Asahlah Otak, 5 Hal Ini Sebelum Menfitnah dan Menuduh Orang Lain

FOKUSLINTAS.com, SERBA SERBI – Bijaklah dalam menanggapi ketidakpastian yang terjadi, Bicara ceplas-ceplos akan sangat berbahaya bagi kita apabila tak bisa dikontrol dengan baik. Ketika melihat suatu kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, dengan sekejap respon kamu langsung menuduh dan mengatakan segala bahasa negatif yang keluar dari mulut kamu. Mungkin kamu benar kala itu, tetapi kebiasaan ini bukanlah hal yang wajar jika secara terus menerus seperti itu.

Karena pada waktu yang berbeda saat kamu melihat suatu kejadian buruk dan orang yang bersangkutan ada di tempat tersebut, biasanya kamu akan mengarahkan pandangan kepada dia lalu mengatakan “pasti kamu lagi yang melakukannya”. Konyol sudah?

Nah, tentu ia akan kaget dan sontak merespon, “Ah bukan aku kok, kenapa kamu main tuduh aja? Jangan sembarangan dong kalau bicara.”

Jika sudah begini kondisinya, maka kamu harusnya lebih hati-hati dalam berucap apalagi langsung men-judge orang lain.

Untuk itulah, kita dapat mempertimbangkan 5 hal ini sebelum menuduh orang lain bersalah. Sering berprasangka buruk juga gak baik lho bagi kamu.

1. Belum tentu apa yang kamu curigai itu benar adanya

Curiga itu boleh, tapi jangan menuduh. Kalimat ini sering diucapkan baik kamu ataupun orang lain ketika memberikan nasehat kepada yang lainnya agar tidak menuduh secara langsung tanpa bukti yang jelas.

Mengatakan orang lain bersalah tanpa adanya fakta yang mendukung akan mengarah kepada fitnah jika orang yang kamu tuduh tersebut sama sekali tidak melakukan kesalahan.

Apabila orang yang bersangkutan keberatan atas tuduhan kamu, maka ia berhak untuk menuntut balik ke kamu karena kamu telah melakukan pencemaran nama baiknya. Dipikir dulu ya sebelumnya, biar kamu tak kebablasan dalam berbicara dan jangan terus-terusan curiga kepada orang lain.

2. Cari tahu dulu prosesnya, bagaimana hal itu bisa terjadi

Lebih baik kamu mencari tahu sebab-sebab terjadinya kesalahpahaman tersebut, sehingga bisa lebih bijak dalam memutuskan benar dan salahnya. Jangan mentang-mentang telah terjadi sesuatu yang salah, kamu langsung berkata-kata buruk di depan orang lain.

Pahami dulu bagaimana proses terjadinya dengan detail untuk kamu pertimbangkan, apakah orang tersebut harus diberikan sanksi untuk kesalahan yang dilakukannya atau mungkin sekedar saran untuk mengingatkan.Lanjutkan membaca artikel di bawah

3. Jika benar tuduhan kamu, bicarakan dengannya secara terhormat

Nah, pada kondisi ini kamu harus benar-benar memahami saat kamu tahu orang itu telah melakukan suatu kesalahan. Kamu bisa berdialog dengannya secara baik-baik, tidak ada kekerasan atau hal-hal yang tidak seharusnya terjadi.

Memang berat jika kamu harus memaafkan dia, namun dengan cara itu ia bisa instrospeksi diri dan mau berjanji untuk tidak mengulang kembali kesalahan yang sama maupun kesalahan lainnya.

4. Jangan mencari-cari kesalahan lainnya

Saat kamu telah mengetahui kebenarannya dan ia telah mengakui kesalahannya, jangan lagi kamu mencari kesalahan lainnya yang tak ada hubungannya dengan kejadian saat ini.

Biarlah kesalahannya di masa lalu itu menjadi pengalaman dan pembelajaran baginya karena tidak semua harus kamu ketahui tentang orang tersebut hanya karena sebuah kesalahan yang telah diperbuatnya.

5. Bersikaplah sewajarnya sebagai perbandingan saat kamu juga berada di posisinya

Kamu mungkin ingin marah ketika tuduhan kamu itu sesuai fakta yang sesungguhnya. Tetapi cara terbaik yang bisa kamu lakukan adalah bersikaplah legowo atas sangkaan buruk kamu yang benar tersebut dan perlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya, karena kamu bisa membandingkan diri saat kamu berada di posisinya.

Karena tidak ada kesempurnaan yang bisa dicapai oleh seseorang tanpa melewati proses yang berliku sehingga sengaja maupun tanpa disengaja kita pasti pernah berbuat kesalahan. Memaafkan tentu lebih baik, namun kamu juga bisa memberikan solusi kepadanya agar bisa meninggalkan segala perbuatan buruknya.

Semoga dengan pertimbangan di atas, kamu bisa lebih cermat dalam menentukan benar dan salahnya seseorang atas kecurigaan kamu terhadapnya.[Id-Awi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post