Antara Nilai, Etika, Moral, dan Norma

FOKUSLINTAS.com, OPINI — Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul.

Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya, serta terjaminnya agar perbuatan yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat.

Manusia (khususnya Jawa) percaya garis hidupnya sudah ada yang mengatur, dan dengan itu mereka menerima apa yang menjadi bagiannya dan melaksanakan apa yang menjadi bagiannya itu. Dalam hal ini orang Jawa melaksanakan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya (darma). Darma berarti kewajiban atau tugas hidup. Darma berhubungan dengan anggapan bahwa setiap manusia entah kecil atau besar, banyak atau sedikit mempunyai tugasnya yang khas dalam keseluruhan dan masing-masing berperan dalam penciptaan kerukunan, keselarasan, perdamaian serta kemakmuran masyarakat.

Jika darma tidak dijalankan dengan baik, orang Jawa percaya pada konsep karma sebagai sanksi yang memayungi segala tindak tanduk manusia. Suatu pembalasan setimpal yang diberikan di dunia terhadap perbuatan kurang pantas di masa lalu yang tidak sesuai dengan kewajiban-kewajibanya. Istilah karma lebih menunjuk pada hukum Ilahi terhadap segala tingkah laku di dunia. Pikiran akan karma adalah motif kuat untuk mencegah tindakan-tindakan yang kurang pantas. Namun anggapan tentang karma juga merupakan rangsangan untuk melaksanakan apa yang menjadi darma melalui kewajiban-kewajibannya.

Etika Jawa berisi tentang sikap hidup yang di dalamnya terdapat sikap rukun dan sikap hormat. Etika Jawa yang dimaksud adalah semua orientasi manusia Jawa untuk mencapai tujuan dalam kehidupan juga dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Istilah etika berasal dari arti sebenarnya, ialah kebiasaan. Etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat. Etika sebagai suatu ilmu yang normatif, dengan sendirinya berisi norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain dua kaidah dasar yang ada pada masyarakat Jawa, manusia Jawa juga memiliki pandangan dunia dalam menjaga kelangsungan hidup. Takdir, darma dan karma merupakan satu kesatuan eksistensi yang dijadikan patokan dalam menjalani hidup di dunia. Hal ini mengisyaratkan bahwa selama menjalankan kehidupannya, orang Jawa senantiasa mawas diri dan tidak berlaku secara gegabah atau grusa-grusu. Di samping itu nampak pula bahwa hidup manusia akan berhasil, sejauh ia berhasil menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada di sekitar hidupnya. Dan keadaan semacam itu akan tercapai apabila seseorang memiliki sikap batin yang tepat seperti sabar, ikhlas, nrimo serta eling.

Dalam perjalanan kehidupannya manusia senantiasa hidup dalam sistem sosial yang sudah terbentuk di dalam lingkungan masyarakatnya. Hal ini menjelaskan bahwa setiap masyarakat pasti menghendaki agar para anggotanya melaksanakan dan menjaga kelangsungan hidup dengan nilai-nilai, yaitu ukuran yang telah menjadi kesepakatan pada masyarakat itu. Nilai merupakan sesuatu yang menarik, sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, artinya sesuatu yang baik. Dengan kata lain, nilai adalah ukuran yang harus ditegakkan untuk melestarikan irama kehidupan sesuai dengan kodrat alam dan cita-cita luhur suatu masyarakat.

Dalam hidup sehari-hari nilai-nilai itu terlihat pada setiap perbuatan atau tingkah laku yang bersumber pada akal, kehendak, perasaan, dan kepercayaan. Dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada akal akan lahir nilai benar dan salah, dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada kehendak maka akan lahir nilai-nilai baik dan buruk, dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada perasaan maka akan lahir nilai-nilai indah dan tidak indah, sedang dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada kepercayaan akan lahir nilai religius dan nonreligius.

Moralitas merupakan suatu usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal. Membimbing tindakan dengan akal yaitu melakukan apa yang paling baik menurut akal, seraya memberi bobot yang sama menyangkut kepentingan individu yang akan terkena oleh tindakan itu. Hal ini merupakan gambaran tindakan pelaku moral yang sadar. Pelaku moral yang sadar adalah seseorang yang mempunyai keprihatinan, tanpa pandang bulu terhadap kepentingan setiap orang yang terkena oleh apa yang dilakukan beserta implikasinya. Tindakan tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip yang sehat.

Moralitas merupakan bagian dari filsafat moral atau kesusilaan ialah bagian dari filsafat yang memandang perbuatan manusia serta hubungannya dengan baik dan buruk, secara khusus menjelaskan bahwa ajaran moral adalah ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik.

Dalam masyarakat Jawa misalnya, sumber langsung ajaran moral adalah orang-orang dalam kedudukan yang berwenang sebagai sumber ajaran moral, seperti orang tua dan guru, para pemuka masyarakat dan agama, serta tulisan-tulisan para bijak seperti kitab ajaran-ajaran yang bersumber pada tradisi dan adat-istiadat, ajaran agama, atau ideologi tertentu.

Nilai moral yang merupakan kebijaksanaan hidup agar menjadi manusia yang baik, belum sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat. Bangsa Indonesia sampai sekarang masih mengalami krisis moral. Media cetak dan media elektronik pun banyak memuat berita mengenai krisis moral yang masih berkepanjangan. Krisis yang terjadi membuat manusia tidak lagi mampu memahami perbedaan benar dan salah ataupun tingkah laku yang baik dan tidak baik. Orang dengan ringannya memfitnah, mengadu domba, bahkan sampai menyebabkan orang lain meninggal, demi mengejar kekuasaan. Dunia pendidikan pun, yang seharusnya menjadi penjaga nilai-nilai moral juga telah mengalami degradasi, orang berbuat curang hanya untuk mengejar nilai Ujian Nasional.

Permasalahan moralitas terjadi juga di kalangan masyarakat umum, terutama di kalangan remaja. Permasalahan moralitas yang tercermin dalam perilaku-perilaku yang kurang sesuai dengan nilai-nilai moral, misalnya budaya hedonisme (ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia), dan gaya berpakaian yang tidak sepantasnya. Perilaku ini bisa diakibatkan oleh budaya barat yang tidak disaring dengan baik sehingga semuanya diserap oleh sebagian generasi muda. Generasi muda memang sering memiliki keinginan untuk mencoba, tanpa memikirkan resiko dari perbuatan tersebut. Jika generasi muda dibiarkan saja dalam kondisi seperti ini, maka ke depannya kemajuan bangsa akan terhambat karena generasi muda adalah generasi penerus bangsa.

Dalam sastra lisan terungkap kreativitas bahasa dan sastra yang di dalamnya ditonjolkan hakikat kemanusiaan masyarakat di masa lampau. Naskah merupakan dokumen yang paling menarik untuk di kaji, karena memiliki kelebihan yaitu dapat memberikan informasi yang luas dibandingkan bentuk peninggalan yang lain salah satunya adalah serat atau naskah. Serat sebagai suatu karya sastra sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sebagai sebuah karya sastra, serat mengandung gambaran kehidupan tercemin pada piwulang atau pendidikan yang terkandung di dalamnya. Serat merupakan salah satu karya sastra jawa kuno yang cenderung berupa naskah-naskah tembang macapat baik berisi kisah (babad, legenda) maupun nasihat-nasihat. (Berbagai Sumber)

SALAM REDAKSI

MEDIA FOKUS LINTAS

YULIANTO

Related Post