Asal Muasal dan Makna di Balik “Sego Liwet”

FOKUSLINTAS.com — Sejarah atau asal muasal nasi liwet sebenarnya berawal dari peringatan bulan maulud nabi, dimana setiap bulan maulud masyarakat Solo rutin menggelar upacara selametan atau yang biasa disebut dengan (Kenduri).

Upacara Selamatan itu ditujukan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW dengan harapan mendapatkan berkah.

Dalam sumber tradisi lisan, konon utusan Gusti Pangeran itu gemar menyantap nasi samin. Di karenakan orang Jawa tidak bisa memasak nasi samin, maka mereka membuat nasi yang menyerupai nasi samin, yakni nasi liwet.

Dalam sebuah isi Serat Centhini (1814-1823), dikisahkan bahwa nasi liwet dihadirkan ketika Pulau Jawa diguncang gempa bumi. Oleh karena itu nasi liwet dihadirkan dengan sebaris doa yang dilantunkan untuk keselamatan.

Dalam naskah kuno itu juga memuat kalimat: “liwet anget ulam kang nggajih atau wus lumajeng ngarsi atau sadaya kemebul.”

Lalu sebuah cerita mengatakan dulu Paku Buwana IX (1861-1893) memborong nasi liwet untuk para pangrawit keraton. Ketika hendak pulang, para penabuh gamelan keraton disediakan makanan nasi liwet. Para pangrawit diminta makan supaya istrinya nanti tidak repot menyiapkan sarapan (di rumah).

Dari cerita ini, nasi liwet ternyata sejak dulu memang sudah termasuk kuliner khas pada jaman kerajaan Solo masih berjaya.

Perjalanan wisata kuliner nasi liwet bergerak di dalam ruang yang berbeda dari masa ke masa, Nasi liwet sanggup bertarung di tengah arus kuliner beraroma modern. Kuliner lawas yang sederhana, sesederhana nasi liwet tidak kalah dengan kuliner yang dikemas mewah. Nasi liwet menerabas batas dan sekat-sekat sosial baik kaya-miskin, pribumi-nonpribumi,dari orang kantoran hingga jalanan.

Didalam budaya Jawa, Nasi liwet mempunyai banyak makna bahkan menurut Mardi Warsito dalam buku Peribahasa dan Saloko Bahasa Jawa (1980), Nasi (bahasa Jawa: sego, sekul) sangat kaya pesan dan makna. Menjelaskan beberapa pesan kultural tentang nasi (sego, sekul). Bisa dicontohkan, bahwa sekul pamit (nasi berpamit), yakni terlambat mengerjakan sesuatu dan tidak memperoleh upahnya.

Suatu ajaran bagi kita tentang pentingnya kedisiplinan. Sekul urug (nasi timbunan) yakni segala sesuatu yang tiada faedahnya. Menimbun dengan nasi sama saja tindakan bodoh, bakal sia-sia karena akan lenyap.

Beberapa pesan dan makna dari sepincuk nasi ini menggambarkan luasnya implikasi atau efek sosial-kultural kedekatan manusia Jawa dengan nasi, bagian primer dari nasi liwet.

Ekspresi kultural tersebut mengajarkan keutamaan hidup manusia tidak hanya urusan makan (muluk), namun juga mengungkap nilai-nilai lain yang kudu dijunjung terkait tindakan manusia dalam melakoni hidup dan kehidupan. Merawat kuliner khas Nusantara seperti nasi liwet tanpa beralas piring dengan duduk lesehan sama sekali tidak melunturkan derajat dan harga diri kita sebagai sebuah bangsa.

Oleh karena itu jika sedang memburu kuliner di kotasolo terutama Nasi liwet jarang sekali ditemui pedagang nasi liwet menyajikan makananya dengan piring, pasti penyajiannya menggunakan pincuk daun pisang. dan juga makanan ini disajikan dengan lesehan dipinggir jalan (nggelar kloso). ( Sapto )

Editor : Awi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *