Menengok Pengobatan Alternatif dan Cablek DPC BPAN LAI Sragen ala Ki Khentir dan Ki Carang

Pengobatan alternatif dan Cablek oleh Ki Carang (Dwiyan) kiri, Eyang Prapto tengah dan Ki Khentir (Sumeri) Kanan di Desa Brojol Rt. 04 Brojol Miri Sragen. Foto: Istimewa

 

FOKUSLINTAS.com – Dalam beberapa tahun dan booming beberapa bulan terakhir, jagat spiritual dihebohkan oleh keunikan pengobatan alternatif yang dilakukan 2 tokoh warga bernama Dwiyan (Ki Carang) dan Sumeri (Ki Khentir). Mereka mengobati pasien yang disebut terapi cablek, dimana untuk penyakit bersama racikan ramuan ketabiban alami tanpa kimia. Tak cuma itu saja, juga adanya jamasan Gembolo Geni dimana untuk membantu orang yang terkena gangguan makhluk halus, hingga pasien yang terkena guna-guna.

Proses pengobatan yang dilakukan mereka dengan membaca doa dengan media cablek, air putih, meditasi, bahkan olah kebatinan. Proses pengobatan dilakukan secara terbuka dan bisa disaksikan pasien lain yang tengah mengantri.

Para pasien dan keluarganya juga bebas merekam proses pengobatan tersebut. Hal tersebut dilakukan karena mereka memegang ketransparanan dan membantu warga masyarakat khususnya yang kurang mampu tanpa memungut biaya.

Ki Carang (Dwiyan) dan Ki Khentir (Sumeri) dikenal juga menjadi pengurus atau Kadiv disalah satu Lembaga ternama yang bernaung di DPC BPAN (Badan Penelitian Aset Negara) Lembaga Aliansi Indonesia Cabang Sragen dan membuka praktik pengobatan setiap hari di area sekretariat di Desa Brojol Rt. 04, Kelurahan Brojol, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Mereka hanya libur pada hari Kamis malam Jumat.

Saat awak media datang ke rumah pengobatan, puluhan pasien sudah berjubel antri setiap antrinya. Mereka datang dari berbagai kota di Sragen maupun luar Sragen, bahkan eks-Jawa Tengah.

“Seminggunya bisa ratusan yang datang mas pasiennya,” kata seorang warga, Wido, saat dikonfirmasi pekan lalu.

Ratusan pasien yang antri terbagi menjadi dua, yakni mereka yang menunggu giliran diobati dan pasien yang datang hanya untuk mendaftarkan diri, memesan ramuan sampai konsultasi

Pasien yang menunggu giliran diobati sebelumnya sudah datang untuk mendaftarkan diri. Sementara pasien yang baru mendaftar memilih pulang dan akan kembali lagi pada hari yang ditentukan.

Para pasien yang berasal dari jauh seperti Semarang, Demak, Jakarta, Jawa Timur dan Wonogiri banyak yang datang, terkadang antri janjian khusus via telepon. Warga sekitar rumah pengobatan banyak yang menjadi saksi.

“Saya sudah tiga hari di sini. Saya sakit di bagian kaki gejala stroke dan pinggang. Saya tahu pengobatan ini dari teman, alhamdulilah ini banyak mulai membaik,” kata Darni, pasien asal Boyolali.

“Saya mengantar anak dan istri saya, sakit pusing-pusing dan sesak nafas. Saya daftarnya sudah beberapa waktu yang lalu. Jadwalnya hari ini diobati,” kata Ahmad (69), warga asal Ungaran Semarang.

Ponadi mengatakan sebelumnya hampir tiap bulan ia mengobatkan istrinya ke dokter. Namun tak ada hasilnya. “Akhirnya saya bawa ke sini. Kita kan hanya usaha. Semoga sembuh,” terangnya.

Ainur Rohimin (55), pasien asal Sragen, memilih datang ke pengobatan alternatif Ki Carang dan Ki Khentir, Istri karena sudah sering berobat ke dokter namun tak kunjung sembuh. “Saya menderita perut bengkak sama kaki bengkak,” terangnya.

Keluhan pasien yang datang bermacam-macam. Mulai sakit kepala, dada, perut, kaki, dan banyak lagi. Bahkan banyak pula pasien yang datang hanya untuk memeriksakan kesehatannya sampai konsultasi seputar dunia spiritual. (Tim)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *