Pesan Soeharto yang Relevan dengan Kondisi Indonesia Pada Saat Ini

FOKUSLINTAS.com – Diturunkan kepada sang anak, untaian kata-kata yang sesuai untuk menghadapi realita kehidupan. Sebagai Presiden ke-2 Indonesia, sosok Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto begitu dirindukan oleh sebagian besar masyarakat di tanah air. Banyak dari mereka yang terkadang menginginkan agar sosok seperti dirinya kembali memerintah Indonesia. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto pada Mei 1998 silam, figur yang dikenal dengan jargon “piye, enak jamanku tho?” kembali diingat oleh mereka yang pernah hidup di zaman pemerintahannya.

Selain prestasinya, Soeharto juga dikenal memiliki nasihat-nasihat arif yang kerap diucapkannya untuk menjalani kehidupan. Beberapa bahkan sempat disampaikan kepada anak-anaknya menjelang dirinya dilengserkan oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998. Beranjak memasuki era modern, inilah nasihat-nasihat bijak dari The Smillling General yang relevan dengan kondisi Indonesia pada saat ini.

Nasihat ini pertama kali diucapkan kepada anak-anaknya saat Soeharto dituntut untuk undur dari jabatannya sebagai Presiden. Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut yang kala itu menghadap Soeharto bersama dengan adik-adiknya yang lain, tak menghendaki jika sang ayah mengundurkan diri sebagai Presiden RI. Ia bahkan hendak turun ke jalanan untuk melawan demonstran yang menuntut pengunduran diri Soeharto.

Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto [sumber gambar]

Namun, apa yang diucapkan oleh Presiden ke-2 RI itu sungguh membuat dirinya terharu. Ia berpesan kepada anak-anaknya agar tidak mendendam jika dirinya dipaksa untuk lengser. Satu hal bapak minta pada kalian semua, jangan ada yang dendam dengan kejadian ini, dan jangan ada yang melakukan balas dendam, karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah. ujarnya seperti yang diutarakan Mbak Tutut.

Petuah penting lainnya yang tak kalah mengesankan adalah, saat Soeharto berpesan pada anak-anaknya agar tetap menjaga loyalitas pada bangsa. Nasihat ini disampaikan oleh Mbak Tutut saat memberikan wejangannya kepada kader Partai Berkarya besutan sang adik, Tommy Soeharto. Isi pesan dari Soeharto itu adalah, berikan apa pun untuk bangsa, meski mungkin hanya sebungkus nasi atau uang Rp10 ribu.

Soeharto bersama dengan A.H. Nasution [sumber gambar]

Bisa dibilang, pesan ini menunjukkan sikap Soeharto sebagai sosok negarawan yang dipercaya oleh rakyat untuk memimpin Indonesia. Hal ini pun sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di mana masyarakat membutuhkan figur pemimpin, entah itu dari elit politik, militer dan lainnya, memiliki sikap mau memberikan apapun yang terbaik demi tegaknya kedaulatan bangsa.

Salah satu nasihat penting dari Soeharto yang bisa dijadikan teladan adalah, janganlah memiliki sikap menjelek-jelekkan orang lain yang dalam bahasa Jawa dikenal disebut aja mung nyatur alaning liyan. Petuah Soeharto ini disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, Siti Hediati Hariyadi atau dikenal sebagai Titiek Soeharto dalam sebuah kesempatan.

Jangan membicarakan kejelekan orang lain [sumber gambar]

Jika dilihat kenyataan yang ada pada saat ini, hal ini memang benar-benar terjadi. Di mana manusia saling ejek dan mencaci maki satu sama lain karena berbeda pandangan politik. Seakan lupa akan fitrahnya sebagai manusia yang juga berlumur dosa. Oleh sebab itu, nasihat ini sangat tepat untuk menghalau perbuatan negatif seperti saling hina antar sesama. Meski kadang mudah diucapkan, namun begitu sulit untuk diterapkan.

Saat masih menjabat sebagai Presiden, Soeharto sempat memberikan nasihatnya pada Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) yang kala itu dijabat oleh Jacop Patipi pada 1993. Soeharto menasehati tentang bahaya 3TA (harta, tahta, dan wanita) yang dikhawatirkan menjadi penyakit utama yang menggerogoti mental para pejabat.

Waspada dengan godaan harta, tahta dan wanita [sumber gambar]

Disebut berbahaya karena memang bisa menjadi racun dalam jalannya roda pemerintahan. Lihat saja pada saat ini, di mana banyak terjadinya kasus korupsi yang notabene merupakan bentuk ketamakan pada harta. Juga beragam peristiwa seperti jual beli jabatan yang muaranya berorientasi pada kesenangan semu akan tahta atau posisi.

Soeharto yang lahir pada 8 Juni 1921, Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, begitu lekat dengan budaya Jawa yang telah menjadi kesehariannya. Latar belakang inilah yang sedikit banyak mempengaruhi dirinya untuk menyelami makna-makna falsafah Jawa yang sarat dengan ajaran hidup. Salah satunya adalah tiga ojo atau tiga jangan.

Menganut falsafah Jawa yang sarat akan pelajaran hidup [sumber gambar]

Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989), tiga ojo atau tiga jangan yang berarti Ojo Kagetan (jangan gampang kaget), Ojo Gumunan (jangan cepat heran), dan Ojo Dumeh (jangan sombong), menjadi nasihat bagi dirinya sendiri untuk tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Terutama dengan kabar burung alias hoax yang saat ini tengah merajalela di Indonesia.

Kelima nasihat di atas, merupakan bagian dari filosofi hidup yang membentuk karakter Soeharto dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Sebagai pemimpin yang berkuasa selama 32 tahun, dirinya telah kenyang asam garam dalam mengelola sebuah negara besar yang bernama Indonesia.

Hingga kekuasaannya berakhir, nasihat-nasihatnya begitu relevan dengan wajah negeri ini. Di mana tensi panas politik terkadang membutakan mata hati dari sikap menghargai dan toleransi. Awi

Berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *