Kiprah Perjuangan Sosok “Ki Gede Solo”

FOKUSLINTAS.com – Dalam catatan sejarh bahwa Ki Gede Solo diyakini banyak orang sebagai sosok pendiri Kota Solo. Makamnya berada di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon atau berjarak sekitar 500 meter dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Makam ini berdempetan dengan rumah warga yang tak lain adalah juru kunci. Selain Ki Gede Solo, terdapat pula makam Kiai Carang dan Nyai Sumedang. Keduanya merupakan teman seperguruan Ki Gede Solo yang sama-sama menyebarkan agama Islam di wilayah Solo saat itu.

Semasa hidup, Ki Gede Solo bersama dua teman seperguruannya tinggal di Desa Solo yang saat ini ditempati Keraton Surakarta. Dahulunya Desa Solo awalnya sebuah hutan rawa dan nama Solo diambil karena di daerah itu dahulunya banyak ditumbuhi tanaman atau pohon Solo.

Data yang dihimpun, Makam Ki Gede Solo selalu ramai dikunjungi para peziarah. Mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga pejabat pemerintah. Mereka tidak hanya dari penjuru daerah di Indonesia, namun ada dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

“Mereka (peziarah) yang ke sini ada yang sendiri, berkeluarga dan rombongan,” kata juru kunci makam Ki Gede Sala, Sari Dewi Susanti (42).

Tercatat dalam sejarah Ki Gede Solo wafat tak lama setelah Keraton Surakarta hijrah dari pusat pemerintahannya di Kartosuro ke Desa Solo pada Februari tahun 1745.

Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, terjadi pemberontakan Pacinan. Sehingga, pusat pemerintahan dipindah ke Desa Solo hingga sekarang. Serta dipilihnya Desa Solo karena dekat dengan Sungai Bengawan Solo sebagai akses mobilitas dan strategis.

Lantas Susuhunan Pakubuwana II kemudian membeli tanah Desa Solo yang ditempati Ki Gede Solo untuk mendirikan keraton yang baru.

“Selang beberapa tahun setelah Keraton Surakarta itu berdiri beliau (Ki Gede Solo) wafat dan dimakamkan di sini,” kata dia.

Dari info beberapa pengunjung diketahui biasanya makam Ki Gede Solo ramai dikunjungi peziarah ketika menjelang puasa Ramadan dan Suro. Peziarah datang mulai dari pagi, siang, sore bahkan sampai tengah malam.

“Ada yang sampai sini tengah malam. Iya, tetap saya bukakan pintu makamnya. Kasihan mereka jauh-jauh datang ke sini,” ujar dia.

Salah satu kerabat Keraton Surakarta KPH Satriyo Hadinagoro menambahkan, Ki Gede Solo merupakan abdi dalem Keraton Surakarta yang memperoleh gelar Bekel.

Gelar itu diberikan Pakubuwana II kepadanya karena jasanya yang memilih Desa Solo sebagai ibukota kerajaan Mataram yang baru.

“Desa Sala dipundut (dibeli) Pakubuwana II dari Ki Gede Solo untuk ibukota kerajaan pada tahun 1745 setelah pindah dari Kartasuro,” katanya.

Menurutnya, keraton selalu mengadakan wilujengan ke makam Ki Gede Solo setiap peringatan perpindahan Keraton Surakarta dari Kartasura ke Solo serta Wilujengan tersebut untuk menghormati leluhur pendiri Kota Solo atau Keraton Surakarta. ( Joko Klepon )

Editor : Awi

Dari berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *