berurutan sejak beberapa waktu lalu. Selain itu, 113 tamu hajatan harus di-swab, dua di antaranya sudah dinyatakan positif Covid-19.* (Rd-Jp)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *