Angka Kematian Covid-19 di Wonogiri Tinggi, Begini Tanggapan Bupati

Bupati Wonogiri Joko Sutopo (dok/tim)

 

FOKUSLINTAS.com — Belakangan, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Wonogiri dinilai cukup tinggi. Pemkab Wonogiri mengklaim bahwa mayoritas mereka yang meninggal dunia adalah klaster perjalanan.

“Angka kematian ini darimana? Harus dilihat notifikasinya dulu,” tegas Bupati Wonogiri Joko Sutopo yang juga Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Wonogiri saat dikonfirmasi wartawan di Gedung DPRD Wonogiri, Senin (14/12).

Pihaknya tak menutup mata, angka kematian pasien terkonfirmasi positif Corona di Wonogiri belakangan memang cukup tinggi yakni mencapai 4,7 persen. Namun begitu, perlu ditelusuri lebihjauh notifikasinya. Mulai dari aktivitas dan domisili yang bersangkutan.

Berdasarkan data di website resmi Pemerintah Kabupaten Wonogiri, secara komulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Wonogiri mencapai 892 orang, dengan kasus aktif sebanyak 40 orang. Sementara itu, pasien yang dinyatakan meninggal 42 orang. Sedangkan pasien yang telah sembuh mencapai 810 orang.

“Hasil tracing kita, bahwa domisili korban ini bukan di Wonogiri. Mereka aktivitasnya mayoritas di kota-kota besar,” terangnya.

Bupati Joko Sutopo mengatakan, pasien Corona yang meninggal di Wonogiri didominasi oleh warga perantauan yang pulang ke kampung halaman atau klaster perjalanan. Mereka mempunyai aktivitas yang intens di kota-kota besar.

“Tiba di Wonogiri sudah dalam kritis atau kurang baik. Saat dirawat di RSUD Wonogiri selama dua hingga tiga hari kemudian meninggal. Rata-rata seperti itu, mereka dalam kesehariannya atau mobilitasnya tidak di Wonogiri,” kata dia.

Ditambahkan, kematian pasien positif Covid-19 yang berdomisili di Wonogiri atau bukan klaster perjalanan sangat minim. Hal itu menandakan sosialisasi dan penanganan Covid-19 berjalan tertib dan bisa mengena ke masyarakat.

“Dalam melihat kasus ini bisa dilihat problem angka kematian di Wonogiri asalnya dari mana. Harus kritis sampai di sini. Ternyata, mereka yang meninggal sebagian besar dari perantauan. Jika angka kematian tinggi dan didominasi oleh warga yang beraktivitas di Wonogiri, berarti ada penanganan kami yang tidak tepat,” jelasnya.* (Tim-Her)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *