Napak Tilas Desa Soko Jabung dan Jejak Ki Ageng Soko

FOKUSLINTAS.com – Ada sebuah makam yang sakral dan dikenal banyak peziarah luar daerah yaitu tepstnya di Desa Soko, Kelurahan Jabung, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, yang secara diam-diam kerap dikunjungi calon legislatif (caleg) maupun calon kepala daerah saat pemilu berlangsung serta berbagai tokoh spiritual dari luar daerah.

Makam yang sudah dipugar dengan bangunan seluas 10 meteran persegi itu, merupakan makam Ki Ageng Soko, seorang tokoh besar yang disebut-sebut sebagai keturunan ningrat masa mataram dulu.

Tak jauh dari situ, juga ada Sendang, yang juga kerap dikunjungi banyak orang serta dipercaya banyak tuah dan pusakanya. Hal itu diungkap Kepala Desa Jabung, Triyono.

“Kedua makam itu kalau ada calonan pilkada, legislatif datang ke sini. Ritual dengan pakai doa-doa, serta bermalam di sini, juga dengan tujuan yang lain,” kata Triyono, Rabu (2/10/2019).

Sendang di area makam Ki Ageng Soko foto/Awi

Ada berkesinambungan cerita turun temurun juga kultur antara makam Ki Ageng Soko dengan Ki Ageng Butuh. Akan tetapi lebih tua masanya daripada Ki Ageng Butuh Ayahanda Joko Tingkir. Disisi lain, bila sehabis panen dilakukan selamatan atau syukuran dengan acara Sadranan yang dilakukan seluruh warga Desa Soko.

“Ki Ageng Soko diketahui sebagai cikal bakal Desa dan dimakamkan di Desa Soko Plupuh bersama pengikutnya disini, tak banyak yang tahu alur sejarah pastinya karena juru kunci sudah almarhum semua,” terangnya.

Tradisi yang dilakukan penduduk setempat tersebut berlangsung bertahun-tahun dan sudah menjadi budaya. Karena itu, ada yang menyebut Ki Ageng Soko lebih Islam Kejawen.

Untuk sampai di Desa Soko, pengunjung harus melewati jalan di jalur arah Plupuh-Mojosongo Solo. Kendati akses jalan sudah sangat bagus, tetapi lebarnya terbilang sempit.

Salah satu warga juga keturunan juru kunci Makam Ki Ageng Soko Mbah Pono (63) berharap, eksistensi makam tersebut mendapatkan perhatian dari pemerintah, untuk pelestarian cagar budaya. Sebab, makam itu kerap dikunjungi warga dari luar daerah dan dipercaya memiliki nilai mistik tinggi serta ada kaitan alur sejarah masa mataram.

“Tempat ini banyak dikunjungi luar daerah setiap malam jumat, dahulu Juru kuncinya Mbah Nasir lalu ke bapak saya Iman Dimejo dan semua sudah almarhum,” tuturnya.

Mbah Iman dan Mbah Pono Foto/Awi

Menurut keterangan Mbah Pono, tradisi tahunan diarea makam Ki Ageng Soko disebut warga desa dengan istilah nyadran untuk mapak labuhan. Selain itu dari kepercayaan area makam dan sendang ketika hajatan juga diberi sajen atau disadrani syarat mengambil air sendang di makam Ki Ageng Soko. Jika tidak dilakukan akan terjadi hal-hal diluar nalar.

Acara tahunan bersih Dusun tepat dihari Jumat Wage setiap habis panen ke dua, acara rutin dilakukan diarea pemakaman Ki Ageng Soko.

“Dikisahkan tahun 1979 saya sendiri pernah punya hajatan pernikahan putra saya dan lupa ambil syarat air sendang dimakam sini. Akhirnya keganjilan terjadi saat rebus air juga masakan ternyata sampai tamu datang air gak bisa matang atau mendidih. Anehnya ketika diingatkan untuk mengambil syarat air sendang seketika mendidih,” katanya.

Narasumber warga yang lain Mbah Iman (64) juga mengatakan, dalam Versi lain nama kepanjangan Ki Ageng Soko para sesepuh setempat juga mengatakan ini makam Ki Ageng Sukowati nama lengkapnya.

“Dulu tempat ini banyak pohon besar dan terkenal wingit. Bahkan sebelum adanya PAM air sendang dimanfaatkan seluruh warga karena tak bisa habis biarpun kemarau. Banyak peziarah datang dan mengambil pusaka dari situ,” tukas dia.

Kisah yang lain hampir sama Mbah Pono yaitu salah satunya lagi tempat salah satu warga bernama Saman, saat hajatan warga setempat juga tak mengambil air sendang dan ternyata air yang direbus berulang tidak bisa bersih malahan selalu kotor.

“Cerita lain, kesaksian baik warga juga peziarah mempercayai adanya harimau gaib, dipercaya hewan klangenan Ki Ageng Soko. Dulu juga ada warga, anak saya sampai para peziarah melihat penampakan harimau besar itu. Akan tetapi kehadirannya tidak mengganggu biarpun dikatakan besar dan seram.”imbuhnya. (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *