Mengenang Sang Guru Bangsa, Berguru Pada Gus Dur

Oleh : Wibisono

 

FOKUSLINTAS.com – Tepat 11 tahun yang lalu Almarhum Gus Dur meninggalkan kita, Saya mengenal Gus Dur ditahun 1993, saat itu saya baru lulus SMA dan baru 1 tahun kuliah di universitas Surabaya (ubaya), saat itu beliau menjabat ketua PBNU, perkenalan dengan beliau dikenalkan oleh sahabat saya H. Nidomi (menantunya promotor musik terkenal Sofyan Ali), saat itu ada acara Semaan Al-Qur’an di daerah pager wojo disekitar makam Mbah Ud di daerah GOR Sidoarjo.

Perkenalkan ini berlanjut terus sampai Gus Dur wafat, pada saat Gus Dur sering datang ke Surabaya dan jatim, saya sering menemani beliau bersama sahabat beliau H. Masnuh dan tokoh kong hu Chu Bingki Irawan.

Selama mendampingi Gus Dur, saya berguru dan banyak ilmu yang saya dapat, terutama belajar agama dan aqidah.

Sekitar tahun 1996-1998, saya sering ke Jakarta urusan organisasi, dan saya selalu mampir ke kantor PBNU di Kramat, saat itu kantor PBNU masih sangat sederhana.

Ditahun 1996 ada kejadian yang unik, tidak bisa saya lupakan sampai saat ini, Gus Dur mengajak saya pulang ke Surabaya naik mobilnya, dengan mobil Grand max warna putih, saya bertiga dengan sopir, beliau mulai lakukan perjalanan, perjalanan ini saya anggap sebagai perjalanan spiritual.

Dalam perjalanan itu kita sering berhenti dan ziarah ke makam makam (istilah dalam budaya NU = tawasul) ke makam wali Allah, makam pertama yang di ziarahi adalah makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus di Masjid Luar Batang, Jakarta Utara.

Lanjut terus ke makam makam wali songo dan beberapa makam wali Allah saya saya catat hampir 30an makam, total perjalanan kita selama 6 hari 5 malam. Banyak kejadian unik dan riligius selama melakukan tawasul ke makam tersebut, saya sangat takjub dengan keilmuan Gus Dur, beliau sangat hafal satu satu nama Wali Allah yang dimakamkan disitu dan ilmu kharomahnya, karena tidak semua makam yang kita ziarahi ada tulisan nama di nisannya.

Saya tidak akan menulis satu persatu makam yang kita ziarahi, insyaallah saya akan tulis nanti saat saya akan menerbitkan buku tentang perjalanan spiritual ini, singkat cerita perjalanan spiritual ini berakhir pada makam sunan Ampel, lanjut ke makam Mbah Ud Sidoarjo dan makam keluarga Gus Dur di tebu Ireng di Jombang.

Sekitar tahun 1998, saya meminta restu sama Gus Dur disaat saya akan membuat event “Festival Wali songo” ditahun 1999, pada masa Presiden Habibie event ini saya buat untuk menjaga stabilitas nasional pasca reformasi, kerusuhan massal dan penjarahan, tujuan festival ini untuk meredam kegaduhan politik dan Alhamdulillah berhasil. Festival ini diselenggarakan di Surabaya dan Jakarta, saya bersama Fadel Muhammad menjadikan festival ini sebagai sarana dakwah, sosial, budaya dan niaga.

Pada tahun awal 1999 ada kejadian peristiwa isu dukun santet di Jawa timur, saat itu gubernurnya imam Utomo, Pangdamnya Ryamizard Ryacudu dan Kapoldanya M. Dayat, saya ditugasi oleh ketiga Muspida jatim tersebut untuk melaporkan hasil tim investigasi Independen ke Gus Dur, dan hasil nya Alhamdulillah Gus Dur ambil alih Persoalan isu dukun Santet ke PBNU dan akhirnya bisa selesai dengan baik.

Pada saat Gus Dur jadi Presiden, saya masih terus berhubungan dengan melaporkan hasil intelijen pangdam jaya Ryamizard Ryacudu, saya datang ke istana kadang bersama adik Gus Dur yaitu Gus IM atau Mentri BUMN saat itu Rozi Munir, terkadang saya datang sendirian.

Terakhir, setelah Gus Dur lengser dari Kursi kepresidenan, saya masih berhubungan sama Gus Dur saat pencalonan gubernur Jatim, saat itu saya membawa calon gubernur Brigjen TNI purn Abdul Kahfi (mantan Wagub DKI), peran saya saat itu jadi tim sukses beliau untuk branding dan mencari dukungan sponsor, yang unik dari kejadian ini adalah saat pencalonan pak Kahfi tanpa melewati penjaringan calon partai dari PKB, padahal dijatim sudah ada 9 calon gubernur yang melalui proses penjaringan. Saat itu semua kaget tiba-tiba Gus Dur mencalonkan pak Kahfi dan akhirnya kita kalah telak sama imam Utomo, dengan membelotnya Fraksi Golkar dan fraksi TNI.

Inilah kenangan saya bersama Guru bangsa “Gus Dur” yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya, saya banyak belajar dan berguru pada Gus Dur, mungkin tidak semua orang bisa mengalaminya. Semoga spirit Gus Dur bisa membawa saya menjadi orang yang amanah dan Istiqomah di jalan Allah SWT….. Aamiin.

Penulis: Pengusaha, Pengamat militer dan kebijakan Publik, Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN), Ketua Dewan Pembina Sahabat Polisi Indonesia, Pendiri Yayasan – PT. Biotech Methodologi Tubuh Indonesia.

( Memet )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *