Terkait 2 Akun Yang Dilaporkan ke Polda, Media KPK Angkat Bicara

FOKUSLINTAS.com – Teguran buat para pegiat Medsos dan bagi mereka yang biasa ceplas-ceplos di media sosial, kini perlu lebih hati-hati. Penebar kebencian melalui berbagai media, termasuk media sosial, bisa diancam pidana jika tidak mengindahkan teguran dari kepolisian.

Hal itu menjadi salah satu poin dalam Surat Edaran (SE) Kapolri soal penanganan ujaran kebencian atau hate speech Nomor SE/06/X/2015. Surat tersebut diteken dan telah dikirim ke Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) seluruh Indonesia.

Hal ini terjadi pada sebuah akun media sosial Facebook atas nama dua oknum yaitu Iman Wartaindonews dan Jasmin yang telah dilaporkan ke Polda Jawa Tengah, Rabu 06 Agustus 2019 yang lalu. Akun Facebook tersebut dilaporkan ke pihak yang berwajib karena diduga telah melakukan ungkapan penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap profesi Wartawan dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Menanggapi atas kejadian tersebut Ketua Perwakilan Tabloid KPK di Jawa Tengah, Bowo Hariyono ikut andil mencuat ditengah-tengah maraknya kabar pelaporan kasus tersebut.

Disatu sisi, Dia bahkan telah membuat surat pernyataan dukungan terhadap pelapor atas upaya pelaporan ke Polda Jateng.

“Dalam hal ini saya sangat mendukung pelapor, 2 akun di media sosial atas nama Iman Wartaindonews dan Jasmin tersebut, dimana telah melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap profesi wartawan dan LSM,” terang dia.

Surat pernyataan media KPK terkait kasus 2 akun yang dilaporkan Polda Jateng

Menurutnya, bahwa persoalan ujaran kebencian semakin mendapatkan perhatian masyarakat baik nasional atau internasional seiring meningkatnya kepedulian terhadap perlindungan hak asasi manusia (HAM).

Soal undang-undang juga jelas tertera pada Nomor 2 huruf (f) SE, disebutkan bahwa ujaran kebencian dapat berupa tindak pidana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP, yang berbentuk antara lain:

1. Penghinaan,
2. Pencemaran nama baik,
3. Penistaan,
4. Perbuatan tidak menyenangkan,
5. Memprovokasi,
6. Menghasut,
7. Menyebarkan berita bohong dan semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial.

“Dalam hal ini jelas bahwa aspek ujaran kebencian peraturannya, harapan saya penegak hukum menindak tegas pelaku penghinaan profesi wartawan tersebut,” ujarnya.

Ujaran kebencian sebagaimana dimaksud apabila dibiarkan bisa menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas yang dibedakan dari berbagai aspek.

Masih menurut Bowo, mengurai terkait ujaran kebencian sebagaimana yang dilakukan percakapan 2 akun tersebut dilakukan melalui jejaring media sosial dan dibaca khalayak umum. Apabila dengan memperhatikan pengertian ujaran kebencian di akun medsos merajalela, dan tidak ditangani dengan efektif, efisien, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, akan berpotensi memunculkan konflik sosial yang meluas, dan berpotensi menimbulkan tindak diskriminasi, kekerasan, dan atau penghilangan nyawa.

“Kami akan mengawal kasus ini kepihak kepolisian, memang perlu pemahaman dan pengetahuan mengenai bentuk-bentuk kebencian. Harapan kami juga pihak berwajib juga lebih responsif atau peka terhadap gejala-gejala di masyarakat yang berpotensi menimbulkan tindak pidana terutama yang berkaitan dengan perbuatan ujaran kebencian. Apabila ditemukan perbuatan yang berpotensi mengarah ke tindak pidana ujaran kebencian biar hukum ditegakkan.” Imbuh dia. (Tim-Wrst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *