Kasus Terkuak, Tujuh Pelajar Wonogiri Jadi Korban Dukun Cabul

Konferensi pers kasus pencabulan di Mapolres Wonogiri (dok/tim)

 

FOKUSLINTAS.com  — Sebanyak tujuh pemuda di Wonogiri yang mayoritas pelajar menjadi korban pencabulan dukun pedofil. Kasus itu terkuak setelah dua korban dukun cabul itu melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Polres Wonogiri.

“Saat ini tersangka berinisial P (44) warga Kecamatan Jatisrono sudah kita amankan dan menjalani pemeriksaan intensif,” ungkap Kapolres Wonogiri AKBP Christian Tobing didampingi Kasat Reskrim Iptu Ghala Rimba Doa Sirrang, saat konferensi pers, di Mapolres Wonogiri, Selasa (12/1).

Adapun tujuh korban pencabulan tersebut adalah DS (16), AMT (16), RK (16), IW (16), KR (16), BAN (16) dan HP (16). Ketujuh remaja itu merupakan warga Kecamatan Jatipurno.

Dari pengakuan tersangka, aksi bejat itu dilakukan di rumahnya antara bulan Oktober hingga Desember 2020.

“Tersangka ini mengaku berprofesi sebagai dukun (paranormal),” ujar Kapolres Wonogiri.

Kapolres juga meminta agar masyarakat yang menjadi korban pencabulan untuk tidak segan ataupun malu melapor ke polisi terkait kasus tersebut.

“Kita akan jamin keselamatan, keamanan dan kerahasian pelapor,” terangnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Wonogiri Iptu Ghala Rimba Doa Sirrang mengatakan, kasus itu terkuak setelah orangtua dua korban pedofilia, DS dan AMT melaporkan kasus tersebut 3 Januari 2021 di Mapolres Wonogiri. Selanjutnya, usai menerima laporan, pihak kepolisian langsung bergerak cepat dengan mengamankan tersangka.

“Tersangka kemudian diperiksa dan mengakui segala perbuatannya. Selain mencabuli DS dan AMT, dia (tersangka) juga mengakui telah berbuat cabul kepada lima korban lainnya,” jelasnya.

Pihaknya juga mengamankan sejumlah barang bukti dalam kasus itu. Diantaranya, beberapa celana dalam, celana pendek, celana panjang, kaos dan jaket. Pakaian itu merupakan milik korban.

“Untuk pasal yang disangkakan terhadap tersangka adalah pasal 82 UU RI nomor 17 tahun 2016 perubahan kedua atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 292 KUHPidana dengan ancaman penjara manimal lima tahun dan maksimal 15 tahun,” tandasnya.*(Tim/Mei)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *