OPINI: Hidup Itu Adalah Pilihan

FOKUSLINTAS.com – Hidup adalah pilihan, jangan sampai kita salah memilih dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Oleh karena begitu kita salah memilih, maka penyesalan terjadi. Hati menjadi resah, pikiran gelap.

Manusia pada dasarnya selalu menginginkan hal-hal yang membuat dirinya nyaman, senang, puas, akan tetapi mengapa justru kehidupan tidak selalu demikian? Kita tidak dapat merasa nyaman, senang dan puas apabila tidak memiliki budi pekerti yang luhur. Jadi, dalam menghadapi pilihan dan agar dapat memilih yang benar, syaratnya adalah miliki dahulu budi pekerti yang luhur. Dengan memiliki budi pekerti luhur manusia akan selalu berada dalam rasa tenang, tenteram dan bahagia, apa pun pilihan yang dihadapinya setiap saat.

Setiap hari dari hal yang kecil sampai besar, manusia selalu dihadapi pilihan. Contoh pilihan kecil, seperti ketika bangun pagi: mau langsung sembahyang berdoa atau tidak? Setelah itu mau olah raga atau tidak? Mandi dahulu atau sarapan dulu? Mau berpakaian pilih yang mana? Begitu banyak pertanyaan dalam benak kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya saat manusia dititahkan ke dunia, Tuhan telah melengkapi manusia dengan akal pikiran dan nafsu-nafsu. Kerjasama yang baik antara pikiran dan nafsu-nafsu manusia akan membuat manusia terampil dalam menghadapi pilihan. Kita juga mengerti bahwa Tuhan telah memberi hak otonomi kepada manusia untuk memilih jalan hidup yang akan dilalui, manusia berhak menentukan pilihan masing-masing dalam segala bidang, begitu juga tentang kepercayaan kepada Tuhan, yaitu: pilihan untuk mematuhi atau menentang kehendak Tuhan. Oleh karena itu, agar pilihan kita sebagai hamba Tuhan dapat sesuai dengan kehendak-Nya, pikiran dan nafsu-nafsu kita perlu dikelola dengan baik.

Manusia dapat memilih percaya atau tidak percaya terhadap Tuhan, kepercayaan itu penuh atau setengah-setengah atau sama sekali tidak percaya semua pilihan kita tentunya dan akan membawa akibat sendiri-sendiri yang harus dipikul. Oleh karena itu, manusia tidak dapat memetik hanya yang enaknya saja atau yang baik-baik saja, sedangkan yang pahit-pahit atau jelek-jelek tidak mau menerima, padahal itu sebagai akibat dari pilihannya sendiri.

Kebebasan memilih membawa manusia menerima atau menolak, suasana ini menjadi kemampuan yang dinamakan perasaan. Menjadi perasaan yang posif atau negatif. Perasaan positif akan membuat perasaan senang, puas, sedangkan perasaan negatif akan membuat perasaan menolak, sedih, kecewa, tidak suka.

Sebagai hamba Tuhan, kita harus sadar bahwa Tuhan dengan kekuasaan-Nya, tidak tergantung apa pun atau terpengaruh oleh percaya atau tidak percayanya manusia. Oleh karena itu, kita harus memilih yang benar agar tidak sesat perjalanan hidup kita di dunia saat ini.

Hal ini bisa terjadi karena kita mau membangun budi pekerti yang baik seperti: jujur dalam bertindak, sabar menghadapi masalah, menerima nasibnya dengan dilandasi usaha yang kuat untuk berbuat baik dan memperbaiki nasib serta sungguh-sungguh melaksanakan ajaran Tuhan.

Oleh karena itu, untuk dapat selalu memilih pilihan hidup yang benar, kita perlu mengendalikan diri dan waspada setiap saat dengan mengatur kerja pikiran dan nafsu-nafsu. Jangan sampai memilih hal-hal yang negatif dan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lebih baik membangun budi pekerti luhur yang dilandasi kepercayaan yang bulat kepada Tuhan, agar hidup selalu dalam pilihan yang benar dan di sanalah ada bahagia. 

SALAM REDAKSI

PIMPINAN UMUM

LILIEK EDHIE M