Nasib Honorer K2 Klaten Menunggu Kebijakan Pusat

FOKUSLINTAS.com–Nasib 296 tenaga honorer kategori 2 (K2) Klaten yang dinyatakan lulus hasil seleksi CPNS tahun 2013 silam, sampai saat ini masih belum ada kejelasan. Disisi lain, Pemkab Klaten menyatakan masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat.

Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Klaten Surti Hartini mengatakan pemkab sifatnya menunggu kebijakan pusat. Kewenangan penerbitan Nomor Induk Pegawai (NIP) dari Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional I Yogyakarta.

“Klaten menunggu kebijakan pusat dulu. Kita juga sudah mengirimkan surat ke Menpan RB untuk minta tindaklanjuti itu,” ujarnya, Selasa (08/10/2019).

Ratusan honorer itu sebetulnya sudah dinyatakan lulus dalam penerimaan CPNS 2013 lewat formasi khusus honorer K2. Namun hingga kini mereka belum diangkat. Mereka lantas mengajukan gugatan ke PTUN Yogya dengan tergugat Kepala Kantor BKN Regional I Yogya. 

Dalam gugatan itu honorer K2 dinyatakan menang, namun BKN mengajukan banding di tingkat PTTUN Surabaya dan kasasi di tingkat Mahkamah Agung (MA). Dari semua upaya hukum itu dimenangkan oleh honorer K2. Isi putusannya, BKN wajib menerbitkan NIP untuk honorer K2.

“Disitu BKN beralasan formasi CPNS tahun 2013 dulu itu sudah hangus. Karena formasi hanya berlaku pada tahun itu juga. Maka dari itu ini kita menunggu kebijakan daei Menpan RB,” urai dia.

Pihaknya mengaku, BKN sebaiknya segera meneribatkan NIP-nya. Kemudian dari situ BKPPD Klaten membuatkan SK CPNS. Sedangkan Menpan RB mengeluarkan formasi baru. Nanti formasi CPNS itu dikirimkan ke BKPPD Klaten, selanjutnya diusulkan ke BKN.

Sementara itu salah satu tenaga honorer K2, Bayu Nurcahyanto berharap kepada instansi yang berwenang agar segera menerbitkan NIP. Sejak lulus tes ia sudah menunggu selama 4,5 tahun karena belum diangkat sampai saat ini. Padahal kelulusan itu sudah berkekuatan hukum tetap.

Awalnya terdapat 296 tenaga honerer yang lulus seleksi namum belum diangkat. Satu per satu dari mereka kemudian pasrah dan tinggal menyisakan 273 orang. Alasannya beragam, mulai dari sudah bekerja di tempat lain, ikut suami maupun istri merantau, ada juga sudah meninggal dunia.

“Kami sudah lama menunggu dan sudah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Kami benar- benar berharap bisa ada kejelasan,” pungkasnya.(Srt)

Editor : Awi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *