Waspada!! Grup WhatsApp Reuni Sekolah Bisa Jadi Celah Perselingkuhan

FOKUSLINTAS.com, SERBA SERBI-Aplikasi chat semacam WhatsApp memang sangat berguna dan membantu dalam berkomunikasi dengan saudara, teman dan keluarga. Namun, dalam penggunaan aplikasi ini harus hati-hati dan menjaga diri.

Banyaknya grup reuni atau grup berisi rekan-rekan semasa sekolah dulu ternyata juga memiliki potensi negatif.

Tak jarang bertemu lagi dengan orang yang dulu pernah dekat membawa ingatan kita menuju masa lalu.

Kenangan-kenangan semacam ini bisa menimbulkan perasaan senang dan itu yang harus diwaspadai agar tidak mengalami ‘cinta lama belum kelar’ yang menuju perselingkuhan.

Salah satu gerbang yang dapat membuat celah perselingkuhan ini terbuka lebar adalah acara reuni sekolah dan pembentukan grup chat untuk mengumpulkan kembali teman seangkatan.

Mengenang kembali masa lalu, apalagi saat sekolah memang sangat menyenangkan, apalagi kenangan dengan si mantan pacar.

Hubungan yang lama terlah terputus bisa terjalin kembali, entah itu menjadi hubungan pertemanan atau malah menjadi hubungan yang terlarang.

Salah satu temanku ada yang selingkuh gara-gara berhubungan lagi sama mantannya di grup WhatsApp reuni. Gelagatnya kebaca banget, kalau si mantannya ngomong di grup dia langsung nge-reply gitu, eh, tahu-tahu kepergok jalan berdua di mal,” kisah Novia.

Mungkin temannya Novia ini merasa, ngobrol sama si mantan jauh lebih menyenangkan daripada sama suami sendiri. Karena sudah lebih lama kenal, komunikasi jauh lebih terbuka.

Lama tak bertemu bikin lebih banyak cerita yang bisa dibicarakan.

Sementara sama suami, komunikasi tidak terbuka, jarang mengobrol, dan tidak ada waktu mesra berdua. Hambar rasanya. Sehingga, kontak dengan mantan menjadi ‘penyegaran’ untuknya.

Memang, berkomunikasi dengan sang mantan di grup alumni tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai sebuah perselingkuhan.

Tapi, jika pasangan tak pandai menetapkan batasan, bisa saja terjerumus dalam perselingkuhan online ini.

“Jika merespon di grup tentunya itu adalah hal yang biasa, namun pasangan perlu memiliki batasan yang tegas. Misalkan, lebih baik membahas rencana reuni, membantu teman, menggalang dana untuk kegiatan sosial, dan hal positif lainnya. Dibanding fokus dan terlena kenangan masa lalu,” ujar salah Hani salah satu Dewan Pembina media fokuslintas.com.

Sebaiknya memang lebih baik jika dari awal hubungan, baik saat pacaran atau hendak menikah, pasangan sudah memiliki semacam kesepakatan berdua terkait berhubungan dengan lawan jenis, baik mantan pacar ataupun kenalan lainnya.

Nah, jika tidak tegas dan tidak membuat batasan dari awal, bisa jadi percakapan yang hanya di grup berkembang semakin intim melalui personal chat.

“Pembahasan di grup Whatsapp misalnya, mungkin sulit dikategorikan perselingkuhan, namun itu dapat memercik kembali kenangan hingga akhirnya kita mengobrol di jalur pribadi,” ujar Hani.

Dari canda di grup alumni, bukan tidak mungkin pasangan jadi ingin bernostalgia secara pribadi dengan mantan pacar.

Dimulai dengan mengenang masa lalu, lama-lama jadi sering mengobrol, hingga curhat mengenai rumah tangga atau kehidupannya.

Ketika pasangan sudah mulai merasa nyaman mengobrol dengan mantan pacar, itu sudah bisa digolongkan sebagai perselingkuhan emosional.

Selain itu, jika ada pembicaraan atau pengiriman gambar terkait seksual atau melalui video call, itupun sudah tergolong perselingkuhan atau biasa disebut dengan cybersex affair.

Bahayanya, lama kelamaan keinginan untuk mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata, atau pertemuan tatap muka, semakin intens dan tinggi, sehingga dapat digolongkan sebagai sebuah perselingkuhan.

“Semua perselingkuhan tidak pernah diawali dengan niat berselingkuh. Jadi, batasan dengan lawan jenis, apalagi dengan mantan pacar perlu dipertegas saat keduanya sudah berumahtangga. Karena mencegah perselingkuhan lebih baik daripada menyelesaikannya,” saran Hani.

Lagipula, selingkuh sama model CLBK sekolah itu sangat merugikan. Fokus, energi, dan waktu yang seharusnya diberikan kepada pasangannya dan anak-anak, malah diberikan kepada selingkuhan.

Sehingga, timbul rasa kecewa, marah, dan emosi negatif lainnya dari keluarga. Selain itu, ketika kita mengetahui bahwa pasangan selingkuh meskipun secara online, maka akan ada dampak emosi negatif yang muncul.

Seperti terluka, sedih, bahkan merasa dikhianati. Meskipun hanya sebatas kata-kata, pasti akan tetap terasa menyakitkan.

Jika tidak segera dikomunikasikan dengan pasangan, sangat mungkin Anda menjadi menarik diri atau memunculkan perilaku negatif, seperti marah-marah tanpa penjelasan.

Akhirnya, kualitas hubungan pernikahan menurun dan tidak menutup kemungkinan dapat berujung perceraian. Kalaupun tidak bercerai, hubungannya yang sudah tidak berkualitas akan terus melukai salah satu pihak.

Sebaiknya dalam hubungan rumah tangga, selalu junjung asas keterbukaan dengan pasangan dan libatkan mereka dalam lingkup pertemanan Anda.

Selain agar lebih akrab, hal itu juga bisa membuat pasangan makin saling percaya.(Awi) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post