OPINI: Spiritual dan Falsafat Kejawen

FOKUSLINTAS.com — Sepaham saya bahwa dalam sebuah literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan.

Selanjutnya pula dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam kejawen, karena bukanlah agama.

Sekali lagi sepaham saya, maka dalam falsafah kejawen yang ada menurut hemat saya hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan laku ritual dalam tataran lahiriahnya.

Dalam babagan kejawen laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari sang elaku spiritual sendiri. Semisal contoh adanya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi.

Dikategorikan oleh banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini adalah salah besar dan keliru.

Beberapa tafsir para budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya dari pakem.

Harapan saya hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang telah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa pada khususnya, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga..wallahualam!!

Sejarah yang diketahui, awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam yang lalu.

Okelah kalau begitu, dan terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya.

Dan setidaknya, terkait kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Harapan agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda atau penerus.

Di sisi lain juga ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan tentang kemampuannya menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi dan tak terkira besar maknanya.

SALAM REDAKSI

AWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *