Jati Diri Seorang Spiritual Harus Berani Tirakat dan Lelaku, Begini Penjelasannya!

Foto: ilustrasi

 

FOKUSLINTAS.com – Ajaran kebatinan kejawen pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan orang Jawa terhadap Tuhan dan ketuhanan. Kejawen atau Kejawaan (ke-jawi-an) dalam arti yang umum berisi kesenian, budaya, tradisi, ritual, sikap hati serta filosofi hidup orang-orang Jawa. Kejawen mencerminkan spiritualitas orang Jawa.

Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang formal seperti dalam agama, tetapi menekankan pada konsep “keseimbangan dan keharmonisan hidup”.

Kebatinan Jawa merupakan tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama-agama modern di pulau Jawa, yang pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi pekerti, juga diwarnai ritual-ritual kepercayaan dan ritual-ritual yang berbau mistik.

Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling dalam.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya atas segala sesuatu aspek hidupnya, atas segala bidang kegiatan yang dilakukannya. Apa saja yang dihayatinya itu selanjutnya akan menjadi bersifat pribadi, akan mengisi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, akan lebih banyak “masuk” ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih “sepuh” dibandingkan jika ia mengabaikannya. Selebihnya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Secara kebatinan dan spiritual dipahami bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara saja yang pada akhirnya nanti semua orang akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia harus bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), dan beradaptasi dengan lingkungan alam dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Lebih baik untuk menjaga sikap dan tidak membuat masalah. Memiliki sedikit lebih baik daripada berambisi menimbun ‘lebih’.

Dengan demikian idealisme kebatinan jawa menuntun manusia pada sikap menerima, sabar, rendah hati, sikap tahu diri, sikap hidup sederhana, suka menolong, tidak serakah, tidak berfoya-foya/berhura-hura, dsb. Idealisme inilah yang menjadikan manusia hidup tenteram dan penuh rasa syukur kepada Tuhan.

Mereka terbiasa hidup sederhana dan apapun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebagai karunia Allah.
Mereka percaya adanya ‘berkah’ dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan menjadi lebih baik bila mereka ‘keberkahan’. Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin, ditambah laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diberkahi. Mereka tekun menjalankan “laku” untuk pencerahan cipta, rasa, budi dan karsa.

Orang jawa bilang intinya kita harus selalu eling lan waspada. Selalu ingat Tuhan. Tapi biasanya orang hanya menginginkan kesuksesan saja, keberhasilan dan keberuntungan saja, tapi tidak tahu pengapesannya (eling tapi tidak waspada).

Sering dikatakan orang-orang yang selalu ingat Tuhan dan menjaga moralitas, seringkali hidupnya banyak godaan dan banyak kesusahan.

Kalau eling ya harus tulus, jangan ada rasa sombong, jangan merasa lebih baik atau lebih benar dibanding orang lain, jangan ada pikiran jelek tentang orang lain, karena kalau kita bersikap begitu sama saja kita bersikap negatif dan menumbuhkan juga aura negatif di dalam diri kita.

Aura negatif akan menarik hal-hal yang negatif juga, sehingga kehidupan kita akan semakin banyak berisi hal-hal yang negatif. Di sisi lain kita juga harus sadar bahwa orang-orang yang banyak menahan diri, membatasi perbuatan-perbuatannya, seringkali menjadi kurang greget, kurang kreatif dan yang diperolehnya juga akan lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang tidak menahan diri. Itulah resikonya menahan diri.

Tetapi mereka yang sadar pada kemampuan dan potensi dirinya, peluang-peluang, dsb, dan dapat secara positif memanfaatkannya dengan perbuatan nyata, tidak kendo, dan tidak kebanyakan menghayal dapat juga menghasilkan banyak tanpa harus lupa Tuhan dan merusak moralitasnya.

Di sisi lain sering dikatakan orang-orang yang tidak ingat Tuhan atau tidak menjaga moralitas seringkali kelihatan hidupnya lebih enak. Bisa terjadi begitu karena mereka tidak banyak menahan diri, tidak banyak beban, apa saja akan dilakukan walaupun tidak baik, walaupun tercela. Beban hidupnya lebih ringan daripada yang menahan diri. Mereka bisa mendapatkan banyak karena mereka tidak banyak menahan diri.

Di luar pandangan-pandangan di atas, mengenai sejauhmana kesuksesan dan kebendaan yang mampu diraih oleh seseorang dalam hidupnya, sebenarnya, jalan kehidupan masing-masing mahluk, termasuk manusia, sudah ada garis-garis besarnya, sehingga bisa diramalkan oleh orang-orang tertentu yang bisa meramal. Tinggal masing-masing orangnya saja dalam menjalani kehidupannya, apakah akan banyak eling dan menahan diri, ataukah akan mengumbar keduniawiannya.

Menjalani laku prihatin tidak sama dengan terpaksa menahan diri karena kondisi hidup yang kekurangan.

Laku prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja untuk menahan diri terhadap kesenangan-kesenangan, keinginan-keinginan dan nafsu / hasrat yang tidak baik, tidak pantas dan tidak bijaksana dalam kehidupan.

Laku prihatin juga dimaksudkan sebagai upaya menggembleng diri untuk membangun ‘ketahanan’ jiwa dan raga dalam menghadapi gejolak dan kesulitan hidup. Orang yang tidak biasa menahan diri akan merasakan beratnya menjalani laku prihatin.

Sikap berlaku prihatin dapat dilihat dari sikap seseorang yang menjalani hidup ini secara tidak berlebih-lebihan. Walaupun kepemilikan kebendaan sering dianggap sebagai ukuran kualitas dan keberhasilan hidup seseorang, dan sekalipun seseorang sudah jaya dan berkecukupan, laku prihatin dirinya dapat dilihat dari sikapnya yang menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, tidak pantas, tidak bijaksana, dan menahan diri dari perilaku konsumtif yang berlebihan, hanya ingin memiliki apa yang benar-benar menjadi kebutuhan hidup saja, tidak melebihi batas nilai kepantasan dan kewajaran (tidak berlebihan dan tidak pamer).

Prihatinnya Orang Miskin Harta (orang umum).

Walaupun seseorang tidak berlebihan harta, atau bahkan kekurangan harta, tetapi ia tidak mengisi hidupnya dengan kesedihan, iri dan dengki dan tidak mengejar kekayaan dengan cara tercela. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.

Walaupun tidak dapat memenuhi keinginan kebendaan duniawi secara berlebihan, tetapi tetap menjalani hidup dengan rasa menerima dan bersyukur. Dan dalam ia menolong dan membantu orang lain dilakukannya tanpa pamrih kebendaan.

Filosofinya : makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (hewan).

Urip iku mung mampir ngumbe thok.

Hidup seperlunya saja sesuai kebutuhan, bukannya mengejar / menumpuk harta atau apapun juga yang nantinya toh tidak akan dibawa mati ke dalam kubur. Sekalipun mereka miskin harta, tetapi kaya di hati, sugih tanpa bandha.

Berbeda dengan orang yang berjiwa miskin, yang sekalipun sudah berkecukupan harta atau bahkan berlebihan, tapi selalu saja merasa takut miskin, selalu takut hartanya berkurang, dan akan melakukan apa saja, termasuk perbuatan-perbuatan yang tercela, untuk terus menimbun kekayaan.

Prihatinnya Orang Kaya Harta.

Walaupun seseorang sudah berlebihan harta, tetapi ia tidak mengisi hidupnya dengan kesombongan dan hidup bermewah-mewahan. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak membelanjakan hartanya melebihi apa yang menjadi kebutuhannya.

Seseorang yang kaya berlimpah harta, memiliki banyak benda yang bagus dan mahal harganya dan melakukan pengeluaran yang “lebih” untuk ukuran orang biasa, tidak selalu berarti bahwa ia tidak menjalani laku prihatin.

Mungkin itu sebanding dengan status dirinya dan kondisi duniawinya. Namun yang sengaja hidup bermewah-mewahan sama saja dengan hidup berlebih-lebihan (melebihi apa yang menjadi kebutuhan), inilah yang disebut tidak menjalani laku prihatin.

Orang kaya harta yang selalu mensyukuri kesejahteraannya akan tampak dari sikap hatinya yang selalu rela memberi ‘lebih’ kepada orang-orang yang membutuhkan pemberiannya, bukan sekedar memberi, walaupun perbuatannya itu tidak ada yang melihat. Dan semua kewajibannya, kewajiban duniawi maupun keagamaan, yang berhubungan dengan hartanya, akan dipenuhinya, seperti yang seharusnya, tidak ada yang dikurangkan.

Prihatinnya Orang Kaya Ilmu.

Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan ilmunya tidak untuk kesombongan dan kejayaan dan kepentingan dirinya sendiri, tidak untuk pamer dan tidak untuk membodohi atau menipu orang lain, tetapi dimanfaatkan juga untuk menolong orang lain dan membaginya kepada siapa saja yang layak menerimanya, tanpa pamrih kehormatan atau upah.

Prihatinnya Orang Berkuasa.

Seorang penguasa hidup prihatin dengan menahan kesombongannya, menahan hawa nafsu sok kuasa, tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk kejayaan diri sendiri dan keluarganya / golongannya saja.

Kekuasaan dijadikan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi para bawahan dan masyarakat yang dipimpinnya. Kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, sebagaimana layaknya seorang negarawan sejati.

Seorang politikus hidup prihatin dengan tidak membela kepentingannya sendiri, kelompoknya atau golongannya sendiri, atau untuk mencari popularitas, tidak untuk beroposisi melawan pemerintahan yang ada, tetapi digunakan untuk mendukung jalannya pemerintahan dan meluruskan jalan pemerintahan yang keliru / menyimpang, bila ada, untuk kepentingan rakyat banyak.

Seorang aparat negara, aparat keamanan dan penegak hukum, hidup prihatin dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tugasnya dengan semestinya, tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk menindas, memeras, atau berpihak kepada pihak-pihak tertentu tetapi merugikan pihak yang lain, mencukupkan dirinya dengan gajinya dan menambah rejeki dengan cara-cara yang halal, tidak mencuri, tidak memeras, tidak pungli, tidak meminta / menerima sogokan.*

(Awi)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *