MEMET : Jika Pemprov Jabar Tak Bentuk Dinas Kebudayaan Ini Jadinya

FOKUSLINTAS.com — Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Memet H Hamdan mendukung pemisahan kebudayaan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, sekalipun ada risiko.

Hal tersebut dikatakan Memet menanggapi keinginan budayawan dan seniman Jabar yang meminta agar Gubenur Jabar Ridwan Kamil membentuk Dinas Kebudayaan mandiri terpisah dari Pariwisata.

“Saya mendukung pemisahan kebudayaan dari pariwisata, walaupun ada risiko yakni seolah-olah pariwisata akan menjadi kecil. Hal itu jangan khawatir, karena pariwisata bisa memanfaatkan kebudayaan sekaligus menjualnya untuk menyedot wisawatan,” ungkap Memet, Kamis (11/7/2019).

Memet menyebut, suatu kemunduran apabila Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal ini Gubernur Jabar apabila tidak membentuk Dinas kebudayaan secara mandiri.

Dia mencontohkan Provinsi Bali, Jawa Timur, Yogyakarta dan Riau yang telah lebih dulu membentuk Dinas Kebudayaan secara mandiri.

“Kebudayaan di empat provinsi itu jauh lebih berkembang dan lebih maju. Kalau Jabar berfikir dan belum melakukan hal itu (membentuk dinas kebudayaan), sudah sangat terlambat. Bagaimana nasib kebudayaan di Jabar,” jelasnya.

Memet menjelaskan, pemeisahan kebudayaan dari pariwisata ini sangat penting, selain dari sisi anggaran yang lebih terperhatikan, juga masalah edukasi. Karena bagaimanapun kebudayaan sangat dekat dengan pendidikan (perlindungan dan pengembangan).

“Bukan hanya itu, kebudayaan pun dekat dengan pariwisat yakni dari sisi pemanfaatan dan pembinaan. Sisi edukasinya, kebudayaan bisa dilindungi dan diajarkan kepada kalangan siswa. Sedangkan dari sisi pariwisata, kebudayaan bisa dieksploitasi dijual dan menarik wisatawan asal digarap dengan benar dan ditampilkan, sekaligus menghargai prosesnya,” terangnya.

Memet pun berharap jangan ada suasana ambivalent dari dunia kebudayaan, yakni tangan kanan memegang sejadah dan ditangan kiri haram jadah.

Tapi lanjut Memet, untuk memisahkan kebudayaan dari pariwisata ini, pemerintah harus membentuk manajemennya (kepala dinas) dulu yang baik.

“Seorang kepala dinas harus menjadi manajer yang baik, bagaimana mengelola keudayaan dan bagaimana mengelola pariwisata. Jangan menjadi sebuah kegamangan,” tandasnya.(Jitu-Fl)

(Adm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *