OPINI: Ketika Engkau di Fitnah dan Merasa Terdzalimi

FOKUSLINTAS.com, OPINI – Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi dan dari cerita sebagian teman-teman yang merasa dirinya didzalimi, difitnah, disakiti, dicela, direndahkan, maupun perlakuan tidak mengenakkan lainnya yang dilakukan oleh teman-temannya sendiri atau orang-orang terdekatnya yang lain.

***

Hidup di dunia dan berhubungan dengan banyak manusia, siapa sih yang tidak pernah melakukan kesalahan? Siapa juga yang tak pernah merasa terdzalimi? Pasti kita semua pernah mengalaminya bukan?

Untuk diriku dan semua saudaraku yang sedang mengalami hal yang sama:

Sebagai pengantar, barangkali beberapa kalimat dengan sedikit tambahan dan editan berikut ini bagus untuk direnungkan:

Wahai engkau yang hatinya masih mudah marah karena cemoohan orang lain, dan yang darahnya mudah mendidih dengan rencana untuk membalas..

 Janganlah MERENDAHKAN DIRIMU SENDIRI dengan juga melakukan yang dilakukannya.

 Katakanlah …

 “DIAM ADALAH JAWABAN TERBAIK BAGI MULUT YANG KOTOR DAN PERILAKU YANG BURUK”

 Jangan membalas. Sabarkanlah dirimu.

 Lakukanlah yang penting, yang akan menjadikanmu lebih berhasil daripadanya.

 Gumamkanlah di dasar hatimu …

 “LIHAT SAJA NANTI”

Ya, sebagian besar kita sangat sensitive dan mudah marah ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan tidak baik..Tapi, marah itu tidaklah menyelesaikan masalah saudaraku. Bahkan itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali hanya kejengkelan dan kebencian semata.

Buktikan saja jika kita lebih baik dengan hal-hal yang positif.

***

Sebagai seorang manusia yang fitrohnya lebih mengedepankan logika, kitapun juga pernah merasa terdzalimi. Serangkaian kalimat dibawah ini adalah kalimat yang saat dimana kita merasa tersakiti oleh orang lain, barangkali inilah gambaran hati saat itu, ketika emosi sedang memuncak dan kemarahan hampir saja meluap:

Aduh, capek deh, memangnya siapa mereka, kalau aku marah, ngedown, futur berarti mereka hebat donk bisa membuatku sebegitu tersakiti?

Itu artinya aku KALAH..

Apalagi kalau ditanggapi, berarti mereka penting donk, so g perlu deh segitunya, banyak hal yang jauh lebih penting..

Tidak semua pertanyaan harus dijawab dan tidak semua hal harus ditanggapi bukan?

Ibarat “biarkan anjing menggonggong dan kabilah tetap berlalu”

SABAR adalah senjataku, apalagi kalau bukan itu??

Percayalah, dengan diam, sabar, dan merasa baik2 saja aku berarti MENANG..

Kalau hanya memikirkan harga diri, rasanya waktuku terlalu berharga jika terbuang hanya untuk memikirkan “kemarahan” pada mereka dan meladeni/membalas perbuatannya..

Cukup abaikan saja, bersikap cuek seolah tidak terjadi apa2.

Aku tidak butuh mereka, aku bisa sendiri, aku kuat dan tidak akan terpengaruh dengan hal2 “sepele” seperti itu..

Aku hanya butuh penilaian dari ALLAH, bukan dari manusia..

Sekali lagi, “MEMANGNYA SIAPA MEREKA??”

Yah, itulah sekelumit kalimat yang coretan saat amarah memuncak, secara spontan terciptalah kalimat menggebu-gebu tersebut untuk melampiaskan kekesalan. Terkadang memang perlu motivasi dari diri sendiri untuk tetap kuat sebagaimana apa yang di tuliskan.

Dalam ayat ini Allah Ta`ala menjanjikan bagi orang yang bersabar dengan tiga keutamaan, yaitu:

1) Shalawat dari Allah Ta`ala. Yaitu disebut-sebut namanya dengan kebaikan oleh Allah Ta`ala di hadapan para Malaikat-Nya.

2) Rahmat Allah bagi mereka yang sabar. Yaitu ampunan dari-Nya dari segala dosa-dosa yang pernah dia lakukan.

3) Petunjuk kepada jalan kebenaran di dunia maupun di akherat.

“Sabar itu ada dua. Yaitu sabar dalam meninggalkan maksiat dan (yang kedua adalah) sabar dalam mengerjakan amalan-amalan taat serta mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala.

Sedangkan jenis kesabaran kedua, lebih besar pahalanya karena kesabaran yang demikian inilah yang dituju dengan amalan sabar itu. Bisa pula dikatakan adanya jenis kesabaran yang ketiga ialah sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kesedihan. Maka jenis kesabaran ini juga wajib sebagaimana wajibnya istighfar (yakni memohon ampun kepada Allah) dari berbagai keaiban”

Nah, dengan mengingat dan merenungkan ayat-ayat tersebut insya Allah kita bisa lebih legowo saat menerima musibah, apapun bentuknya. Cobalah untuk menahan sekuat mungkin, awalnya memang berat, tapi insya Allah lama-lama akan terbiasa jika kita selalu ingat janji Allah untuk orang-orang yang sabar.

Tak ada solusi lain yang lebih indah selain BERSABAR. Sabar itu bagi orang mukmin akan menjadi sebab untuk dihapuskannya dosa-dosanya ketika ia ditimpa musibah. 

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa satu penyakit atau satu musibah atau satu keresahan atau satu kesedihan atau satu gangguan atau satu kegalauan, sampaipun duri menusuk tubuhnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta`ala akan menggugurkan penyakit daripadanya.

Sabar itu adalah tameng bagi orang mukmin dalam menghadapi segala problem hidup.

Yang tak kalah penting adalah engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu.

Hati-hati untuk engkau yang terbiasa “CURHAT”, jangan sampai tertipu dengan berdalih “CURHAT” tapi hakikatnya engkau hanya mengadu dan berkeluh kesah saja.

Karena yang memberikan cobaan kepadamu adalah ALLAH, jika engkau mengadukan dan mengeluhkan kepada orang lain, itu artinya engkau sedang mengadukan ALLAH kepada orang lain (manusia).

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada TEMAN atau TETANGGA.

Adukanlah masalahmu hanya kepada ALLAH, jangan sekali-kali engkau adukan pada manusia yang hal itu akan semakin membuatmu tampak lemah dan mengurangi muru’ah.

Berkeluh kesahlah pada ALLAH, mintalah kepadaNya agar Dia memberikan petunjuk kepada orang yang telah menyakitimu..

Bukan dengan cara engkau dendam dan membalas perbuatannya, tapi DOAKANLAH. Kalau memang dia benar-benar dzalim, biarlah ALLAH yang bertindak.

Tersenyumlah..dan sekali lagi katakan “LIHAT SAJA NANTI”

Dengan begitu engkau akan semakin terpacu untuk sibuk memperbaiki dirimu sendiri dan menjadi lebih baik.

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”.

Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”.

Jika dirimu dicela, dihina, direndahkan, dan didzhalimi oleh orang lain, maka jangan terlalu bersedih. Sesungguhnya pencela dan orang yang mendzalimimu sedang berbuat baik kepadamu dari dua sisi:

1. Ia sedang menghadiahkan kebaikannya padamu

2. Dengan sebab celaannya Allah menghapuskan dosa2mu.

Demikianlah sekedar opini dan nasihat untuk diriku dan untuk saudaraku dimanapun kalian berada.

Akhirnya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam menyikapi segala ujian, cobaan, musibah yang datang dan diberikan pahala yang berlipat-lipat atas kesabaran yang telah kita usahakan..Aamiin

SALAM REDAKSI

DEWAN PENASEHAT

USTAD MALA KHUNAEFI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *