Masjid Pathok Negoro Plosokuning dan Sejarahnya

FOKUSLINTAS.com – Diantara Masjid Pathok Negoro, Masjid Sulthoni Plosokuning termasuk yang relatif masih terjaga keaslian serta tradisinya. Ciri yang paling menonjol dari masjid ini salah satunya adalah keberadaan kolam yang mengelilingi masjid.

Masjid Plosokuning berlokasi di Jalan Plosokuning Raya No. 99, Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Terletak sekitar 9 kilometer ke arah utara dari Keraton Yogyakarta. Masjid ini didirikan pada tahun 1757-1758, berdiri di atas tanah sultan ground seluas sekitar 2.500 m2.

“Karena Masjid Plosokuning yang usianya cukup lama serta masih terjaga keasliannya maka ditetapkan sebagai cagar budaya. Penetapan itu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY pada tahun 2010,” tutur Kamaludin Purnomo selaku Ketua Takmir Masjid Plosokuning.

Hampir seluruh arsitektur bangunan masjid ini tidak ada perubahan, 80% bangunannya masih asli. Hanya perbaikan-perbaikan kecil dari masjid yang dilakukan oleh pengurus masjid.

Latar Belakang Sejarah Masjid  Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro Plosokuning tidak bisa dilepaskan dari pendirian Keraton Yogyakarta. Dalam perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi memperoleh wilayah sebelah barat Kali Opak. Ia kemudian mendirikan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Selain itu dibangun pula masjid-masjid sebagai benteng pertahanan. Itulah kenapa disebut sebagai Pathok Negoro.

Masjid berarsitektur kuno ini merupakan peninggalan Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Raja Keraton Yogakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Asal kata plosokuning konon katanya berawal dari adanya pohon ploso yang unik karena urat daunnya berwarna kuning. “Dulu katanya memang ada pohon ploso yang daunnya berwarna kuning. Pohon itu sekarang sudah tidak ada, contohnya yang mungkin masih ada di Kantor Dinas Kebudayaan,” ujar Kamaludin Purnomo.

Kegiatan-Kegiatan di Masjid Plosokuning

Aktivitas di masjid Plosokuning yaitu berupa kegiatan seperti kajian tematik setiap malam Rabu, mengundang penceramah asli dari warga Plosokuning. Kemudian ada juga kegiatan semaan Al-Quran.

Selain itu ada kegiatan rutin yaitu musik gambus yang mendirikan serta yang tergabung di dalamnya adalah pemuda dan remaja masjid. Remaja masjid di Plosokuning bernama Angkatan Muda Pathok Negoro.

Sistem pengelolaan masjid seperti perawatan masjid yang bersifat besar dilakukan langsung oleh Dinas Kebudayaan. Sedangkan perawatan bersifat kecil serta kegiatan dikelola oleh pengurus masjid. Semua itu tetap masih dalam pantauan dari Keraton.

Dari segi sosial yaitu masjid bukan hanya sebagai tempat untuk beribadah melainkan untuk tempat bermusyawarah maupun pernikahan. Masjid Plosokuning merupakan masjid bersejarah, maka banyak wisatawan dalam negeri maupun asing yang datang seperti dari Turki, Afrika, dan Jepang. Bahkan mahasiswa asing non muslim dari Amerika sempat mengikuti sekaligus belajar rebanan di masjid ini.

Masjid Plosokuning saat ini memiliki dua abdi dalem yang mengelola masjid dibantu oleh takmir masjid dan pengurus lainnya. “Rencananya setelah dikonfirmasi, abdi dalem keraton masjid Plosokuning akan ditambah sebanyak 52 orang,” ungkap Purnomo ketika ditemui di kediamannya. (Amanda Chintyasari Idris, Komunikasi Penyiaran Islam UMY)

Editor : Awi

(Kj-Fl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *