S.K. Trimurti Mengagumi dan Mengkritik Sukarno

FOKUSLINTAS.com – Trimurti mengagumi dan berguru kepada Bung Karno. Namun ia tetap melancarkan kritik kepada presiden lewat surat kabar Harian Rakjat dan jurnal Api Kartini. tirto.id – “Sebagai seorang gadis (teman-temanku mengatakan aku ini lincah) ada saja jejaka-jejaka yang ingin memperistri aku. Tetapi aku tidak mau. Aku mau hidup [melajang] seperti pastor-pastor itu, meskipun agamaku Islam. Aku ingin pengabdianku ini bulat.

Pengabdian kepada perjuangan dan pengabdian kepada dunia jurnalistik yang sudah mulai kucintai.” Melalui tulisan yang dimuat dalam Wartawan Wanita Berkisah (1974: hlm. 9) itu Surastri Karma Trimurti alias S.K. Trimurti tengah mengenang babak awal karier jurnalistiknya. Ia sempat enggan menikah lantaran takut: cinta malah akan menggugurkan partisipasinya dalam pergerakan nasional yang sedang menuju klimaks pada tahun 1930-an.

Namun, Mohamad Ibnu Sayuti alias Sayuti Melik berhasil meyakinkan Trimurti untuk menyeimbangkan antara karir jurnalistik dengan pernikahan. Kebetulan keduanya merupakan jurnalis yang sangat produktif di era pergerakan. Surat kabar Sinar Selatan yang memuat tulisan Trimurti dan Sayuti dari tahun 1937 hingga 1939 berperan besar menyatukan mereka.

Sebelum dikenal sebagai salah satu menteri perempuan pertama di Kabinet Amir Syarifuddin (1947-1948), Trimurti memang dekat dengan sejumlah tokoh penggerak pers nasional. Selain Sayuti, Sukarno menjadi tokoh kunci yang berhasil meyakinkan dirinya agar berani menggenggam pena dan turut menyuarakan nasionalisme di tengah negeri yang masih terjajah.

Sukarno dan Mesin Tik Dalam biografi S.K. Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia (2016: hlm. 20), Ipong Jazimah menyebutkan bahwa perkenalan pertama Trimurti dengan Bung Karno terjadi menjelang akhir tahun 1932. Saat itu, Trimurti yang masih melakoni profesi guru di sekolah khusus perempuan di Banyumas, berkesempatan mengikuti rapat umum Partai Indonesia (Partindo)–partai pecahan PNI pimpinan Sukarno–di Purwokerto. Sukarno ternyata bukan cuma pandai memikat perempuan lewat rayuan gombalnya, tetapi juga lewat orasi.

Trimurti yang saat itu baru menginjak usia 20 tahun, mengaku tergerak untuk bergabung dengan Partindo sesaat setelah mendengar pidato Sukarno. “Meski Bung Karno berpidato tanpa pengeras suara, kami masih bisa mendengar suaranya yang membahana. Bukan main pidato itu.

[…] Saat itulah saya tergugah untuk ikut bergabung dengan Partindo. Artinya, saya harus melepas jabatan saya sebagai guru,” ungkap Trimurti seperti dikutip oleh Ipong. Kehendaknya hanya satu, yakni berguru langsung tentang seluk beluk politik kepada Sukarno. Oleh karena itu, ia memilih ikut kursus kader di Partindo cabang Bandung, tempat Sukarno bermukim bersama Inggit Garnasih setelah keluar dari penjara Sukamiskin.

Di Bandung, Trimurti beserta kader perempuan lainnya di tempatkan di sebuah asrama Partindo di Jalan Astana Anyar. “Saya sendiri yang mau masuk partai politik itu pada tahun 1933. Waktu itu saya berada di Bandung. Saya berguru pada Bung Karno, belajar politik pada beliau,” tulis Trimurti dalam Gelora Api Revolusi yang disunting oleh Colin Wild dan Peter Carey (1986: hlm. 116). Menurut catatan Ipong, ternyata bukan hanya Trimurti yang “menguntit” Sukarno ke Bandung.

Semenjak Sukarno memutuskan bergabung dengan partai tersebut, jumlah anggota Partindo cabang Bandung yang pada 1932 hanya 226 orang, melompat menjadi 3.762 orang di tahun 1933. Menurut Soebagijo I.N. dalam Trimurti Wanita Pengabdi Bangsa (1982: hlm 15), Sukarno bukan satu-satunya lelaki yang membuat Trimurti ngotot pindah ke Bandung. Lelaki lain yang mendorong Trimurti hengkang dari Banyumas adalah seorang aparat kepolisian Hindia Belanda Politieke Inlichtingen Dienst (PID) yang mengaku jatuh cinta padanya. Polisi itu masih muda dan berterus terang mengungkapkan perasaannya.

“Jika Anda bersedia menerima cinta kasih saya ini, saya bersedia meninggalkan pekerjaan dan masuk menjadi anggota Partindo,” ucap si polisi. Namun, Trimurti menolak lamaran polisi kasmaran itu dan memilih pindah ke Bandung. Kehadiran Sukarno di Bandung berhasil membakar semangat partai. Partindo secara konsisten kembali menyebarkan pengaruhnya melalui terbitan surat kabar Suluh Indonesia Muda dan Fikiran Rakjat.

Melalui kedua corong Partindo itu, Trimurti pertama kali bersentuhan dengan dunia tulis menulis. Ia mulanya mengelak ketika Sukarno menyuruhnya menulis sebuah artikel di Fikiran Rakjat. Trimurti beralasan bahwa dirinya masih terlalu muda dan tidak punya pengalaman menulis. Selain itu, ia juga mengaku belum terbiasa menggunakan mesin tik.

Perkenalannya dengan mesin tik memang belum lama. Suatu ketika di tahun 1932, Trimurti sempat mengikuti perkumpulan koperasi perempuan di Banyumas. Karena masih muda dan dianggap masih bertenaga, Trimurti ditunjuk oleh para seniornya untuk membuat surat undangan rapat yang jumlahnya sekitar 125 helai.

“Masyaallah! Baru sekali itu aku memegang mesin tik. […] Dan malam itu aku harus mengetik surat sebanyak itu. Harus selesai lagi! Apa boleh buat! Mengatakan tidak bisa mengetik aku malu. Maklum ketika itu aku masih muda. Malu jika dikatakan tidak bisa menyelesaikan kewajiban,” tulis Trimurti dalam Wartawan Wanita Berkisah (hlm. 1-2).

Meskipun awalnya mengelak, namun berkat dorongan Sukarno tulisan pertama Trimurti akhirnya dimuat di Fikiran Rakjat terbitan tahun 1933. Isinya berupa gagasannya tentang semangat kemerdekaan yang dibawakan dengan latar belakang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Babak awal karier jurnalistik Trimurti hanya berlangsung singkat.

Setelah Sukarno dibuang ke Ende, Flores, pada tahun 1934, Partindo dan sejumlah medianya bagai anak ayam kehilangan induk. Setelah itu, Trimurti melanjutkan mengasah pengalaman di bidang pers dengan mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar Berdjoeang yang terbit di Surabaya. Di tahun-tahun berikutnya, mesin tik hampir tidak pernah lepas dari genggamannya. Saking cintanya pada dunia tulis-menulis, Trimurti bahkan menerbitkan majalah. Sejak 1935, hampir setiap tahun ia terus membidani kelahiran majalah dan surat kabar.

Mulai dari Bedug, Terompet, Suara Marhaeni, sampai majalah Pesat yang diterbitkan bersama Sayuti Melik pada 1938. Baca juga: Benarkah Sukarno Memohon Ampun Kepada Belanda? Mak Ompreng Untuk Emansipasi Nama “Trimurti” sebenarnya hanya nama pena.

Menurut Reni Nuryanti dalam antologi Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (2007: hlm. 164), nama “Karma” dan “Trimurti” digunakan sebagai nama samaran secara bergantian untuk menghindari delik pers pada masa kolonial Belanda. Lama-kelamaan, nama ini pun menjadi bagian identitas pers Trimurti. Meskipun berulang kali berganti nama samaran, namun ia tetap kena ciduk pemerintah kolonial. Sekitar tahun 1939, Trimurti terpaksa mengikuti proses hukum di pengadilan kolonial lantaran memuat artikel yang mengampanyekan anti-imperialisme dalam majalah Pesat.

Saat Jepang datang, majalah Pesat dibredel dan Trimurti harus berurusan dengan otoritas militer karena aktivitas persnya dinilai gemar menyudutkan Jepang. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara Blitar sampai tahun 1943. Berulang kali merasakan dinginnya lantai penjara tidak lantas membuat Trimurti kapok. Selain soal kemerdekaan, secara tidak langsung tulisan-tulisan Trimurti juga kerap menyinggung masalah emansipasi perempuan.

Hal ini membuat para perempuan pergerakan banyak yang mengidolakan dirinya. Di penjara Blitar misalnya, Trimurti berjumpa dengan Umi Sardjono, pejuang perempuan sekaligus pengagumnya. Mereka bersama-sama mendirikan organisasi Barisan Buruh Wanita (BBW) dan Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang kemudian dikenal sebagai Gerwani sejak tahun 1954. Meskipun kecewa dengan keputusan Gerwani yang mendekat ke PKI, namun Trimurti aktif mengampanyekan ideologi Gerwani melalui surat kabar.

Sejak tahun 1960, ia aktif menulis di Harian Rakjat (surat kabar PKI) dan di Api Kartini (jurnal milik Gerwani) dengan nama pena Mak Ompreng. Kata “ompreng” menurut KBBI memiliki arti besek kecil tempat menaruh nasi dan lauk pauk. Trimurti agaknya ingin bermain kata sambil memperjuangkan emansipasi serta hak-hak perempuan dalam pernikahan dengan cara jenaka khas rakyat kecil.

Menurut Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan (2010: hlm. 341), kolom Mak Ompreng ditulis dari perspektif ibu rumah tangga paruh baya dari kelas bawah. Trimurti membawakan Mak Ompreng dengan gaya bahasa rakyat yang sederhana tapi sangat tajam. Ia pun tak jarang menyembur kelakuan para pejabat, bahkan mengkritik Presiden.

“Kolom Mak Ompreng yang dimuat di Api Kartini maupun Harian Rakjat merupakan satu-satunya tempat [bagi Gerwani] untuk mengkritik Presiden Sukarno secara terbuka,” tulis Wieringa. Berbagai Sumber

Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *