Hati-hati! Malas Ngisi “Sepakat”, Tunjangan Kinerja PNS Bisa Nol Rupiah

Ilustrasi (diskominfo klaten)

 

FOKUSLINTAS.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten bersiap menerapkan Sistim Informasi Pelaporan Kegiatan Abdi Satya Negara atau lebih beken dikenal dengan aplikasi Sepakat.

Aplikasi pelaporan kegiatan kerja para PNS yang dikawal oleh Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Klaten ini salah satunya untuk mengukur kinerja pegawai dalam pereode bulanan dan tahunan berdasarkan kinerja harian di lingkungan Pemkab Klaten.

Ampuhnya aplikasi Sepakat adalah menjadi pertimbangan pokok seorang PNS untuk mendapatkan tunjangan kinerja (Tukin). Bagi PNS yang malas mengisi aplikasi Sepakat maka jangan heran kalau Tukinnya bisa nol rupiah.

“PNS masa kini harus berani mengubah pola kerja. PNS itu tidak saja masuk kerja atau asal datang. Tapi membuat perencanaan apa yang akan dikerjakan berdasarkan tugas fungsinya. Kalau sampai gak mengisi (sepakat) maka Tukin bisa nol,” kata Kepala Sub Bidang Data dan Informasi BKPPD Klaten, Hadi Susanto, Kamis (3/12).

Dilansir laman klatenkab.go.id, Jumat (4/12), Hadi Susanto mengatakan, masih banyak PNS yang belum mengetahui tugas dan fungsinya. Hal ini akan menjadi masalah. Termasuk pola pikir yang salah. Misalnya penilaian kinerja pegawai harus baik karena rasa tidak enak atau sungkan. Penilaian kinerja memang dipaksa harus obyektif.

“Aplikasi Sepakat itu tidak kenal Baper. Kalau kinerja jelek maka sistem akan melaporkan jelek, begitu pula sebaliknya. Tidak bisa pegawai yang kinerja jelek karena alasan kasihan atau sering distraktir, seorang pemimpin bisa merubah menjadi baik. Itu tidak bisa” terang Hadi.

Ditambahkan, aplikasi Sepakat ini adalah tindak lanjut progres Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi terintegrasi (Korsupgah) KPK. KPK mewajibkan pemberian tukin oleh Pemerintah Kabupaten Klaten harus berbasis kinerja PNS. BKPPD diperintahkan untuk membuat sistim pelaporan kinerja dengan inovasi aplikasi Sepakat.

“Mengisi Sepakat itu mudah. Pagi ketika masih longgar bisa mengisi atau waktu mau pulang kerja. Yang penting kalau ada pekerjaan dicatat,” pungkas Hadi.*

(Tim-Khisan)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *