Petani di Sragen Mengeluh, Jatah Alokasi Pupuk di Tahun 2019 Turun

FOKUSLINTAS.com, SRAGEN – Terkait jatah pupuk untuk petani saat ini banyak mengundang keprihatinan bagi kaum petani dan dikeluhkan khususnya di wilayah Kabupaten Sragen, kendala yang menjadi komplain tersebut soal alokasi jatah pupuk dari pemerintah yang menurun di tahun 2019 ini.

Data yang di himpun fokuslintas.com, perihal yang dikeluhkan para petani itu di sebabkan pengusulan di tahun 2019 hampir semua jenis jatah pupuk yang ada di wilayah Kabupaten Sragen realisasinya jauh di bawah usulan di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Hal penurunan itu di nilai sangat drastis, misal untuk jatah pupuk ZA yang tahun 2018, petani dijatah 700 kg atau 7 kuintal perhektare. Contoh lagi soal pupuk untuk ZA turunnya 57 persen, untuk Phonska 50 persen. Akan tetapi di tahun 2019 ini hanya dijatah 300 kg atau 3 kuintal saja perhektare sehingga turun drastis.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sragen Ekarini Mumpuni mengungkapkan hal yang sama terkait pupuk yang dikeluhkan para petani. Perihal tersebut juga diungkap di depan Komisi II DPRD saat beraudiensi dengan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sragen.

“Pihak kami nantinya bakal segera menggelar rapat bersama KP3 beserta tim dan nanti hasilnya akan kita laporkan kepada pimpinan sesuai arahan juga rekomendasi dari para Dewan” tegasnya.

Dalam Audensi tersebut, oleh pihak Dewan menyarankan agar KP3 dan Dinas terkait segera melakukan kajian ulang tentang persoalan itu, mengingat saat ini perihal pupuk sangat banyak dibutuhkan oleh para petani. Oleh pihak Dinas Pertanian Sragen menanggapi positif dan juga berjanji akan segera melakukan kajian ulang serta mengambil tindakan mencari solusi terhadap persoalan pupuk yang dikeluhkan petani.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Kabupaten Sragen, Parwanto juga mengungkapkan hal yang sama terkait penurunan sangat drastis soal jatah pupuk petani, serta sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang seolah makin tidak berpihak kepada petani.

Menanggapi persoalan tersebut dia juga berharap adanya alokasi tambahan bagi para petani untuk menyelamatkan nasibnya. Harapan dia, kalau pun diturunkan juga adanya kebijakan dan tidak sampai 50 persen.

“Terhadap pihak Pemerintahan atau Dinas terkait, harapan kami untuk segera adanya kajian ulang serta kebijakan adanya alokasi tambahan bagi para petani karena pupuk adalah sarana terpenting bagi warga masyarakat yang berkehidupan sehari-hari dengan bertani” tukas dia. ( Awi )

Related Post