Terkait Kasus Investasi Bodong di Klaten, Ini Harapan Bupati

FOKUSLINTAS.com–Bupati Klaten, Sri Mulyani angkat bicara perihal banyaknya masyarakat yang menjadi korban dugaan penipuan investasi bodong oleh PT Krishna Alam Sejahtera. Disisi lain, Mulyani berharap uang milik korban atau mitra perusahaan itu bisa dikembalikan.

Menurut Mulyani, kasus seperti itu adalah salah satu hal yang sangat memprihatinkan. Pasalnya, usaha yang menjanjikan penghasilan berlipat kepada masyarakat itu justru berujung penipuan. Terlebih lagi para korban juga sudah menyerahkan uang sebagai investasi.

“Saya pribadi turut sangat prihatin, karena banyak warga yang tertipu dengan bisnis itu. Ini melibatkan orang banyak,” kata Mulyani, Minggu (14/07/2019).

Lebih lanjut disampaikan, perusahaan yang bergerak di bidang obat herbal di Dukuh Kringinan, Desa Kajen, Kecamatan Ceper itu belum mengantongi izin. Sehingga ia berharap segera ada jalan keluar. Termasuk uang yang sudah diberikan oleh korban sebagai investasi bisa kembali. 

“Harapan saya semoga uang bisa dikembalikan. Dan saya minta kepada masyarakat kedepan agar lebih berhati- hati, jangan sampai mudah terbujuk dengan bisnis yang tidak nalar,” jelasnya.

Sementara itu, Kades Kajen, Kecamatan Ceper, Joko Purnomo menjelaskan perusahaan itu tidak memiliki surat izin pengantar melalui pemerintah desa setempat. Sebelumnya, Direktur PT Krishna Alam Sejahtera menemui Joko untuk meminta izin, namun tidak diberikan.

“Itu sekitar 5-6 bulan yang lalu. Awalnya datang untuk minta izin domisili, lalu tidak lama kemudian datang lagi untuk minta izin mendirikan usaha. Saya tanya usahanya apa tapi tidak jelas, juga tidak bisa menunjukkan izin detailnya. Maka saya tolak,” kata Joko.

Selang satu bulan kemudian, tiba- tiba perusahaan itu mulai beroprasi di Desa Kajen. Hanya saja untuk izin pengoprasiannya diperoleh dari daerah lain. Meski demikian, Pemerintah Desa Kajen juga tidak bisa mencegah sebab sistem usahanya menggunakan kemitraan.

Joko mengaku sudah berulang kali mengingatkan kepada masyarakat dalam berbagai kesempatan agar tidak tergiur dengan usaha tersebut. Namun upayanya tak membuahkan hasil, sedikitnya ada 40 warga Desa Kajen yang nekat bergabung untuk menjadi mitra. 

“Saya yakin itu investasi bodong. Maka setiap ada warga selalu saya ingatkan, tapi ya tidak bisa saya paksa karena itu hak mereka. Apalagi memang iming-iming penghasilannya besar, jutaan rupiah per minggu,” imbuhnya.

Atas kejadian itu, pihaknya berharap upaya hukum yang kini sedang ditumpuh oleh para korban bisa mendapat titik terang. Setidaknya uang yang sudah mereka investasikan itu bisa kembali, mengingat nominalnya terbilang besar. Disisi lain, ia juga berharap pelaku bisa ditangkap.(Slt-Ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *