Jejak Ki Ageng Pengging dan Kisah Berakhirnya Kerajaan Majapahit

Kisah Ki Ageng Pengging dan Misteri Akhir Kerajaan Majapahit

Foto: Istimewa

 

FOKUSLINTAS.com – Kehadiran Ki Ageng Pengging tak hanya muncul dalam lintas sejarah yang terlupakan di Kerajaan Majapahit. Sosoknya beserta para pengawal setia kerajaan begitu tersohor. Tak banyak yang mengenal secara spesifik keberadaan Ki Ageng Pengging. Bersama para pengikutnya, mereka banyak memakai nama samaran yang bisa hadir di berbagai kawasan untuk bisa bergumul dengan banyak orang.

Dalam penelusuran di Babad Tanah Jawi, nama aslinya adalah Raden Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara dan adiknya bernama Kebo Amiluhur.

Ketiganya merupakan putra pasangan Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging Sepuh yang juga disebut sebagai Sayyid Muhammad Kabungsuwan. Sementara ibunya bernama Retno Pembayun. Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara.

Dia diangkat menjadi Bupati Pengging karena berjasa dalam menemukan Retno Pembayun, salah satu putri dari Brawijaya, Raja Majapahit yang sempat diculik Menak Daliputih.

Kehadiran Ki Ageng Pengging tiba-tiba mencuat setelah Pemkot Surabaya melakukan renovasi pada kompleks makam Ki Ageng Pengging yang berada di Jalan Ngagel 87 Surabaya. Setidaknya ada 28 makam yang ada di dalam kompleks pemakaman yang memiliki luas sekitar 20×20 meter tersebut.

Camat Wonokromo Tomi Ardianto menuturkan, awalnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa kali melewati Jalan Ngagel dan melihat adanya kompleks pemakaman. Pihaknya mendapat instruksi untuk melakukan survei dan mencari informasi ke lokasi tersebut.

“Setelah kita survei bersama Lurah Ngagel dan bertemu dengan juru kunci makam, ternyata ada Makam Ki Ageng Pengging di situ,” kata Tomi.

Pada kompleks pemakaman tersebut juga terdapat 27 makam lain. Jika ditotal, ada 28 makam, 16 sudah tercatat dan 12 belum diketahui identitasnya secara detail. Makam tersebut, diduga masih ada keturunan atau hubungan dengan Prabu Brawijaya V dan para pengawal Kerajaan Majapahit.

“Kondisinya waktu kita survei, pohonnya masih rimbun dan banyak dedaunan. Akhirnya kemudian kita lakukan kerja bakti bersama,” ucapnya.

Pemkot Surabaya pun langsung menggadakan rapat pertemuan dengan ahli waris atau pemilik persil bersama pakar sejarah.

Dari hasil pertemuan itu, pihak keluarga atau ahli waris menyambut baik rencana pemkot menjadikan kompleks pemakaman itu sebagai cagar budaya. Bahkan, ahli waris juga siap menghibahkan persil tersebut kepada Pemkot Surabaya.

“Pihak keluarga menyambut baik dan bersedia menghibahkan. Mereka juga menyetujui jika kompleks makam itu dijadikan cagar budaya. Ini sudah proses berjalan renovasi, jadi beberapa mulai diperbaiki, seperti atap dan akses jalan,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, untuk langkah awal ini kompleks pemakaman tersebut bakal ditetapkan dahulu sebagai cagar budaya. Pihaknya mengaku sudah bertemu dan berkoordinasi dengan ahli waris atau pemilik persil.

“Baru mau kita proses ke cagar budaya. Kami baru ketemu ahli warisnya, dan mereka setuju akan hal itu,” kata Antiek.

Ia melanjutkan, sebelum kompleks pemakaman itu ditetapkan sebagai cagar budaya, Pemkot Surabaya membutuhkan berkas-berkas sebagai pendukung. Makanya, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan ahli waris dan pakar sejarah.

“Kalau dihibahkan kan kita butuh berkas-berkas pendukung untuk kemudian kita jadikan cagar budaya. Kita komunikasikan terus dengan pihak ahli waris,” ujarnya.

Setidaknya ada 16 makam yang sudah tercatat di dalam kompleks pemakaman tersebut. Salah satunya Ki Ageng Pengging, Mbah Endang, Mbah Wali Peking, Mbah Aji Rogo, Mbah Wongso, Mbah Prabu, Mbah Purbo, Mbah Suryo Kuninga, Mbah Boyo, Mbah Ronggo, Mbah Moh. Kojin, Mbah Saleh, Mbah Ibrahim, Mbah Sapu Jagat, Mbah Sigit dan Mbah Kafal Buntung. Sedangkan 12 makam lainnya, masih belum diketahui sejarahnya.

Mashuri, salah satu ahli waris yang juga sebagai juru kunci kompleks pemakaman tersebut selama tujuh tahun ini dipercaya untuk menjaga dan merawat kompleks pemakaman itu.

Menurutnya, dalam sejarah makam, nama-nama yang tertulis di batu nisan adalah nama kiasan. Jika dalam istilah Jawa Pewayangan, disebut ‘Samar’. Identitas sebenarnya sulit untuk diungkap dalam rentetan sejarah.

“Pengging adalah wilayah, nama sebenarnya Kebo Kenongo (Ayah dari Joko Tingkir). Sedangkan nama-nama di luar punden, adalah orang-orang pelindung kerajaan atau disebut juga prajurit,” kata Mashuri.* [Awi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *