OPINI: Mengalah Tak Berarti Kalah

“Foto: dok (Gus Miftach bersama Awi Ketua DPC BPAN LAI Sragen”

 

FOKUSLINTAS.com – Memang tiada mudah belajar untuk menerima, apalagi masalah kegagalan benturan sampai cobaan. Tentu tidak menyenangkan menerima hal yang tidak sesuai dengan harapan. Rasanya dunia tidak adil, disisihkan dan menjadi tidak menyenangkan serta kemuakan.

Bahkan terkadang pun menjadi pesimis, hidup di dunia yang tidak sesuai harapan memang tidak mudah. Sejenak, untuk itulah mari kita belajar untuk menerima dan mengoreksi bersama-sama.

Dan sayangnya, perkara menerima itu tidak semudah mengatakannya. Perlu keikhlasan yang tinggi agar dapat menjalaninya. Semisal, pernah tidak kita merasa sudah berusaha dengan semaksimal mungkin akan tetapi tidak juga membuahkan hasil?? Kadangkala juga niat sampai tekad semanis madu, apa coba hasilnya…. Zonk….bahkan masih berbuah keterpurukan pula.

Hmm.. kita mungkin pernah merasa keras kepala dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya? Tenang saja, hal ini diyakini kita tidak sendiri.

Seringkali kita terlampau sering memaksakan kehendak. Memaksa semua berjalan sesuai harapan dan keinginan. Ujung-ujungnya, kita menjadi stres karena terbebani. Padahal yang kita butuhkan adalah menerima keadaan, lalu mencoba untuk berhenti dan menyerah.

Percaya sajalah, seringkali kita harus mundur satu atau dua langkah untuk dapat mengambil langkah lebih jauh.

Tak perlu juga buru-buru marah karena diminta untuk berhenti dan menyerah. Percayalah, seringkali kita harus mundur satu atau dua langkah untuk dapat mengambil langkah lebih jauh. Menyerah bukan berarti kalah. Kita harus belajar untuk menerima dan berhenti.

Di dunia ini kita sering bersinggungan dengan beberapa hal yang memang tidak sesuai dengan harapan kita. Saat hati ingin A, tapi kenyataannya kita harus menerima B. Saat hidup tidak sesuai keinginan apakah kita memang harus bergerak melawannya, atau sebaliknya berjalan mengikuti arus. Sulit tapi kita harus memilih.

Bukankah hati bisa belajar? Belajar untuk menerima, belajar untuk berhenti terlalu egois. Hidup tidak selalu tentang keinginan kita. Ada kepentingan orang lain juga yang perlu kita pertimbangkan. Jadi, apakah kita siap untuk menyerah?

“Selamat hari ini”

 

 

SALAM REDAKSI

( Eka Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *