Soal Wayang Karya Para Wali untuk Syiar Islam

FOKUSLINTAS.com – Begitu kekuasaan rezim Orde Baru runtuh (1998) dan memasuki orde reformasi, angin kebebasan tak bisa dibendung lagi, seakan berhembus kencang sekali, mirip puting beliung. Sepertinya, kekuatan apa saja tak mampu menahan angin kebebasan yang telah tertahan dan mengakumulasi selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru.
Salah satu bagian ”tanggul” pembatas ”stabilitas nasional” ala Orde Baru yang ikut jebol diterjang angin kebebasan, adalah seni pedalangan atau seni pakeliran wayang kulit.

Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com yang mengikuti perjalanan seni pakeliran di masa transisi Orde Baru ke Orde Reformasi itu mencatat, salah satu
contoh yang jebol akibat terjangan angin reformasi itu adalah ”bubar”nya beberapa organisasi yang mewadahi aktivitas seni pedalangan/pakeliran, yang struktural adalah Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia), begitu juga Sekretariat Nasional Wayang Indonesia (Senawangi).

Sebagai catatan, khusus untuk Pepadi, lambat-laun berbenah diri dan banyak pengurus cabang di beberapa daerah melakukan konsolidasi, dan berdiri lagi. Namun, kebangkitan organisasi di tingkat cabang yang jumlahnya hanya beberapa itu, karena harus melalui tahapan panjang dan berat, berhadapan dengan verifikasi administratitf, legal formal dan profesional seperti yang disyaratkan Kemendagri.

Kebangkitan Pepadi di beberapa cabang, macam Solo, yang ingin tetap eksis dan terus menjalankan ”misi” pelestarian seni pedalangan dengan biaya APBD, menjadi cerita lain yang menarik dicermati secara terpisah. Namun, kebangkitan seni pedalangan secara umum dan yang berkait dengan esensi seni pertunjukan, lebih mendasar dan urgen untuk dicermati karena pernah disebut sebagai media atau wahana untuk memberi tontonan dan tuntunan kehidupan secara luas.

Benar Adanya

Apalagi mengingat, bangsa ini masih butuh setetes air dari celah mata air peradaban/budaya Jawa ini, guna membasahi dahaga batin di tengah suasana kehidupan yang makin kering dan gersang.

wayang-jadi-tuntunan2
BERBAGAI PENGHARGAAN : Ki Manteb Soedarsono menunjukkan beberapa penghargaan yang mengalir dari berbagai di usianya ke-71 tahun dalam tiga tahun terakhir, karena ketokohan dan keteladannya, terutama dalam menjelaskan makna tuntunan dalam seni pedalangan.

Menteri Penerangan di Era Orde Baru Harmoko yang sangat dikenal khususnya di lingkungan masyarakat seni pedalangan secara luas pernah menyebut, wayang (kulit) atau seni pakeliran/pedalangan, nyata-nyata telah menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan secara luas.

Tak hanya wujud yang digelar berupa gamelan yang ditabuh secara orkestra dan memiliki struktur sajian yang urut dan runtut, kelir (layar) sampai sepanjang 10 meter yang berhias simpingan anak wayang yang digerakkan oleh figur dalang, diiringi konser karawitannya, perpaduannya itu melahirkan sebuah struktur satu kesatuan sajian seni dengan kaidah estetika sangat tinggi.

Dari sisi estetika harmoni sajian antara iringan (karawitan) dengan yang diiringi (dalang/wayang) saja, mampu membangun suasana yang indah, karena karawitan yang tersaji secara urut mulai dari pathet 6 (bagian awal/pembuka), pathet 9 (bagian tengah) dan pathet manyura (bagian akhir/penutup). Para empu yang ”berkolaborasi” dengan para Wali ketika mencipta susunan struktur sajian seni pertunjukan wayang, memberi makna yang sangat dalam dan tajam, yaitu menuntun rasa batiniah menuju ke titik yang paling tinggi atau Yang Maha Agung, Sang Pencipta Jagat dan kehidupan ini.

Dari sisi itu saja, makna yang hendak diberitahukan para empu yang di dalamnya ada Wali Sanga ketika syiar Islam, bertujuan mengingatkan titah ing arcapada atau makhluk hidup di dunia ini agar selalu ingat pada pencipta dunia dan kehidupan ini. Maksudnya, bagi manusia yang disebut dalam kitab agama apapun sebagai makhluk yang paling sempurna, setiap saat harus ingat asal-usulnya atau sangkan-paraning dumadi, mengapa dan untuk apa diciptakan dan bagaimana serta kemana akan kembali ke asalnya itu?

wayang-jadi-tuntunan3
MAKNA FILOSOFI : Tokoh raksasa yang selalu dikonotasikan jahat oleh publik macam yang diperlihatkan Ki Manteb Soedarsono, ketika dalam pertunjukan wayang bisa dijelaskan sisi keteladannya yang baik, yang bisa menjadi tuntunan khalayak luas.

”Lakon Dewa Ruci, ketika Bratasena bertemu dengan guru sejatinya yang Dewa Ruci, yang dibahas dalam dialog dua tokoh itu adalah tiga hal itu. Tiga hal itu adalah intisari dari ajaran Islam yang disisipkan para Wali ke dalam seni pakeliran. Lakon Dewa Ruci itu tidak ada dalam kitab Maha Bharata. Itu murni karya para empu, terutama Wali Sanga. Karena lakon itu muncul setelah Keraton Demak (abad 14), kerajaan Islam pertama di Jawa,” jelas Ki Manteb Soedarsono, dalang kondang penyandang haji yang masih laris sebagai dalang, bintang iklan maupun berceramah tentang Islam di berbagai tempat dengan referensinya sebagai maestro dalang.

Hajadan yang Simbolik

Awak media yang bertandang dan ngobrol dengan dalang yang kreatif dan inspiratif di kediamannya Desa Doplang Sekiteran, Karangpandan, Karanganyar, kemarin, Ki Manteb sempat menceritakan pengalamannya terakhir, saat diundang Presiden Jokowi untuk menggelar wayang kulit di halaman Istana Presiden, Jakarta, 2 Agustus. Dalang yang masih cukup banyak job pentasnya di usia 71 tahun itu bahkan menunjukkan sejumlah penghargaan yang diterimanya dalam tiga tahun terakhir ini.

Dari berbagai hal yang diungkapkan, kalimat ”tontonan dan tuntunan” itu tetap menonjol jadi bahan diskusi antara penulis, tuan rumah dan seorang teman wartawan senior media nasional yang bertugas di Solo, yang sore itu ikut bertamu.

Kedatangan penulis dan tema diskusi seakan menjadi pas, karena petang itu Ki Manteb bersiap-siap menggelar hajatan ulang tahun ke 71, yang berbareng dengan syukuran istrinya, Nyi Suwarti yang baru saja pulang menunaikan ibadah haji, serta aqiqah cucunya berusia 3 bulan dari anaknya kelima, Danang Suseno.

wayang-jadi-tuntunan4
TELADAN KERUKUNAN : Melihat dua dalang senior (Ki Anom Suroto) dan Ki Manteb Soedarsono) tertawa lepas dalam di pentasweton malam Selasa Legen di rumahnya, beberapa waktu lalu, bisa jadi tuntunan karena simbol kerukanan yang positif bagi publik secara luas.

Hal yang memperkuat pendapat dalang konvensional, senior, profesional sekaligus penyandang haji itu, tentu resepsi hajadan yang akan digelarnya, yang tentu memberi banyak penjelasan secara simbolik. Terutama, bagaimana seorang dalang yang memiliki sikap religius Islam, ketika berulangtahun sekaligus menyambut hari kelahirannya Selasa Legi, dengan menggelar pengajian, mengundang ustadz untuk mengisi tausyiah. Beberapa tahun lalu, peringatan ultah khususnya weton Selasa Legi di rumahnya, selalu tersaji dalam rangkaian antara pentas wayang kulit yang diselipi tausyiah, tetapi belakangan sajian pentas wayang ditiadakan karena terlalu sedikit yang menonton. Mengapa?

Definisi yang Berbeda

Bertolak dari sekilas profil pribadi Ki manteb dan munculnya pertanyaan ”mengapa?”, tentu sangat berkait dengan persoalan kalimat ”wayang sebagai tontonan dan tuntunan” itu. Artinya, berkaca dari sosok figur Ki Manteb, sudah selayaknya pertunjukan seni pedalangan yang digelar di manapun, yang tak terbatas wilayah etnik maupun tak terbatas wilayah bangsa, sudah tidak perlu meragukan lagi kata ”tuntunan”.

Memasuki Orde Reformasi gejala-gejala untuk mempersoalkan kata itu mulai bermunculan, terlebih seakan menjadi ”gerakan menentang” oleh kelompok tertentu menjelang Pilkada DKI (2017), karena definisi ”tuntunan” yang dimiliki/diyakini kelompok itu mungkin saja berbeda dengan diksi tentang ”tuntunan” yang selama ini berlaku di kalangan publik secara luas, khususnya masyarakat seni pedalangan.

wayang-jadi-tuntunan5
SIMBOL TUNTUNAN : Tampilnya Ki Manteb Soedarsono di ajang pentas Ki Purbo Asmoro di Alkid Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu, merupakan contoh kerukunan di kalangan dalang yang bisa menjadi simbol tuntunan bagi piblik secara luas.

”Suatu saat saya pernah bertemu ulama Habib Rizieq Shihab di rumah Habib Luthfi di Pekalongan yang sedang punya hajad. Saya sempat berdiskusi, tentu saja soal wayang. Ketika saya menyebut lakon Dewa Ruci itu, beliau malah menyatakan bahwa ajaran yang tersirat dalam lakon itu justru ada ayat-ayat yang menjadi tuntunannya,” sebut Ki Manteb yang pernah diberi nama ”Dalang Setan”, dalam buku yang mengisahkan ketrampilan sabetnya mirip kecepatan gerak setan itu.

Melihat dua sumber yang sama-sama menyebut kata ”tuntunan” itu, seakan memberi terang dan menjadikan jelas perbedaan konotasi dan fungsi masing-masing. Dan sebenarnya jelas pula, bahwa ”tuntunan’ yang dimaksud dalam seni pakeliran mungkin bersinggungan satu sama lain dalam konotasi yang positif, beda persoalannya ketika yang memberi makna beberapa dalang lain, yang selama ini dikenal punya reputasi kasar/buruk dalam ”sanggit” khususnya olah ”cucut”, ketika bertugas di depan kelir menjalankan profesinya. (Sam)

Editor : Awi

Kont : Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *