OPINI: Hilangnya Tradisi Budaya Malu

FOKUSLINTAS.com – Kearifan lokal berupa budi pekerti diwariskan dari generasi ke generasi melalui berbagai media yang berkembang seiring kemajuan masyarakatnya. Budi pekerti menjadi karakter luhur bangsa Indonesia. Di setiap suku ada bentuk kearifan lokal yang menjadi pranata sosial dalam pergaulan masyarakat.

Keunggulan budi pekerti itu menjadi ciri khas yang tersohor ke seantero dunia. Namun kearifan lokal yang sempat menjadi kebanggaan, kini menjadi barang langka. Sikap saling menghormati dan tepo seliro kini makin luntur. Akibatnya banyak terjadi kejahatan, kecurangan terjadi di berbagai tempat.

Salah satu bentuk kecurangan yang kini merajalela adalah korupsi. Tanpa malu-malu lagi orang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Asal ada kesempatan, punya kuasa, niat buruk itu terlaksana.

Penelitian ini menggunakan indikator dan sub indikator, salah satunya indeks persepsi korupsi. Dalam penjelasan, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks korupsi tersebut.

Ternyata kerusakan moral bukan hanya hilang dari para pemegang kuasa yang notabene orang dewasa, generasi muda pun tak kalah parahnya. Hampir setiap hari terdengar berita pemerkosaan, perkelahian, peredaran video mesum dan sebagainya yang membuat miris siapa pun yang membacanya.

Apa penyebab semua ini? Jika di telaah jauh memang ada banyak sekali sebab. Dan dari sekian banyak sebab, salah satunya adalah hilangnya rasa malu, takut dan sungkan, khususnya malu takut dan sungkan berbuat yang tidak baik. Rasa malu dan takut serta sungkan ketika akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, sudah hilang.

Bahkan saat mereka sudah ketahuan. Lihat saja ekpresi mereka di media. Wajah mereka tidak menyiratkan malu dan bersalah meskipun sudah dijadikan sebagai tersangka sebuah kasus korupsi.

Orang jawa sering mengatakan, “wong ra nduwe isin!”. Sungguh miris memang.

Lantas apa yang sebaiknya masyarakat lakukan melihat kondisi ini? Mau tidak mau masyarakat harus saling bahu membahu mengatasi kondisi yang sudah sedemikian terpuruk ini.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan langkah-langkah pencegahan pada orang-orang terdekat. Anak-anak kita harus kita ajari budi pekerti yang baik.

Hasil penelitian ini salah satunya mengungkapkan tentang bagaimana cara masyarakat Jawa menanamkan budi pekerti pada anak-anaknya.

Ada tiga hal yang ditanamkan masyarakat Jawa pada anak-anaknya dalam rangka membentuk karakter. Ketiga hal itu adalah wedi, isin, dan sungkan. Wedi berarti takut, baik dalam arti jasmani maupun dalam arti sosial terhadap kecemasan atas akibat-akibat tidak menyenangkan dari suatu tindakan. Isin bisa diterjemahkan sebagai malu, enggan, canggung. Malu untuk melanggar aturan dan berbuat dosa. Malu untuk mencuri uang Negara. Malu kepada masyarakat yang uangnya diambil. Malu jika nantinya diri dan keluarganya akan menanggung malu. Malu jika nantinya wartawan akan menguber-ngubernya kemana-mana. Malu jika hakim mencebloskannya ke dalam sel tahanan.

Sedangkan sungkan, seperti isin hanya tanpa adanya rasa takut berbuat kesalahan. Isin akan menjadi bentuk pengendalian didik dan menghindari celaan, sungkan mampu memainkan langgam sosial dengan indah. Anak-anak jawa diajar tentang bagaimana dan bilamana harus wedi dan isin.

Wajib ditakuti bukan karena menakutkan, melainkan karena kewajiban kita berkhidmat sebagai hamba kepada penciptanya. Sang Maha Pencipta akan mengawasi dan menilai gerak-gerik hamba-Nya.

Namun, disisi lain kita sebagai hamba-Nya mengharapkan penilaian terbaik sehingga menghasilkan balasan terbaik juga, yaitu sukses dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita pun takut melakukan hal-hal yang berbau maksiat karena akan menjauhkan kita dari kasih sayang dan pertolongan Allah SWT.

Mereka dipuji karena sikap yang wedi kepada orang tua dan sikapnya yang isin terhadap orang-orang yang lebih dari dirinya. Mereka pertama-tama belajar wedi sebelum merekan siap memberikan tanggapan intern yang berbeda-beda dan menyangkut harga diri  dan pengenalan yang berbeda-beda mengenai perbedaan sosial.

Ketika mereka besar, isin diajukan kepadanya, pertama-tama dengan memobilisasi rekasi–reaksi wedi yang sudah terpolakan kemudian dengan memainkan harga diri yang berkembang melalui mempermalukan dengan senangnya. Nilai-nilai kejawen mengenai rumusan ketaatan itu ditanamkan secara berangsur-angsur.

Dimulai dari mengenalkan wedi, isin, dan akhirnya sungkan. Wedi berbuat jahat karena diketahui oleh Yang Maha Melihat. Isin berbuat curang karena menciderai rasa keadilan, dan sungkan melakukan hal-hal yang tidak pantas karena diketahui sesamanya.

Apabila dilaksanakan dengan baik, nilai-nilai isin, wedi dan sungkan akan membawa sikap pengendalian diri yang baik untuk tidak berbuat yang melanggar etika, curang, culas dan perbuatan tidak baik lainnya. Sudah waktunya orang tua mengajarkan isin, wedi, dan sungkan pada anak-anaknya sehingga saat  dewasa kelak mereka akan mempunyai jati diri dan tidak tergoda untuk berbuat culas. Malu dan takut menunjukkan kebaikan memang tidak baik, akan tetapi malu takut dan sungkan berbuat baik tentu menjadi hal yang sangat memprihatinkan.

SALAM REDAKSI

LILIEK EDHIE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *