Tentang Kerajaan Mendang Kamulan di Timur Purwodadi

FOKUSLINTAS.com – Memasuki wilayah Jawa bagian tengah, Bujangga Manik menelusuri daerah (lurah) Barebes (kini Brebes) di sebelah kiri dan Gunung Ageung di kanan. Gunung yang dimaksud adalah Gunung Slamet saat ini.

Noorduyn dalam bukunya “Perjalanan Bujangga Manik Menelusuri Jawa (Ombak, 2019) menjelaskan, sesungguhnya Gunung Slamet ini ada di tenggara Barebes. Nama Slamet sendiri mulai dipakai ketika pengaruh Islam merambah wilayah pedalaman Jawa.

Berdasarkan topografi yang disebutkan, Bujangga Manik menyusuri wilayah pedalaman Brebes ke arah Pemalang, menjauh dari kawasan pesisir hingga mencapai Pekalongan bagian selatan. Sebelum melintasi Ci-Comal (Kali Comal), ia melewati enam tempat.

Di antaranya Moga, Ci-Pakujati, Balingbing, Arega Sela, Kupang, Tinep dan Tumerep. Sebagian bisa dikenali, sebagian lagi sulit dilacak. Arega Sela kini bernama Rogoselo di selatan Pekalongan. Kupang ada di selatan Kota Batang.

Tinep kini bernama Tinap, dan Tumerep kini bernama Tumbrep di tenggara Batang. Meski menyebut Pekalongan dan Batang, Bujangga Manik benar-benar tidak melewati kota-kota pesisir utara Pulau Jawa itu.

Setelah melewati sekitar 8 tempat/daerah, ia sampai di sebuah daerah bernama Padanara atau Danara. Dari lokasi ini, Bujangga Manik bisa mengenali gunung-gunung di selatan Jawa bagian tengah. Nama yang disebut itu mirip dengan Pandanaran, yang menurut cerita diyakini pendiri Kota Semarang.

Dilihat dari kronologinya, Noorduyn yakin nama yang disebut Bujangga Manik itu sudah ada sebelum Sunan Pandanaran memulai pemerintahan kepanjangan tangan Sultan Demak. Nama mirip juga pernah disebut Tome Pires, penjelajah Portugal yang lewat daerah itu 1513.  

Bujangga Manik menyebut nama-nama gunung yang dilihatnya di arah selatan. Yaitu Gunung Rahung, kemungkinan yang dimaksud Gunung Prahu di sebelah barat Gunung Diheng (Dieng). Kemudian Gunung Sundara (Sindoro) dan Gunung Kedu atau yang dimaksud sekarang Gunung Sumbing.

Gunung Sumbing terlihat dari wilayah Kedara di Jawa Tengah (1928) (Koleksi Tropenmuseum)

Selanjutnya Gunung Damalung atau kini Gunung Merbabu. Berikutnya Gunung Karungrungan, atau yang kini dikenal sebagai Gunung Ungaran. Gunung Marapi (Merapi) juga disebut, yang terletak di lurah (daerah) Karangian. Nama terakhir ini tak lagi dikenali.

Gunung Damalung menurut Noorduyn pernah disebut epigraf NJ Krom dalam pembacaan prasasti Ngadoman bertarikh 1449 Masehi, yang ditemukan di lereng utara gunung itu. Mengenai Gunung Karungrungan (Ungaran) teridentifikasi dari nama puncak  Kroenroengan/Ngroengroengan.

Nama yang sama ditemukan dalam prasasti Kuti sebagai Gunung Karundungan. Menjadi Gunung Karurungan atau Karungrangan dalam kisah klasik Tantu Panggelaran. Teks-teks Jawa seperti Serat Kandha menyebutnya Karungrungan.

Setelah dari Padanara (Semarang), Bujangga Manik meneruskan lakunya menuju Pidada (kini Pidodo) di sebelah timur daerah itu. Selanjutnya ke Jemas (tidak dikenali). Nama Welahulu di sebelah timur. Noorduyn sulit mengenali daerah ini, karena praktis tidak ada daerah tinggi di sisi timur Semarang.

Daerah tertinggi yang ada di sebelah timur Semarang hanyalah Gunung Muryo (Muria) di Jepara. Meninggalkan Jemas, ia menyebut Prawata (Sans: Parvata) atau gunung. Lebih tepatnya bukit yang dikeramatkan di wilayah Demak.

Lepas dari Prawata, ia memasuki desa Pulutan (sekarang sebelah barat Purwodadi), sebelum mencapai Medang Kamulan. Penyebutan nama Medang Kamulan oleh Bujangga Manik ini menunjukkan nama kerajaan atau daerah kuna itu benar-benar ada.

Di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, ada sebuah dusun bernama Medang, yang dipercaya pernah jadi pusat kerajaan Medang Kamulan. Jejak kekunaan di daerah ini sangat kuat. Balai Arkeologi Yogyakarta akhir Maret 2019 melakukan penelitian dan ekskavasi situs di Dusun Medang ini.

Warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus melakukan penggalian pondasi bangunan yang diduga merupakan sisa konstruksi kerajaan Medang Kamulan di areal persawahan setempat, Rabu (14/10/2015). Diperkirakan, panjang bangunan tersebut mencapai satu kilometer.

Dari Medang, resi itu berjalan ke selatan menuju lurah Gegelang setelah menyeberangi Sungai Wuluyu. Sungai ini sekarang disebut Bengawan Solo. Jadi Gegelang ada di sebelah selatan sungai terpanjang di Jawa ini, dan kandidat terkuat lokasinya di dekat Madiun.

Gegelang juga kemungkinan nama sama untuk Glang-glang pada masa kuna. Daerah ini berbatasan dengan wilayah Ngurawan atau Urawan di barat daya Madiun sekarang. Dari Gegelang, Bujangga Manik menyusuri utara Gunung Wilis sebelum menyeberangi sungai Cangku (kini Kali Madiun).

Tak ada lagi nama disebutnya, hingga ia menyeberangi Ci-Ronabaya. Inilah nama kuna Kali Brantas. Ia hanya mengatakan melewati Daha, yang dimaksud tentu daerah, bukan nama kotanya yang terletak jauh di selatan. Ia mencapai Pujut, tempat ia menyeberangi sungai besar itu.

Pujut disebut dalam prasasti Tambangan bertarikh 1359 Masehi, sebagai nama tempat yang memliki tambangan untuk penyeberangan.

Lokasi persis tidak diketahui, namun menurut penyelidikan van Stein Callenfels dan van Vuuren, Pujut tak jauh dari jembatan Brantas di Kertosono sekarang.(*)

Editor : Admin

Kontributor : Awi

Dari berbagai Sumber

Related Post