Napak Tilas Kisah Joko Tarub dan Dewi Nawangwulan di Sendang Beji Gunung Kidul

Petilasan Sendang Beji dan Cerita Nawang Wulan Bersama Joko tarub. Foto : (dok)

 

 

FOKUSLINTAS.com – Sebuah sumber air yang mengalir jernih melewati pinggir jalan ketika dalam perjalanan ke puncak paralayang membuat rasa penasaran untuk mencari dari mana sumber air tersebut, apakah ada air terjun atau sejenisnya?

Setelah tanya warga, ternyata bukan merupakan air terjun melainkan sebuah sendang. Sendang Beji namanya, sebuah mata air di bawah pegunungan landasan take off paralayang.

Sendang beji ini berada di Pedukuhan Parangrejo, Kelurahan Girijati, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Berbekal informasi dari warga, sambil mengayuh sepeda melewati jalan cor blok, rasa penasaran itu terjawab sudah ketika sudah sampai di area Sendang Beji.

Rute ke Sendang Beji ini adalah sama seperti ke puncak Paralayang, hanya saja ketika di pertigaan terakhir sebelum sampai kepuncak belok kiri. Dari pertigaan ini kurang lebih 500 meter, mengikuti jalan cor blok dan ketika sampai di pertigaan antara jalan cor blok dan jalan tanah ditanjakan ambil jalan yang agak turun ( jalan tanah). Nanti akan bertemu dengan rumah warga/sebagai tempat parkir.

Akses kendaraan parkir paling pool yang cuma sampai disitu, selebihnya jalan kaki, tidak terlalu jauh, dibalik rumah tersebut telah terlihat mata air dengan beberapa pohon besar tumbuh disekitar sendang tersebut.

Mengulik informasi dari mbah Inem yang juga merupakan juru kunci Sendang Beji.

Sisi lain dari dekat pohon beringin, juga miniatur Patung sepasang kekasih yang menceritakan Nawang Wulan dan Joko Tarub, terlihat beberapa pipa warna yang menggunakan air sendang untuk keperluan sehari-hari.

Mbah Inem yang sudah berusia 76 tahun itu bercerita bahwa cikal bakal keberadaan sendang beji ini ada sangkut pautnya dengan legenda cerita Nawang Wulan dan Joko Tarub. Ada yang lupa cerita joko tarub? nek sampe lupa yo kebangeten hehe.

Beliau adalah Mbah Inem yang berusia 76 tahun, sebagai Juru Kunci Sendang Beji
Diceritakan oleh Mbah Inem sendang beji berasal dari kata jawa Beji yang berarti diajeni atau dalam bahasa Indonesianya bermakna dihormati.

Lebih lanjut Mbah Inem menceritakan bahwa Sendang Beji terbentuk dari air tanah yang muncul ke permukaan atau lebih sering disebut mata air yang membentuk sungai kecil yang mengalir sampai ke pantai selatan / pantai Parangtritis yang selanjutnya dijadikan sebagai tempat padusan atau pemandian.

Dulu Sendang tersebut konon katanya cukup besar, sehingga pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VI sendang tersebut dibendung guna untuk irigasi dan keperluan warga sekitar.

Menariknya, ada himbauan untuk tidak menabur bunga di Sendang Beji. Lalu juga adanya sebuah Prasasti trisoka yang ditemui di Sendang Beji.

Terdapat beberapa prasasti Trisoka yang ada di sejumlah titik Sendang Beji, Salah satunya yang bertuliskan Ngudi Sejatining Becik, Nggayuh Urip Kepenaran, Berbudhi Bowo Leksono.

Maksud dari prasasti yang juga sebuah kata-kata pepeling atau pengingat adalah Selalu berusaha mencari kebenaran sejati, Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk hidup yang tepat dan Berjiwa besar.

Sendang Beji ini ramai di kunjungi pada bulan Suro atau Muharram. Konon katanya, ditempat ini jika pada bulan jawa tersebut sampai berjubel pengunjung yang akan memandikan pusakanya. Selain itu tempat ini juga bisa digunakan untuk menepi sembari merefresh pikiran dari hiruk pikuk kepenatan jogja yang semakin hari semakin semrawut.

Terlepas dari itu cerita itu semua, mari jaga apa yang ada disekitar kita tanpa harus merusaknya. Seperti kata filosofi Sendang Beji yaitu di ajeni yang berarti di hormati untuk dijaga.*

(Awi)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *