OPINI: Ketika Kita Salah Memberikan Kepercayaan

FOKUSLINTAS.com — Hidup hanya sekali, suatu waktu semua orang harus turun panggung. Begitu juga suatu waktu, semua orang akan pensiun. Pensiun berarti tidak lagi bekerja, tapi jangan lupa bahwa biaya hidup tetap berjalan dan tidak pernah pensiun.

Dan apabila tiba masa pensiun dan kita baru sadar bahwa diri kita belum siap, maka semuanya sudah terlambat. Karena itu, sedini mungkin sudah harus melangkah ke arah itu.

Ternyata waktu bagaikan terbang begitu cepat. Kemarin rasanya anak-anak masih duduk di SD, “tiba-tiba” saja kita baru sadar mereka segera akan memasuki gerbang masa remaja. Sedangkan diri kita sedang memasuki masa persiapan. Bagaimana rasanya? 

Dikala saat ini tiba di depan mata, banyak orang yang kebingungan. Mau lakukan untuk menutupi semua biaya, apa yang dapat dilakukan?

Disaat kegamangan menghadapi masa-masa kesulitan, tidak sedikit yang terjebak oleh tipu-tipuan dengan berbagai cara. Mulai dengan tawaran investasi, bisnis ini itu dan beraneka ragam penipuan lainnya.

Akibatnya sudah dapat dibayangkan. Hasil kerja keras selama hidup yang merupakan satu-satunya harapan keluarga, kini lenyaplah sudah tanpa bekas. Sudah dapat diduga, apa yang bakal terjadi. Kalau tidak menjadi pikun, mungkin menjadi penghuni rumah sakit jiwa atau jangan-jangan nekat menghabisi hidup sendiri.

Ungkapan ini bukan hasil dari rekayasa pikiran melainkan pengalaman dari beberapa orang dekat saya yang terkecoh oleh “Modus Arisan” dan “Investasi”. Pada awalnya malahan saya diajak agar ikut serta karena hasilnya luar biasa menakjubkan.

Bayangkan dalam waktu 3 bulan investasi sudah mendapatkan “pembagian keuntungan” puluhan juta rupiah! Maka tanpa berpikir lebih lanjut mereka serta merta mencairkan deposito di bank dan ikut menanam modal di usaha.

Sebagai sahabat baik, saya sudah mencoba menyadarkan bahwa semuanya adalah pancingan saja, agar mau menanamkan modal dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan saya ceritakan pada mereka bahwa taktik semacam ini sudah ada sejak saya masih muda. Bahkan tehnik ini diawali tentang bagaimana dunia pasar malam.

Semisal, untuk memancing agar pengunjung mau ikut main dadu, maka ada “tukang pancing” yang seakan akan memasang taruhan dan kemudian menang. Ia bersorak-sorak gembira karena taruhannya menang dan jadi berlipat ganda.

Maka bagaikan kerbau dicocok hidung, para pengunjung pasar malam serta merta mengeluarkan uang dan ikut main dadu. Dalam waktu singkat isi dompet terkuras habis dan berpindah ke bandar judi. Baru sadar ketika isi dompet sudah kosong, namun sudah terlambat. 

Sahabat saya hanya tertawa dan tetap bersikukuh bahwa perusahaan di mana mereka investasi uang adalah perusahaan bonafide. Walaupun sahabat baik, tentu ada batasan di mana saya tidak berhak mengatur keuangan orang lain. Maka akhirnya saya hanya berdiam diri.

Baru beberapa bulan berjalan, saya dapat kabar bahwa kedua sahabat saya masuk ke rumah sakit karena mengalami stroke. Ketika kami datang untuk membesuk, rasanya tidak tega menengok wajah mereka yang sudah menua. Padahal usia mereka sesungguhnya 11 tahun lebih muda dibanding saya.

Pukulan batin karena ditipu menyebabkan kedua sahabat baik saya tumbang dan terkena stroke. Saya hanya bisa menangis menyaksikan karena mereka telah memilih jalan hidup mereka sendiri.

Akhir kata dalam pepatah bijak menyebutkan, “Salah membajak sawah, akan rusak padi semusim . Salah memberikan kepercayaan akan sengsara seumur hidup” Semoga bermanfaat.

( Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *