OPINI: Belajar Dari Kegelapan

FOKUSLINTAS.com — Jika pakai teori konspirasi, listrik mati 8 jam hampir saja lumpuhkan Jakarta dan sekitarnya di hari MINGGU, itu hanya “test the water”, atau cek ombak sejauh mana ketahanan negara ini. Ini baru soal listrik lo!


Sejak pukul 11.15 pagi hingga delapan jam lebih listrik padam seantero Jakarta, Bogor, Bekasi dan Tangerang, mungkin juga terjadi di wilayah lainnya.

Beberapa informasi dari grup WA menyebutkan adanya pembangkit yang ‘down’ akibat salah satu gas turbinenya mati yang katanya, sekali lagi katanya PLN ini yang menyebabkan layanan PLN Jabodetabek padam. Sesederhana itu?


Saya masih ingat ketika ada pejabat Kementerian ESDM yang mengatakan produksi listrik di Jawa-Bali sudah ‘over supply’, artinya kapasitas pembangkit untuk penuhi kebutuhan se-Jawa-Bali aman dan PLN menjamin bahwa sistim jaringan listrik interkoneksi Jawa-Bali berfungsi baik sehingga tidak akan terjadi ‘blackout’ bila salah satu pembangkit utamanya dimatikan untuk kebutuhan perawatan rutin.

Kejadian hari Minggu 4 Agustus 2019 menunjukkan fakta yang tidak sesuai dengan yang selalu digembar-gemborkan para petinggi PLN selama ini. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dapur PLN, karena saat ini mereka pasti sedang siapkan narasi pembelaan diri.


Delapan jam listrik padam bagi Ibukota sudah cukup membuat keadaan kacau balau, beruntung terjadi di hari Minggu. Di hari libur ini, seperti biasa intensitas kegiatan publik sebagian besar berada di rumah, kegiatan perkantoran off, itupun tetap menimbulkan masalah, jaringan telepon seluler terganggu, transaksi via online terputus, internet tersungkur, toko-toko minimarket tutup, SPBU terpaksa menutup pagarnya, MRT terhenti dan penumpangnya terpaksa dievakuasi, ATM tidak berfungsi, layanan Rumah Sakit juga ikut terkendala dan masih banyak hal lain lagi terhenti karena listrik padam.

Bayangkan bila ini terjadi di hari kerja!
Apa yang dapat ditarik dari peristiwa ini? Ternyata, hanya dengan listrik, entah karena disebabkan oleh buruknya manajemen PLN atau disebabkan hal lain, misalnya ada yang coba-coba ‘ganggu’ sistim pengendalian listrik se-Jawa Bali, Indonesia sangat lemah ketahanannya.

Inilah salah satu titik rawan yang bagi kepentingan tertentu (asing) menjadi sasaran empuk. Matikan listrik se-Jawa 3×24 jam saja, lumpuh semua. Ini bukan hal sepele.


Di sisi lain, monopolistik PLN memang berlindung di kepentingan ini, karena asumsinya PLN salah satunya berfungsi sebagai pengaman kepentingan negara.

Tetapi nyatanya, sudah jadi pemakluman umum, PLN nya justru bobrok digerogoti korupsi. PLN menjadi salah satu BUMN yang pengurusnya sangat ‘politis’, jadi rebutan parpol. Mengapa? Apa karena di PLN dianggap sumber ‘kas’ yang basah? Berapa direktur utama PLN yang berakhir dipenjara? Toh tetap tidak ada yang jera, dan tetap jadikan PLN sapi perah kongkalikong di ruang-ruang gelap.


Alhasil, PLN tetap statusnya sebagai BUMN yang merugi, meski pelanggan terbesarnya, rakyat Indonesia harus tertatih-tatih mengejar kenaikan tarif dasar listrik yang terus berlari.
Kesimpulan saya, hati-hati, ada yang sedang cek ombak, sebelum semua dipadamkan. Belajarlah dari dalam kegelapan.

SALAM REDAKSI

LILIEK EDHIE M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *