Menguak Sejarah Tanah Jawa Pada Tembang Saloka

FOKUSLINTAS.com, SEJARAH – Salah satu tembang atau lagu yang terkenal pada masa penjajahan Belanda sampai awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu tembang Witing Klapa.

Tembang ini sebenarnya berupa saloka yang menceritakan tentang terpecahnya Kraton Surakarta menjadi Kraton Ngayogyakarta dan Kraton Surakarta karena Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Perjanjian yang terjadi antara Pemerintah Belanda yang waktu itu diwakili Gubernur Jenderal Nicolaas Hartingh dan Sultan Hamengku Buwono atau Pangeran Harya Mangkubumi.

Saloka merupakan kalimat atau tetembungan seperti paribasan atau peribahasa tetapi sulit untuk dipahami maksud yang terkandung di dalamnya.

Tembang saloka Witing Klapa berbunyi “Witing klapa, jawata ing ngarsa pada, saklugun wong wanita, dasar nyata ingkang sampun njajah praja ing Ngayogyakarta Surakarta“.

Makna dari tembang tersebut wit klapa (pohon kelapa) itu bernama glugu, jawata ing ngarsa pada itu nama ratu. Jadi maknanya salugune sing dadi ratune(tanah Jawa) iku wong wedok (sebenarnya ratu tanah Jawa) yaitu Ratu dari Belanda, Wilhelmina.

Cerita sejarah lainnya yang terkandung dalam tembang saloka yaitu sejarah Jaka Tingkir sebelum menjadi menantu Sultan Trenggono, Sultan dari Demak. Tembang salokanya berbunyi, “Sigra milir, sang gethek sinangga bajul, kawandasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanankering, sang gethek lampah alon”.

Dari saloka ini bermakna tentang peristiwa yang dialami Jaka Tingkir calon raja Pajang. Sanh gethek artinya calon pemimpin, sedangkan bajul berasal dari kata bajul dharat yaitu para pemberontak keraton Demak, sejumlah 40 kelompok yang mengepung keraton Demak.

Dengan  dipandhegani atau dipimpin Ki Banyu Biru, Ki Getas Pendhawa, Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Butuh. Kesemuanya berasal dari keturunan punggawa kerajaan Majapahit yang kentir atau mengungsi ke Kadipaten Pengging.

Jadi tembang saloka yang berkembang pada masa dahulu memang mengabadikan sebuah peristiwa bersejarah, terutama di tanah Jawa. Sungguh luar biasa karya saloka tersebut.

Saya bahasakan dan rangkum kembali dari artikel berbahasa Jawa karya Budiono Herusatoto dengan judul Witing Klapa, Ngemu Carita Sujarah.

Kontributor : Awi

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *