Mengenal Sosok “Buto Cakil”, Disebut Sisi Lain dari Ketokohan Sang Arjuna

Buto CAKIL atau Gendir Penjalin, berwujud raksasa dengan gigi tonggos berpangkat tumenggung. Foto: ilustrasi/net

FOKUSLINTAS.com – Bagi para penggemar wayang purwa pasti sudah tidak asing lagi dengan tokoh Buto Cakil. Tokoh yang hampir selalu ada dalam setiap cerita atau lakon apapun. CAKIL atau Gendir Penjalin, berwujud raksasa dengan gigi tonggos berpangkat tumenggung. Mengutip dari berbagai sumber dan kompasiana, tokoh Cakil hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa dan selalu dimunculkan dalam perang kembang, perang antara satria melawan raksasa yang merupakan lambang nafsu angkara murka.

Suatu malam, seperti biasanya saya menyempatkan diri nongkrong di angkringan belakang rumah. Menikmati kopi sambil ngobrol khas angkringan, terbuka, demokratis dan ceplas-ceplos. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan tidak terduga dari teman saya, “Cakil itu anaknya siapa ?”.

Hmm…, siapa orang tuanya Si Cakil ini. Saya mikir ini pertanyaan ada jawabannya tidak. Pasti ada, bukankah setiap tokoh wayang mempunyai silsilah yang jelas tentang asal-usulnya. Tapi bagaimana dengan nasib Si Cakil ini, tidak pernah sekalipun saya mendengar Pak Dalang dalam suluknya menerangkan riwayat ini tokoh. Apa mungkin Cakil ini dulunya yatim piatu tapi karena kemampuannya dalam berperang ia diangkat menjadi bangsawan di negara para raksasa.

Karena rasa penasaran yang teramat sangat, saya mencoba bertanya pada beliau-beliau yang ahli dalam dunia pewayangan. Tapi tidak satupun yang secara jelas bisa menjawab siapa bapak dan ibunya Cakil. Hingga akhirnya perjalanan saya untuk mencari tahu orang tuanya Cakil sampai di Jogja. Bertemulah saya dengan teman lama, beliau tidak dikenal sebagai ahli wayang bahkan gayanya boleh dikatakan slengekan tapi menurut pendapat saya hanya Beliau yang mampu dengan jelas menerangkan siapa orang tuanya si Cakil. Keterangannya ini bisa jadi salah namun paling tidak menurut saya ada cerita yang jelas tentang asal-usul cakil.

Cakil adalah anaknya Arjuna dari Dewi Anggraeni. Lho kok bisa, bukankah dalam segmen perang kembang Cakil ini selalu bertarung dengan Arjuna ?? Iya, karena secara tidak langsung sebenarnya Si cakil ini ingin menuntut balas pada Arjuna yang tidak mau mengakuinya sebagai anak bahkan telah menelantarkannya sejak masih bayi. Kenapa bisa begitu, bukankah Arjuna seorang yang baik dan berjiwa ksatria ??

Begini ceritanya. Dulu waktu masih muda Arjuna berguru pada Resi Drona di Padepokan Sokalima. Karena Resi Drona ini sangat sakti dan luas pengetahuannya maka banyak sekali para raja dan ksatria yang ingin berguru padanya. Salah satunya adalah Raja Paranggelung, Prabu Palgunadi.

Namun setiap kali melamar untuk menjadi murid di Sokalima, sang raja ini selalu ditolak. Prabu Palgunadi tidak putus asa, dia tidak pulang ke istananya tapi mendirikan kemah ditengah hutan dekat Sokalima. Dengan ditemani Dewi Anggraeni, istrinya yang sangat cantik jelita, Prabu Palgunadi membuat sebuah patung menyerupai Resi Drona.

Di depan patung tersebut sang raja terus berlatih memanah seakan ia dibimbing langsung oleh Maharesi Drona. Kabar ini sampailah ke Resi Drona dan Arjuna. Kemudian diadulah dua jago panah yang sama-sama mengaku berguru pada Resi Drona tersebut.

Ternyata Arjuna kalah, hal ini menjadikan Arjuna marah dan mulai memprovakasi Resi Drona untuk menyingkirkan Prabu Palgunadi bagaimanapun caranya.

Demi menjaga nama baik perguruan disanggupilah permintaan Arjuna oleh Resi Drona dengan cara meminta Prabu Palgunadi untuk memotong jari manisnya yang terdapat cincin sakti sebagai persembahan untuknya. Prabu Palgunadi menurut karena rasa hormatnya pada Resi Drona yang sudah dia anggap sebagai guru sejatinya. Singkat cerita terbunuhlah Prabu Palgunadi di tangan Arjuna dengan segala kelicikannya.

Tidak hanya sampai disitu, ternyata Arjuna juga menginginkan Dewi Anggraeni menjadi istrinya. Lalu dengan alasan ingin mengantarkan sang Dewi pulang ke istananya, Arjuna mendapat kesempatan untuk mendekati Dewi Anggraeni. Tapi sial bagi Arjuna karena sang Dewi begitu setia pada suami yang telah mati. Dia lebih baik mati bunuh diri daripada menjadi istri orang lain. Segala bujuk rayu Arjuna keluarkan tapi wanita tersebut tetap teguh pendiriannya.

Habis kesabaran Arjuna akhirnya dengan paksaan berhasil juga dia lampiaskan nafsunya pada sang dewi. Ditinggalkan ditengah hutan dalam keadaan hamil membuat hidup sang dewi sangat menderita dan diliputi kebencian serta dendam yang sangat mendalam pada Arjuna.

Setelah berhasil melahirkan bayinya, Dewi Anggraeni meninggal dunia. Bayi yang dilahirkannya berwujud raksasa sebagai lambang nafsu bejat Arjuna dan dendam sang Dewi. Kelak kemudian hari bayi inilah yang dipanggil Cakil, anak hasil pemerkosaan Arjuna pada Dewi Anggraeni.

Demikianlah teman, saya sudah berusaha menjawab pertanyaan dari obrolan angkringan kita. Benar tidaknya saya sendiri juga tidak tahu.*

 

Kont: Mei

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *