Misteri Ramalan Jayabaya dan Pemindahan Ibukota

FOKUSLINTAS.com, SEJARAH – Sri Aji Joyoboyo disebut memiliki ratusan ramalan soal masa depan Nusantara. Dia meramal Nusantara dari masa runtuhnya Kerajaan Kediri hingga sekarang. Di antara ratusan itu, ada delapan ramalan yang sering dikaitkan dengan peristiwa di Tanah Air.

Kedelapan ramalan tersebut adalah Murcaning Noyogenggong Sabdopalon, Semut Ireng Anak-anak Sapi, Kebo Nyabrang Kali, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol, Pitik Tarung Sak Kandang, Kodok Ijo Ongkang-ongkang, Tikus Pithi Anoto Baris dan Reinkarnasi Noyogenggong Sabdo Palon.

Kita boleh tak percaya tapi karena kebiasaan orang Jawa yang suka menghubung-hubungkan suatu peristiwa dengan ucapan pendahulu, jadi banyak ramalan tersebut yang akhirnya jadi kenyataan.

Salah satu ramalan Jayabaya adalah orang Jawa kehilangan Jawanya. Ada yang mengartikan kalau pulau Jawa akan hilang alias tenggelam suatu saat nanti. Berbagai asumsi baik secara moral maupun ilmu alam mulai dikaji. Dari segi moral ada yang mengatakan kalau Pulau Jawa sudah tidak mampu menahan beban dosa yang dilakukan penduduknya.

Kalau dihubungkan dengan serangkaian peristiwa mancanegara bisa dikaitkan dengan dosa para koruptor. Dosa masyarakat yang sering menghina pemimpinnya (Jokowi). Banyak orang menggadaikan akidah untuk kepentingan politik. Menjual kitab suci dengan harga yang murah untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Mereka yang ingin mengubah negara demokrasi menjadi khilafah. Sampai seruan people power yang jelas mengadu domba saudara sebangsa.

Belum lagi di Jakarta ketika ada pemimpin terbaik seperti Ahok yang mampu menyelesaikan banjir malah dihujat. Difitnah menghina agama dan sebagainya padahal mereka hanya ingin mengambil jabatannya dengan menghalalkan segala cara termasuk menjual agama. Kini Jakarta dipimpin oleh orang yang haus jabatan tapi tak memberi manfaat sedikitpun untuk kotanya. Jakarta yang terletak di pinggir pantai dibiarkan banjir dan tenggelam.

Kalau dari segi ilmu alam memang tenggelamnya Pulau Jawa bisa dikatakan pasti terjadi dan hanya menunggu waktu. Alasan utamanya adalah pemanasan global dan naiknya permukaan air laut. Faktor lain karena banyaknya gempa yang terjadi di pulau Jawa yang mengikis pondasi di bawah tanah. Ada juga yang menyebut semburan lumpur lapindo sebagai kebocoran oli atau pelumasnya Pulau Jawa.

Jadi, mau tidak mau ibukota harus dipindahkan. Selain alasan agar tidak menjadikan Jakarta kota penuh sesak dan pusat bisnis. Juga karena suatu saat Pulau Jawa akan tenggelam dan alangkah baiknya memindahkan ibukota sebelum hal itu terjadi untuk menjaga eksistansi negara.

Saya yakin pakdhe yang berasal dari Solo juga termasuk orang “kejawen” yang paham aturan di Jawa. Entah beliau mempercayai ramalan jayabaya atau tidak, wallahu a’lam. Apapun alasannnya pemindahan ibukota tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi sejumlah negara di dunia. Dan negara-negara tersebut membuktikan kalau pergantian ibukota tidak mempengaruhi apapun.

Mungkin kaum sebelah yang merasa was-was ketika ibukota dipindah merasa tidak punya sasaran demo lagi. Mereka mau berdemo ke monas kek atau ke gedung pemerintahan yang lama tak akan mempengaruhi pemerintahan yang nantinya terpusat di luar Pulau Jawa. Karena saking takutnya jatah uang demo tak ada atau terlalu jauh dan mahal di ongkos kalau haru mendemo pemerintah di luar Pulau, makanya mereka kelojotan dengan wacana pemindahan ibukota.

Dari saya kalau pemerintah sudah pindah nantinya tinggal lambaikan tangan saja pada para pendemo yang sebentar lagi kehilangan job utamanya. Wacana people power, kudeta dan sebagainya tinggal ilusi saja. Semoga rencana tersebut segera terwujud demi kedamaian negara tercinta. Biarlah orang-orang yang tidak mencintai NKRI kehilangan target utamanya. Tak ada lagi ribuan personil polisi dan TNI diterjunkan untuk mengamankan demo. Tak ada lagi uang pengamanan yang dikeluarkan sia-sia. Tak ada lagi gejolak ekonomi dalam negeri karena macet dan demo. Biarlah Jakarta yang dipimpin Anies menjadi pusat bisnis saja.

Biarlah Jakarta jadi sejarah bagaimana rakyat yang terhasut janji surga menderita dikemudian hari karena menyia-nyiakan seorang Ahok. Biarlah kota Palangkaraya atau kota manapun nantinya akan mengukir sejarah baru sebagai ibukota untuk anak cucu kita kelak dimasa depan.

Editor : Admin

Kontributor : Awi

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *