OPINI: Ora Usah Kegedhen Empyak Kurang Cagak

Kadiv Jasa Usaha Eko Saputro dan Kadiv Hukum Subagyo SH MH. Foto : (dok/DPC BPAN LAI Sragen-Fokuslintas.com)

 

 

FOKUSLINTAS.com – Saya teringat dengan pepatah jawa yang disebut Kegedhen Empyak Kurang Cagak. Arti sebenarnya adalah atap rumah yang terlalu besar sementara tiangnya kurang.. benarkah?

Bila kita membuat atap yang ukurannya besar tapi jumlah tiang-tiangnya kurang, atap tetap bisa berdiri tapi lama kelamaan ambruk bila hujan lebat atau terkena angin kencang. Karena berat atap nggak mampu disangga oleh tiang-tiangnya.

Pepatah di atas juga bisa diartikan seseorang yang ingin tampil mewah dan dianggap wah oleh lingkungan sekitarnya. Namun tidak didukung oleh kemampuan dirinya yang sebenarnya. Kemampuan itu bisa dalam bentuk keuangan, kesehatan atau pengetahuan.

Dalam bahasa Indonesia pepatah tersebut kurang lebih sama artinya dengan Besar Pasak daripada Tiang. Namun peribahasa tersebut lebih ditujukan pada seseorang yang memiliki pengeluaran lebih besar daripada pendapatan atau penghasilannya.

Ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari istilah tersebut. Bahwa kita seharusnya memperhitungan dengan matang sebelum berinvestasi. Boleh-boleh saja kita menanamkan uang untuk menambah penghasilan atau menjaga penampilan.

Namun jangan sampai kebablasan sehingga malah menghabiskan uang dan tabungan kita. Karena dalam berumah tangga, selain investasi masih ada kebutuhan lainnya yang harus kita penuhi. Mulai dari belanja kebutuhan sehari-hari, membayar tagihan air, listrik, telepon, biaya sekolah anak-anak, cicilan kendaraan dan rumah, tabungan untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal di luar rencana, juga alokasi untuk asuransi.

Pepatah Kegedhen Empyak Kurang Cagak yang pernah saya dapatkan ketika SD sekitar 30 tahun lalu ternyata hingga saat ini masih relevan.

Sebuah ajaran yang mengingatkan agar kita jangan terjebak dengan kehidupan yang mengutamakan gengsi yang akhirnya justru mengorbankan kondisi keuangan kita. Jangan sampai bergaya hidup glamor karena ingin tersohor, akhirnya malah bikin tekor.

 

(Kdv. Eko Saputro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *