Kirab Budaya dan Ketokohan Sosok Prabu Anom

FOKUSLINTAS.com – Tradisi ziarah di punden Prabu Anom dimulai dari kirap yang mengusung sesaji serta dua gunungan. Satu gunungan berupa hasil bumi dan gunungan jajan pasar. Kegiatan ritual ini dibanjiri ribuan pengunjung yang menyaksikan jalannya prosesi budaya karena di akhir prosesi ada rebutan gunungan.

Bersih Desa dan Ziarah Makam Prabu Anom dengan kirab sesaji gunungan hasil bumi dilakukan oleh ribuan warga Desa Doko, Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Tradisi ini merupakan warisan budaya leluhur yang terus dipertahankan dan dilestarikan. Mulai dari anak kecil, remaja hingga dewasa masyarakat desa Doko dan sekitarnya tumplek blek di sepanjang jalan mengikuti jalannya kirab.

Pelaksanaan kegiatan Ritual Ziarah Makam Prabu Anom dan Bersih Desa Doko memang merupakan tradisi yang terus dijaga warga setiap memasuki Bulan Suro. Ini dikarenakan keberadaan Desa Doko saat ini tidak lepas dari peran dan jasa Ki Ageng Doko dan Prabu Anom.

Menurut sejarah setempat, Desa Doko pada awalnya merupakan hutan belantara. kemudian Raja Kediri, Sri Aji Jayabaya (1200 M) menugaskan Ki Ageng Doko untuk menjadikannya daerah pertanian yang subur dan makmur. Waktu berlalu akhirnya jadilah daerah tersebut wilayah yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo atau sumberdaya alam melimpah dan keadaanya tenang serta aman sentausa.

Oleh Raja Jayabaya daerah tersebut dinamakan Doko dan Ki Ageng Doko diangkat menjadi Patih Kerajaan Kediri. Suatu waktu Prabu Anom inilah yang selanjutnya mampu mengatasi pagebluk atau bencana yang dihadapi Kerajaan Kediri.

“Sebetulnya makam di sini bukan merupakan pemakaman Sang Prabu Anom tapi merupakan pamuksan atau tempat muksanya atau terakhir keberadaan Sang Prabu dalam memerangi Pagebluk di tempat tersebut,” ujar Agus, salah satu panitia ritual, di Kediri.

Karena yang dihadapi adalah roh maka Prabu Anom dengan kesaktiannya mukso meninggalkan raga fisiknya untuk memerangi. Singkat cerita berkat Prabu Anom kerajaan Kediri menjadi aman dan tentram kembali.

Ritual bersih Desa disini sudah menjadi tradisi turun temurun, sehingga warisan leluhur ini tidak bisa lepas dari kehidupan warga desa untuk menghormati leluhurnya.(*)

Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *