Wujud Lestarikan Budaya, Dua Tokoh Pakar di Solo Membedah Ilmu Jawa


FOKUSLINTAS.com, BUDAYA – Masih dalam suasana cuaca yang begitu ekstrem dan disertai curah hujan yang tinggi menyelimuti wilayah Kota Bengawan ini, kasak kusuk kabar air meluap dari aliran sungai terkenal itu pun mulai terdengar dari berbagai titik daerah, sehingga berdampak terjadi adanya banjir menggenangi pemukiman warga dibeberapa daerah Kota Bengawan Solo.

Terkait hal itu, sejenak tim fokuslintas.com masih bercengkrama dengan cuaca alam yang terkadang tidak bersahabat itu, dengan menikmati secangkir kopi itulah ciri khas teman sejati wartawan Media Fokus Lintas dalam menuangkan segenap inspirasinya sebagai jurnalis dengan berbagai bentuk karya tulisnya.

Akan tetapi kenikmatan ngopi kali ini terasa beda dari hari biasanya, bagaimana tidak, karena suasana kali ini tim fokuslintas.com diundang khusus secara langsung ditengah mereka bertempat di Desa Gentan, Kab. Sukoharjo, dalam pertemuan 2 tokoh ternama dalam membedah Sejarah dan Budaya antara Putra Sinuhun Pakubuwono XII, KGPH Puger atau biasa disapa Gusti Puger bersama salah satu Pakar Ilmu Matematika, Mr. Setiawan dimana saat ini sedang mendalami dan mengembangkan terkait ilmu Budaya Jawa, Minggu, (10 Maret 2019).

Gusti Puger-Mr Setiawan-Tim Fokus Lintas

Sementara itu, dalam suasana yang tampak syahdu juga penuh kebersamaan tersebut oleh Gusti Puger mulai mengawali pembahasan mengenai sejarah peradaban kerajaan yang ada di tanah jawa.

Gusti Puger juga mengatakan, bahwa terkait sejarah adanya perkembangan kerajaan Islam mataram di tanah jawa berawal di bawah kepemimpinan Pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613 sd1646) setelah tragedi menyerang VOC di Batavia.

“Pada masa itu Sultan Agung adalah sosok raja yang terkenal, selain linuwih juga mempunyai banyak kepiawaian, salah satu karya yang dibuatnya adalah mengarang sebuah Kitab Sastra gending yang berisi Filosofi tabiat tentang Kitab Nitisruti, Niti Sastra dan Astabrata,” ungkapnya.

Suasana tampak semakin khusyuk dan sakral, dalam keheningan itu oleh Mr. Setiawan tampak fokus dan seksama mendengar semua wejangan yang di wedar dari Gusti Puger. Oleh Mr. Setiawan selanjutnya mencoba memberanikan diri mengajukan pertanyaan pada Gusti Puger terkait makna dari beberapa kitab karya Sultan Agung tersebut.

“Kitab Nitisruti berisi ajaran kehidupan yang menjaga hubungan keselarasan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia secara harmonis, lalu hubungan manusia dengan Tuhan sang pencipta alam. Untuk Kitab Nitisastra berisi tentang pengelolaan Negara Mataram berdasarkan Tata Negara, Undang undang dan Hukum. Sedangkan Astabrata diambil dari buku babat Ramayana yang mengisahkan cerita sosok Prabu Sri Rama ketika hendak melantik Bharata menjadi Raja di Ayodya Hasta Brata. Dalam hal itu makna ‘Hasta artinya delapan, Brata itu bertapa, yang mengartikan jika menjadi seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tekun, arif dan bijaksana, ” jelasnya.

Menurut Gusti Puger, istilah kepemimpinan Asta Brata tersebut meliputi 8 ajaran utama dimana sesuai petunjuk Sri Rama yang disampaikan terhadap adiknya ketika penobatan menjadi raja Ayodya.

Menilik dari Sastra Gending karya Sultan agung, dasar sastranya dari Serat Niti Sruti yi yaitu ajaran kepemimpinan yang dibuat berdasarkan pewisik alam, sehingga terwujud sebuah tembang yang diiringi gending berisikan petuah tentang bagaimana menjadi pemimpin baik, dari ekonomi, politik, disbud, agama dan budaya.

Dasar yang kedua adalah Serat Niti Sastra yi ajaran kepemimpinan berdasarkan pengalaman pemimpin yang berhasil dan kepemimpinan Asta Brata, lalu konsep manunggaling Kawulo Gusti yi konsep Nyawiji Kawulo lan Gusti yi rakyat dan pemimpinnya itu secara horizontal, kalau secara vertikal bagaimana manusia sebagai hamba Tuhan Nyawiji sehingga sifat Tuhan ada pada seorang pemimpin, lalu jagad agung, jagad alit menjadi damai, sejahtera lahir dan batin.

Sedangkan membedah soal adanya 8 ajaran utama yang dimaksud tersebut diantara:

1. Indra Brata, seorang pemimpin hendaknya dapat hujan mengusahakan kemakmuran.

2. Yama Brata, artinya pemimpin hendaknya meneladani Dewa Yama berani menegakkan keadilan.

3. Surya Brata, pemimpin memiliki sifat 2 matahari ,mampu memberi semangat dan kekuatan pada kehidupan sehingga menjadi sumber energi.

4. Candra Brata, artinya memberi penerangan dalam kegelapan/kebodohan.

5. Bayu Brata, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat, turun ke masyarakat.

6. Pertiwi Brata, mempunyai sifat utama, teguh, untuk kesejahteraan rakyat.

7. Baruna Brata, yaitu memiliki wawasan yang luas, arif dan bijaksana.

8. Agni Brata, artinya memiliki sifat mulia, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi.

“Untuk melengkapi kesempunaan hidup kita wajib selalu ingat dan sujud dengan cara keyakinan dan agama yang di anut masing-masing dengan rasa merdiko, aman dan tentram. Jadi hubungan vertikal kepada Sang Khalik itulah yang disebut Manunggaling Kawulo lan Gusti. Lalu yang terakhir manusia di wajibkan memegang teguh janji suci pada ciptaan Tuhan atau yang disebut Mahayu hayu Bawana Kanggeng artinya menjaga kelestarian jagat ini dengan menjaga ekosistem yang baik.” Pungkas Gusti Puger dan sekaligus mengakhiri wejangan membedah sejarah ilmu jawa tersebut.

Pada penghujung acara perjamuan atau pertemuan khusus tersebut, oleh mereka juga masih dilanjutkan dengan bincang-bincang bersama, suasana yang hangat dan penuh keakraban juga tampak begitu melekat dari mereka, terlihat dari obrolan yang terkadang adanya canda tawa penuh kekeluargaan.

Pada kesempatan yang sama, Mr. Setiawan saat berbincang dengan fokuslintas.com juga mengatakan banyak berterima kasih dan sangat senang mendapatkan banyak pembelajaran dari ilmu budaya leluhur jawa tersebut.

“Suatu hal yang istimewa dan kehormatan bagi saya mendapat wejangan langsung dari Gusti Puger, saya sangat senang dan akan terus mendalami, ternyata ajaran budaya dan filosofi ilmu jawa itu sangat adi luhung dengan makna tinggi. Saya mengharapkan semua pihak mari bersama untuk melestarikannya.” Tukas dia.

( Mbah memet)

Editor : Awi

Related Post