KOLOM: Pendidikan Via Online Sampai Kapan ?

Komunikasi anak sistem belajar melalui jejaring online. Foto: ilustrasi

 

FOKUSLINTAS.com – Tak terasa sistem pendidikan berbasis online atau daring (dalam jaringan) telah berjalan setahun hingga kini belum ada kepastian kapan sekolah-sekolah mulai memberlakukan kembali sistem belajar mengajar dengan tatap muka.

Wabah virus covid 19 yang melanda di seluruh dunia telah merubah berbagai tatanan perilaku hidup dan kehidupan manusia, hampir semua aktivitas banyak yang dilakukan di rumah. Tak sedikit instansi pemerintah maupun swasta yang karyawannya mengerjakan pekerjaan dari rumah (work from home), beli kebutuhan sehari-hari melalui media online, tak luput pula mau tidak mau, siap tidak siap sistem belajar mengajarpun harus mengalami perubahan karena pandemi.

Dari hasil pantauan fokuslintas.com, banyak anak-anak yang mengatakan bosan dan tak sedikit yang banyak mengerjakan soal tugas sekolah adalah ibunya. Tak ada lagi interaksi fisik antar anak-anak, bermain dan bercanda bersama, komunikasi mereka hanya melalui jejaring online. Bagaimana kualitas yang dihasilkannya nanti?

Mampukah sekolah menghasilkan output yang kualitasnya sama dengan anak-anak yang dulu belajar dengan tatap muka? Hanya guru dan orang tua anak yang bisa mengetahuinya.

Menurut orang tua anak, yang keduanya bekerja, mereka benar-benar merasa tidak bisa memantau proses belajar mengajar anaknya, apakah efektif atau tidak ? Jelas berbeda kalau dengan tatap muka, guru yang sudah kita percaya akan dapat mengawasi, memantau, mengontrol dan mengarahkan semua perilaku anak didiknya.

Sampai kapan pandemi covid 19 ini berakhir? Atau sampai kapan program vaksinasi rampung untuk seluruh masyarakat Indonesia? Sehingga harapan orang tua untuk mempercayakan perkembangan pendidikan anaknya di sekolah sesuai dengan harapan kedua orang tua anaknya.

Menurut pengamatan, kalau banyak kantor bisa melakukan secara bergantian separuh ngantor dan separuh kerja di rumah atau work from home (WFH), mestinya sekolahpun bisa menerapkannya separuh WFH, separuh masuk sekolah, agar minimal anak bisa berinteraksi dengan guru dan teman-teman sekolahnya.

Oleh: Danny T. S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *