Masjid Al-Riyadh jadi Tempat Persembunyian Soekarno Saat Diburu Belanda, Cek Kebenarannya!

Saksi bisu si bung Besar ketika berjuang memerdekakan Indonesia. Foto: dok

 

FOKUSLINTAS.com – Keberadaan masjid-masjid yang ada di Indonesia tentunya tak bisa dilepaskan dari aktivitas dakwah dan penyebaran Islam. Ada banyak sekali masjid yang bersejarah dan menakjubkan dengan cerita yang juga unik. Salah satunya adalah Masjid Al-Riyadh Kwitang yang akan Boombastis.com bahas di bawah ini.

Terletak di Jakarta Pusat, ternyata masjid ini tercatat dalam sejarah sebagai nadi pergerakan dakwah di tanah Batavia (sekarang Jakarta). Uniknya lagi, perannya bahkan berpengaruh secara nasional karena banyaknya founding father yang ‘nyantri’ di masjid itu. Lebih lengkapnya simak dalam ulasan berikut.

Masjid yang merupakan tempat persembunyian Presiden Soekarno

Di masa penjajahan Belanda, masjid ini adalah saksi perjuangan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Menurut cerita pengurus masjid, selama berbulan-bulan Soekarno bersembunyi di masjid ini dan tak bisa ditemukan oleh para kolonial. Masjid ini sendiri merupakan rumah ibadah yang dibangun oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Sehingga, dalam proses persembunyiannya Soekarno terus berbagi kisah dan ngobrol bersama Habib Ali.

Banyaknya tokoh Indonesia yang pernah nyantri di masjid ini

Sosok Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dengan segala karomahnya membuat orang-orang betah berada di sekelilingnya. Maka, tak heran kalau keilmuan Habib Ali menjadikan dia sebagai guru spiritual para tokoh nasional.

Ada banyak sekali sosok yang pernah nyantri di masjid ini, mereka adalah Presiden Soekarno, KH. Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tempat pertemuan tokoh kemerdekaan Indonesia

Seperti dipaparkan sebelumnya, masjid ini adalah saksi bisu para pejuang untuk memerdekakan Indonesia. Masjid ini adalah tempat di mana para tokoh proklamator melakukan pertemuan.

Habib Ali pun juga berperan sebagai salah satu penasehat dan orang kepercayaan Bung Karno. Selain itu, sikap yang dimiliki Habib Ali pun diikuti jamaahnya. Tanpa persetujuan darinya, rakyat pada waktu itu sulit bergerak. Masjid Ar-Riyadh ini juga satu saksi bisu sebelum dibacakannya teks proklamasi pada pagi hari. Karena, Soekarno menyempatkan sahur di Masjid Ar Riyadh sebelum berangkat memerdekakan Indonesia.

 

Air sumur yang tak pernah kering

Pertama kali berdiri, masjid ini menggunakan kayu sebagai bahan bangunannya, sama seperti rumah belanda. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, bangunan terus direnovasi. Di masjid ini juga terdapat sebuah sumur yang dibuat oleh Habib Ali sebagai tempat berwudhu dan bersuci. Sumur ini sendiri dipercaya berisi ‘air syifa’ yang berarti dapat menyembuhkan suatu penyakit.

Uniknya lagi, tahun 1990-an pernah ada sepuluh orang berjenggot panjang pernah mengunjungi masjid. Menurut cerita semenjak sudah didoakan oleh sepuluh orang itu, sumur tidak pernah mengalami kekeringan sampai sekarang.

Masjid ini masih berdiri sampai sekarang. Ia adalah saksi sejarah di mana para proklamator Indonesia berkumpul dan menyusun strategi agar bisa memerdekakan Indonesia. Salah satu keunikan masjid adalah airnya tak tak pernah mengering sampai sekarang, sekalipun musim sedang kemarau.* (Khisan)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *