OPINI: Laku Ngudi Roso Jroning Ngelmu Sastro Jendro

Mbah Memet Kadiv Media II DPC BPAN LAI Sragen. Foto: Istimewa

 

FOKUSLINTAS.com – Dalam tataran keilmuan orang jawa ada beberapa hal yang harus ditempuh jika seseorang ingin mencapai kesempurnaan hidup, salah satunya tataran yang harus dilewati tertuang dalam kitab baswalingga karya pujangga besar jawa Ki Ronggo Warsito.

Tataran keilmuan yang termahtub dalam kitab karya Ronggo Warsito ini adalah tentang Sastro Jendro Hayuningrat.

Menurut Ki Ronggo Warsito bahwasanya sastra jendra hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup berdasarkan falsafah ajaran budha, dan apabila semua orang menaati semua ajaran sastra tadi niscaya bumi akan sejahtera.

Nama lain dari sastra jendra hayuningrat adalah sastra cetho alias sastra tanpa papan dan sastra tanpa tulis, walaupun tanpa tulis dan papan tapi maknanya terang alias cetho dan bisa digunakan sebagai serat papakem paugeraning gesang.

Untuk mencapai sastra cetha ada beberapa tahapan yang harus dilalui yakni:

Tapaning jasad: Mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik lainnya, lakunya tidak dendam, sakit hati. Semua hal diterima dengan legowo-tabah dengan kesungguhan hati alis tan milih tan nolak.

Tapaning budhi: Artinya menghilangkan perbuatan yang hina (nista) dan hal hal yang tidak jujur

Tapaning hawa nafsu: Mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka dari pribadi kita. Lakunya sabar dan selalu berusaha menyucikan diri, punya perasaan dalam, mudah memberi maaf dan taat pada Tuhan yang maha Esa.

Tapaning cipta: Artinya memperhatikan perasaan secara sungguh sungguh atau dalam bahasa jawanya ngesti sarasaning raos ati, berusaha sekuat tenaga menuju heneng–meneng-khusyuk-tumaknina, sehingga hasilnya tidak akan diombang ambingkan oleh siapapun dan apapun lalu yang akhir selalu hening-wening atau waspada supaya bisa konsentrasi ke Alloh SWT.

Tapaning sukma: Dalam tahapan ini kita fokus ke ketenangan jiwa. Amalnya ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan kita dengan memberi derma kepada fakir miskin secara ikhlas.

Tapaning cahya: Maknanya dalam tataran ini selalu eling, awas dan waspada. Sehingga hasilnya kita mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat alis waskito. Amal eling dan waspodo diikuti dengan menghindari hal hal yang bersifat glamour dunia atau memabukkan yang mengakibatkan batin kita menjadi samar.

Tapaning gesang: Dalam tahapan akhir ini kita berusaha sekuat tenaga dengan hati hati menuju kesempurnaan hidup dan taat pada Tuhan Yang Maha Esa.

ilmu sastra jendra yang di terangkan diatas berdasarkan kebatinan jawa, sastra ini bermakna mantra berdasarkan ilmu pengetahuan dengan kata lain ilmu untuk memupuk kesejahteraan dunia (memayu hayuning bawana) yang berasal dari bathara indra yang juga bermakna indra loka alias pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada (jantung), pusat dalam kaitan diatas bermakna sumber atau rasa sejati-ambang batas. hayu-ing-rat artinya menuju keselamatan dunia.

 

SALAM REDAKSI

 

( Mbah Memet )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *