Disragen, Kekeringan Melanda di 7 Daerah Kecamatan

FOKUSLINTAS.com – Ketua BPBD Kabupaten Sragen Sugeng Priyono mengatakan pihaknya sudah melakukan persiapan kekeringan di Kabupaten Sragen.

“Patokan kami BMKG, awal musim kemarau memang dari bulan Juni sampai dengan 7 bulan ke depan atau sekitar bulan November,” ujar Sugeng, Jumat (12/7/2019).

Terkait data daerah-daerah yang mengalami kekeringan di Sragen dirinya menyatakan telah berkoordinasi dengan PMI, Dinas Sosial, PDAM.

Hal ini tentu diharapkan agar bantuan dan pergerakan droping air agar tidak tumpang tindih.

“Kami harus tau pergerakan air, siapa saja yang ingin memberi bantuan harus menggunakan database, database ada di kami, dan kami sudah berkoordinasi dengan OPD tersebut,” papar Sugeng.

Menurut data dari BPBD, di Kabupaten Sragen sendiri ada tujuh kecamatan, 36 desa dan 146 RT yang diperkirakan mengalami kekeringan.

Ketujuh kecamatan tersebut ialah Kecamatan Sumberlawang, Jenar, Miri, Mondokan, Tangen, Gesi dan Kecamatan Sukodono.

“Namun data ini fleksibel ya, bisa bertambah kapan saja namun jarang sekali bahkan tidak pernah berkurang,” lanjut dia.

Dirinya mengatakan jika ada daerah yang mengalami kekeringan harus dibuktikan dari permohonan lurah dan camat kepada BPBD.

Setelah ada surat permohonan, tim reaksi cepat BPBD akan langsung melakukan pengecekan.

“Jika betul daerah tersebut layak mendapatkan bantuan maka kami akan beri bantuan droping air,” terangnya.

Droping air sendiri sudah dilakukan sejak awal Juli di beberapa titik sesuai permintaan, untuk sementara ini menurut masih relatif aman.

BPBD bersama pemerintah juga telah membuat tandon air sebanyak 110 dan ditambah delapan di tahun ini dengan menggunakan anggaran APBD.

“Kami bersyukur sekali tidak pernah kekurangan untuk membantu masyarakat dengan dibantu CSR, relawan-relawan selalu berdatangan,” lanjut dia.

Berbeda dengan tahun lalu, dimana November masih melakukan droping air, kekeringan tahun ini diperkirakan akan normal dan pada November data dari BMKG sudah akan turun hujan.

Sugeng juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu menghemat air dan menggunakan air dengan bijak.

“Titik fokus kami jika musim kemarau ada dua, kekeringan dan penanganan kebakaran hutan, jika di bandingkan kekeringan dan kebakaran hutan itu imbang,” jelasnya.

Dirinya mengatakan tahun lalu kebakaran di Kabupaten Sragen mencapai 80% dan 20% akibat instalasi listrik.

“Kebanyakan penyebab kebakaran karena warga yang membakar sampah di sembarang tempat, sisanya kebakaran lahan tebu,” pungkasnya. (uti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *