Bappenas Mulai Benahi Data Penerima Bantuan Sosial

Reformasi sistem perlindungan sosial yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini, time frame-nya sudah dibuat oleh Bappenas sampai dengan tahun 2024. Source We/Ilustrasi

 

FOKUSLINTAS.com – Pemerintah mempersiapkan mendesain ulang program bantuan sosial yang telah ada saat ini. Ada beberapa hal yang menjadi fokus dari perubahan desain ini, misalnya data penerima yang saat ini terdapat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Akurasi data penerima bantuan sosial untuk memastikan efektivitas penyaluran bantuan sosial dan juga penyaluran jaminan sosial,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa di Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Untuk itu, kata Suharso, transformasi digital menjadi sangat penting untuk memastikan kemudahan, kecepatan, dan ketepatan penyaluran bantuan sosial. Mengingat, 55% rumah tangga mengandalkan bantuan pemerintah untuk mengatasi kerawanan pangan selama pandemi Covid-19.

“Reformasi sistem perlindungan sosial yang akan segera kita laksanakan dalam waktu dekat ini, time frame-nya sudah dibuat oleh Bappenas sampai dengan tahun 2024,” jelasnya.

Selain memperbaiki data, pemerintah akan mengintegrasikan program bantuan sosial yang ada. Sebab saat ini, program bantuan sosial masih tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga, juga pemerintah daerah. Nantinya, pemerintah akan mengevaluasi program bantuan sosial tersebut lalu Bappenas akan menyusun kembali desain bantuan sosial yang ada.

“Beberapa program bantuan sosial yang selama ini banyak atau berada di kementerian lembaga akan kita coba susun kembali agar menjadi efektif dan bisa kita satu padukan, kita kumpulkan, untuk jadi hanya beberapa program strategis dalam rangka bantuan sosial,” paparnya.

Pemerintah, lanjutnya, berharap bantuan sosial yang masuk dalam perlindungan sosial saat ini bisa menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. “Selain untuk mitigasi dampak pandemi Covid-19, pemberian bantuan sosial juga bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan,” tegasnya.

“Tingkat kemiskinan ingin kita turunkan, terutama pada level paling bawah, yaitu extreme poverty: extreme poverty sekitar 2,5–3%. Bahkan sampai tahun 2024 diharapkan bisa mencapai 0%. Bagaimana caranya? Dengan memfokuskan program bantuan sosial sedemikian rupa dengan sasaran yang masuk dalam basket dalam kelompok rentan dan miskin kronis sehingga dengan demikian penurunan kemiskinan akan bisa kita capai,” pungkasnya.* (Awi)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *