Makan Buat Hidup, Bukan Hidup Buat Makan

FOKUSLINTAS.com – Ada orang bilang, makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Kenyataannya, banyak orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk makan, makan, dan makan.


Jika hewan hanya mencari makan untuk memenuhi kebutuhannya secukupnya, manusia mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kompleks.

Beberapa hewan hanya makan sekali untuk kemudian tidur dalam waktu lama, sebelum akhirnya bangun dan mencari makan lagi.

Beberapa hewan mengumpulkan makanan sebagai persediaan untuk digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Di masa lalu, manusia berburu untuk mendapatkan makanannya. Setelah makanan habis, baru manusia berburu lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perkembangan jaman dan perubahan pola hidup dari nomaden atau berpindah-pindah menjadi menetap, membuat manusia mulai bercocok tanam dan beternak untuk mendapatkan sumber makanannya.

Sebenarnya pola-pola untuk mendapatkan sumber makanan pada masa awal peradaban manusia belum banyak berubah. Makanan didapatkan dan dihasilkan dari lokal atau lingkungan sekitarnya.

Penjajahan dan penjelajahan samudera mengubah peta geopolitik dan pola kuliner manusia. Yang tadinya makanan didapatkan dari sumber daya di sekitar, kini didapatkan dari tempat yang lain, bahkan jauh dari tempat asalnya.

Makanan tidak sekedar tentang bahan makanan, tapi juga bumbu atau rasa terhadap makanan itu sendiri agar tidak hambar atau berasa itu-itu saja.

Maka yang terjadi saat itu adalah peperangan dan penjajahan karena makanan. Tidak hanya makanan yang dimakan dalam arti sempit, tapi dalam arti luas, termasuk kopi, coklat, teh, tebu, dan rempah-rempah. Ini yang mewarnai dunia dalam beberapa abad.

Di masa kini, trend pun bergeser. Migrasi penduduk besar-besaran mengubah pola makan sebagian orang tapi sebagian lain tidak berubah. Akibatnya bahan makanan dari tempat lain yang jauh didatangkan dari asalnya untuk memenuhi diet yang berbeda. Terbayang harga yang mahal, perjalanan, angkutan, dan kesulitan yang ditempuh untuk mendatangkan bahan makanan dari jauh.

Maka makanan tidak sekedar makanan. Ia adalah komoditi yang menghidupi dan menggerakkan perekonomian suatu negara.

Meskipun demikian, masih saja tetap terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Si kaya yang makan berbagai macam makanan impor yang mahal dari luar negeri yang kadang tidak habis dan terbuang percuma vs si miskin yang terpaksa mengorek-ngorek sampah karena tidak punya makanan.


Seandainya manusia hanya mengambil makanan yang bisa ia makan dan memberikan sisanya pada orang yang membutuhkan, mungkin kita tidak mengalami krisis pangan dan kelaparan.

[Wikan/Tim]

Editor : Awi

Kont : Fl

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *