OPINI: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku, Dudu Mung Logika Semu

Foto : Eyang Prapto. (Fokuslintas.com)
FOKUSLINTAS.comNgelmu iku (mencari ilmu itu), kelakone (tercapainya), kanthi laku (lewat proses atau perjalanan lahir batin). Menurut pandangan jawa, ngelmu berbeda dengan ilmu. Ngelmu adalah ajaran batin untuk bekal hidup di dunia dan akhirat.
Ajaran tersebut akhirnya menjadi penuntun bagi seseorang dalam berperilaku. Oleh karena itu, untuk memperolehnya pun memerlukan kekuatan batin serta penghayatan pribadi, bukan dengan aktivitas logika melulu.

Sedangkan ilmu, adalah pengetahuan yang dikemas secara sistematis, disusun berdasarkan metodologi tertentu yang berlandaskan nalar atau logika.

Menurut kepercayaan Jawa, untuk mendapatkan ngelmu, seseorang harus menggunakan olah roso, batin, atau laku pribadi.

Upaya tersebut jelas berbeda dengan mencari ilmu yang harus duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi atau ngobrol ngalor ngidul dirumah saja. Ngelmu hanya bisa dikuasai setelah dilakoni (dilaksanakan), dengan tindakan nyata. Bukan hanya jagongan dirumah dan sambil ngopi saja.
Jadi, bukan sekadar dipelajari seperti matematika, melainkan harus dipraktikkan sebagaimana ibadah dan puasa. Biasanya, ngelmu didahului dengan puasa atau tapa brata, yang prinsipnya membersihkan jiwa dan raga dari segala nafsu duniawi.
Misalnya, jangan suka berbohong, jangan menipu, jangan mengingkari janji, jangan sombong, jangan menghina orang, tirakat, menepi, tapa brata, perjalanan spiritual dan lain-lain.
Dalam menjalani lelaku tersebut diperlukan meneng (fisiknya diam), hening (batin-rasa-pikiran yang bening), eling (sadar), dan awas (waspada). Semoga jadi bermanfaat bersama untuk pangeling-eling khususnya praktisi spiritual, bahwasanya Ngelmu harus dengan laku. Ngelmu harus berani melangkah dalam spiritual. Orang punya Ngelmu bisa mengemban amanat Guru dan Setia.
Ingat….!! Tak kan ada kemuliaan dan disebut orang hebat apabila seorang berilmu tidak berdamping dengan orang hebat pula.
Jadi, Ngelmu selain laku juga dituntun Guru, bukan sak penak udele dewe gawe ukoro lan boso. Wes gatuke wong linuwih iku sing kang gentur laku, dudu wong kang adol suworo ananging Gondo alus wae durung iso mambu. Ojo kegeden angen-angen yen durung nglakoni sak jroning lakuning jasad mateni kabeh howo papat kiblat. Ora ono ceritane wong turu lan jagongan mung ning omah wahyune lumampah.
(Eyang Prapto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *