Soal SE Walikota Solo Tentang Perubahan No 067/057, Kusumo: Sosialisasi Penting Demi Menghindari Kegaduhan dan Hoak Berita

 

BRM Kusumo Putro Pegiat Sosial Kota Solo Mengapresiasi SE Walikota Perubahan No 067/057 Tanggal 11 Januari 2021. Source bengawan | Foto: dok

 

FOKUSLINTAS.com – Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) Jawa Bali yang dimulai hari Senin, 11 Januari sampai dengan 25 Januari 2021 membuat sejumlah daerah menerbitkan surat edaran terkait pelaksanaan PSBB tersebut tak terkecuali Kota Solo, Jawa Tengah.

Kota Solo mendapat julukan sebagai kota yang tidak pernah tidur, sangat identik dengan pesona aneka kulinernya seperti warung makan, wedangan dan angkringan serta pedagang kaki lima malam hari, dimana hal tersebut merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Kota Bengawan.

Sempat beredar kabar jika usaha kuliner harus menutup dagangannya paling lama pukul 19.00 WIB. Namun akhirnya munculah Surat Edaran Walikota yang memperbolehkan tutup sampai lebih dari pukul 19.00 WIB, namun dengan ketentuan protokol kesehatan yang ketat.

Berikut adalah kutipan Surat Edaran Walikota Surakarta Nomor 067/057 tentang Perubahan Atas Surat Edaran Walikota Surakarta Nomor 067/036, yang dikeluarkan Senin 11 Januari 2021, Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Kota Surakarta.

Dalam rangka pengendalian pandemi COVID-19 dilakukan perubahan dalam pelaksanaan kegiatan warung makan / rumah makan/ cafe /restaurant/pedagang kaki lima/lapak jajanan dan pusat kuliner, meliputi :
1. Waktu operasional sesuai jam operasional masing-masing usaha,
2.Makan di tempat paling banyak 25 persen dari kapasitas tempat duduk dengan jarak antar orang paling sedikit 1,5 meter,
3.Layanan makanan melalui pesan antar/dibawa pulang tetap diijinkan sesuai jam operasional.

Kesimpang siuran kabar tersebut tentu membuat bingung masyarakat dan pelaku usaha kuliner. Hal tersebut membuat tokoh masyarakat asal Kota Solo BRM Kusumo Putro, SH,MH angkat bicara, menurutnya dikarenakan kesimpang siuran akan informasi di masyarakat dimana pada awalnya mereka mengetahui pada pukul 19.00 WIB, semua harus menutup usahanya.

“Mereka mengetahui dan mendapatkan informasi yang tidak jelas sumbernya bahwa semua warung, rumah makan, wedangan, PKL semua harus menutup usahanya,” jelasnya.

“Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi di masyarakat sangatlah kurang diperhatikan, kalau mereka harus tutup jam 7 malam maka Kota Solo akan menjadi seperti Kota Mati,” lanjutnya.

Pria yang juga anggota DPC Peradi Kota Solo tersebut menambahkan menikmati Kota Solo itu paling pas pada malam hari dimana salah satu andalan icon Kota Solo adalah kulinernya termasuk warung angkringan dan warung makan yang tersebar ribuan titik. Dia menuturkan kuliner malam hari adalah salah satu andalan wisata dan icon Kota Solo.

“Masyarakat seperti saat ini apalagi yang berhubungan dengan usaha dan mata pencaharian masyarakat seperti yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

Kusumo berharap Pemkot Solo mempunyai ketegasan dalam mengambil keputusan, melalukan sosialisasi hasil keputusan secara merata di masyarakat dan melakukan pengawasan dalam keputusan.

“Tiga hal ini harus seiring supaya masyarakat tidak bingung dan patuh dalam melaksanakannya serta untuk menghindari kegaduhan di masyarakat,” ucapnya.

Kusumo berharap semua elemen masyarakat menjaga protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Solo untuk mengantisipasi persebaran Virus Covid 19.

“Semua harus patuh pada Prokes, agar Pandemi segera hilang dari negeri ini dan kita semua selalu sehat dan selamat dari Pandemi Virus Covid 19 seperti saat ini,” tukasnya.

Selain itu, Kusumo mengapresiasi terbitnya SE Walikota perubahan tersebut yang tetap memperbolehkan pelaku usaha bebas membuka jam operationalnya dengan tetap mematuhi prokes yang ketat sehingga pelaku usaha kuliner tetap bisa menjalankan usahanya dan Kota Solo sebagai Kota Kuliner tetap hidup di malam hari.

“Apa yang dilakukan Walikota Solo ini menunjukkan bahwa sebagai seorang pemimpin yang baik dan tidak sewenang-wenang serta selalu peduli kepada rakyatnya untuk melakukan usaha dan tidak mematikan sumber pendapatan rakyatnya disaat kondisi Pandemi Covid 19 seperti saat ini, semoga apa yang dilakukan Walikota Solo dijadikan contoh dan ditiru oleh Kepala Daerah yang lain di seluruh Jawa Tengah pada khususnya dan di seluruh indonesia pada umumnya,” tutupnya.(*)

 

Editor: Adm

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *