OPINI: “DASAR PEMALAS”, Konsisten dan Komitmen Itu Baik Jika di Bangun?

Handi Rahmat salah satu Dewan Pembina DPC BPAN LAI Sragen. (Dok/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Kesendirian seringkali melempar seseorang pada dunia antah berantah. Dunia di luar diri mereka. Apa yang berada di hadapannya menjadi terabaikan. Hanya membawa jasad, tapi tidak pikirannya. Itulah cara paling sederhana orang mengimajinasikan sesuatu.

Demikianlah aku. Ketika duduk sendirian, selalu saja ada yang menyelinap dalam pikiran, entah itu soal yang remeh-temeh semacam pengandaian tentang kereta api bawah tanah yang melintang di perut bukit Lancaran atau yang ruwet semacam pertanyaan Seno Gumira Ajidarma, “Terbuat dari apakah kenangan?”

Kadang, imajinasi itu adalah soal tulis-menulis. Kubayangkan bagaimana enaknya jadi penulis yang sudah punya nama. Mereka bisa jalan-jalan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, banyak kenalan, dan yang pasti banyak pengalaman. Betapa bayangan-bayangan macam begitu sungguh menggetarkan. Dengannya, semangat menulis tiba-tiba membubung tinggi.

Lalu, aku pun mulai mengambil bolpoin dan kertas. Menganyam serangkaian kata. Satu paragraf tersaruk-saruk, dua paragraf ngos-ngosan, dan tiga paragraf macet! Sampai di sini aku berhenti. Kertas kusimpan atau kubuang saja. Setelah itu kembali bermimpi, memasuki dunia lain tentang betapa enaknya menjadi seorang penulis.

Diam-diam, dengan berpikir terus-menerus seperti itu, aku berkesimpulan, bahwa terbuai oleh hasil ternyata tidaklah bagus.

Okelah berpikir tentang keenakan-keenakan akan memotivasi kita, tapi bila kebablasan, ia akan gampang membuat kita putus asa. Bahwa sebenarnya komitmen itu dibangun atas kesadaran tentang proses yang panjang.

Bahwa mereka yang bisa keluar masuk kota lain itu merupakan buah manis dari apa yang telah dilakukannya sekian tahun lamanya, bahkan dengan perjuangan yang berdarah-darah pula.

Lalu, jika menulis saja seringkali dipatahkan oleh kemandekan-kemandekan soal paragraf, dari manakah kita akan menuai hasil yang diharapkan? Kita memang aneh, seringkali mengharapkan sesuatu yang sempurna tanpa harus melewati sebuah laku yang rumit.

Kadang aku dilingkupi oleh rasa putus asa. Barangkali aku memang tak cocok jadi penulis. Penulis itu sudah digariskan jalan hidupnya oleh Tuhan, yaitu kemauan yang kuat untuk terus berproses. Sementara aku? Mudah saja dipatahkan masalah-masalah kecil yang sebenarnya tidak sulit mengatasinya jika ada kemauan.

Usia makin tua dan kesempatan kian sempit. Persoalan-persoalan hidup makin banyak pula. Dan yang pasti, kegiatan menulis makin terpinggirkan.

Namun, itu bukan alasan bagi kita untuk menyerah. Paragraf-paragraf itu harus dilanjutkan. Ia akan menemukan bentuk paling baiknya jika dilatih dengan konsisten. Dan itu bisa dilakukan dengan berperang melawan diri sendiri, yaitu diri yang pemalas!

 

( HANDI R )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *